Indonesia Kerja Sama Trans Pacific, Target Ekspor Naik 10%

INFORMASI.COM, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan bahwa Indonesia telah resmi memulai proses aksesi ke dalam perjanjian perdagangan bebas Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).
"Kami telah mengajukan permintaan resmi kepada Selandia Baru untuk memulai proses aksesi Indonesia ke dalam CPTPP," ujar Airlangga dalam konferensi pers pada Rabu (27/9/2023).
Menurut Airlangga, proses aksesi ini telah melalui persiapan panjang dan merupakan kelanjutan dari penyampaian niat Indonesia untuk bergabung dalam forum Wakil Kepala Negara (WK) di Jepang beberapa waktu lalu.
"Aksesi ini tidak hanya akan memperkuat posisi Indonesia di CPTPP, tetapi juga melengkapi proses aksesi kita ke Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)," katanya menambahkan.
Airlangga menjelaskan bahwa Indonesia akan bergabung dengan beberapa negara seperti Tiongkok, Taiwan, dan Australia yang juga sedang dalam proses aksesi.
Beberapa Jawaban Kenapa Ekspor Pasir Laut Tak Perlu DilanjutIa menekankan bahwa langkah Indonesia masuk ke CPTPP sangat tepat waktu, mengingat Inggris akan menjadi negara pertama yang masuk dalam CPTPP pada Desember mendatang, setelah melalui proses selama 2,5 tahun.
Dengan bergabungnya Indonesia dalam CPTPP, pemerintah menargetkan peningkatan nilai ekspor minimal 10% dari posisi saat ini.
"Jika kita berhasil masuk CPTPP, ekspor Indonesia berpotensi naik hingga 10%. Ini penting karena saat ini neraca perdagangan kita berada di level tertinggi sepanjang sejarah," katanya.
Meski demikian, Airlangga mengingatkan bahwa keterlibatan Indonesia dalam CPTPP bukan tanpa tantangan.
Salah satunya adalah potensi peningkatan impor yang dapat mempengaruhi industri dalam negeri.
"Perdagangan itu dua sisi, ekspor dan impor, kalau ekspor doang namanya bukan trade," kata Airlangga saat ditanya awak media.
Ekspor Masih Kencang, RI Lanjutkan Surplus Neraca DagangLebih jauh, Airlangga menilai bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk memulai proses aksesi ke CPTPP.
Dengan pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan mencapai 3,5%, ia yakin bahwa Indonesia dapat memanfaatkan pemulihan ekonomi global pasca-pandemi COVID-19.
Selain itu, sektor tekstil dan garmen yang menyerap banyak tenaga kerja juga akan mendapatkan keuntungan dari tarif masuk yang lebih rendah di pasar internasional.
"Saat ini kita dikenakan tarif masuk 20 hingga 40% di banyak negara. Dengan bergabungnya kita ke CPTPP, tarif ini bisa lebih rendah sehingga ekspor kita bisa meningkat lebih besar," tutupnya.
Komentar (0)
Login to comment on this news