Asteroid Raksasa Menuju Bumi, Ilmuwan Ketar-ketir

INFORMASI.COM, Jakarta - Badan antariksa dunia sedang mengamati asteroid raksasa yang menuju bumi.
Benda langit itu membuat ilmuwan khawatir karena berpotensi bertabrakan dengan Planet Biru delapan tahun lagi.
Dikutip dari Science Alert, Minggu (2/2/2024), International Asteroid Warning Network (IAWN) sedang mengawasi Asteroid 2024 YR4. Asteroid dinilai berpotensi menghantam bumi pada 2032.
“Ini adalah salah satu kemungkinan tertinggi akan adanya kejadian benturan dari batu berukuran besar yang pernah ada,” kata seorang ilmuwan bernama Catalina Sky Surey David Rankin di Bluesky.
Crew Dragon NASA Berhasil Berlabuh di ISS, Bawa Dua Kru Baru“Hasil ini paling mungkin dan nyaris menghantam," kata Catalina.
Menurut penelusuran Informasi.com dari berbagai sumber, asteroid itu berukuran lebar 40-100 meter. Ukurannya sama dengan yang pernah menghantam bumi ribuan tahun yang lalu sehingga menimbulkan kerusakan parah.
Ukuran asteroid itu mempunyai peluang yang sangat kecil untuk menghantam Bumi dalam 50 tahun ke depan. Meskipun demikian, ini sudah cukup untuk memicu prosedur pertahanan planet global.
IAWN akan mengoordinasikan organisasi-organisasi internasional untuk terus memantau 2024 YR4 serta perkembangan strategi bagi pemerintah dunia mempersiapkan diri menghadapi hantaman dan konsekuensinya.
“Langkah pertama dalam respons pertahanan planet adalah memicu pengamatan lebih lanjut,” kata astronom Colin Snodgrass dari Universitas Edinburgh, kepada The Guardian.
Misi NASA ke Bulan Jupiter Ditunda Akibat Badai Milton“Pengamatan ini mengesampingkan kemungkinan ada dampak dan langkah selanjutnya dalam pengukuran karakterisasi yang rinci menggunakan teleskop, dan pembahasan tentang adanya pembahasan antariksa dalam misi pengintaian yang rinci. Akhirnya, jatuh pada misi mitigasi," lanjut Snodgrass.
Sekadar informasi, asteroid 2024 YR4 pertama kali terlihat oleh teleskop di Rio Hurtado, Cile, pada 27 Desember 2024
Menurut ilmuwan, meskipun tidak menimbulkan bencana global, tabrakan ini bisa memicu kerusakan parah di wilayah yang ditabrak, yang berpotensi menjangkau 50 km dari lokasi benturan.
(Penulis: Hanun Rifda Arabella)
Komentar (0)
Login to comment on this news