Gen Z Merapat! Catat Beberapa Tip Ini Sebelum Berinvestasi Kripto

INFORMASI.COM, Jakarta - Penurunan suku bunga acuan The Fed bisa menjadi momentum bagi investor untuk masuk ke pasar kripto. Meski begitu, investor baru, terutama Gen Z perlu memperhatikan beberapa hal sebelum berinvestasi ke aset kripto.
Seperti diketahui, beberapa hari lalu The Fed menurunkan suku bunga acuannya sebesar 50 Bps. Ini merupakan pemangkasan suku bunga untuk pertama kalinya sejak kebijakan pengetatan suku bunga The Fed pascapandemi Covid-19. Atas keputusan tersebut, suku bunga acuan The Fed kini berada di angka 4,75%-5%.
Menanggapi hal tersebut, Founder dan CEO of Triv Exchange & Veiris Gabriel Rey mengatakan pemangkasan suku bunga tersebut berimplikasi kepada likuiditas baru masuk ke pasar saham dan aset kripto.
“Harga saham dan kripto pasti akan naik ketika ada rate cut,” kata gabriel kepada Fakta.com, Jumat (20/9/2024).
Ambil Alih Pengawasan Aset Kripto, OJK Antisipasi Risiko dari P2P Lending IlegalKendati ada peningkatan harga pada aset kripto, Gabriel mengungkap banyak investor yang gagal memanfaatkan momentum tersebut.
“Kebanyakan orang-orang itu salahnya mereka beli ketika rate cut sudah terjadi sehingga harganya sudah meningkat terlebih dahulu,” ujarnya.
Menurut Gabriel, idealnya investor 1-2 minggu sebelumnya sudah mulai masuk ke membeli aset kripto secara bertahap. Hal ini agar investor tidak terlambat membeli aset kripto karena harganya sudah meningkat terlebih dahulu.
Gabriel juga menegaskan, meski pemangkasan suku bunga acuan The Fed dapat menjadi momentum untuk investor baru masuk ke pasar kripto, tetapi mereka harus memperhatikan beberapa hal, terutama untuk investor Gen Z.
“Kesalahan yang paling umum di Gen Z adalah mereka ingin cepat kaya, nah itu mindset yang sangat salah sehingga komposisi portofolionya acak-acakan,” kata Gabriel menjelaskan.
Uang Dingin, Dana yang Cocok untuk Investasi KriptoGabriel menuturkan, idealnya komposisi portofolio yang baik, 60% di antaranya harus berupa bitcoin. Menurutnya, hal tersebut perlu dilakukan agar saat terjadi koreksi pasar, maka nilainya tidak akan jatuh hingga 2-3 kali.
“Jadi 60%-nya bitcoin, baru sisanya boleh cari yang aneh-aneh, tapi jangkarnya tetap harus bitcoin,” katanya menambahkan.
Terakhir, Gabriel menegaskan meskipun hal tersebut kurang menarik, tetapi itu dapat membuat portofolio menjadi lebih stabil menghadapi cuaca di pasar kripto.
“Kalau saya boleh saran ke semua Gen Z yang ingin masuk ke aset ini, 60% portofolio jangkarnya harus di bitcoin, baru sisanya carilah koin lain yang berpotensi,” pungkas Gabriel.
Komentar (0)
Login to comment on this news