Meski Ikut Nambang, Muhammadiyah Klaim Tetap Dukung Transisi Energi

INFORMASI.COM, Jakarta - Dalam mengawal transisi hijau, PP Muhammadiyah meluncurkan buku bertajuk Fikih Transisi Energi Berkeadilan. Dalam peluncuran buku tersebut, Jumat (27/9/2024), Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah Muhammad Azrul Tanjung mengatakan hal tersebut merupakan obat penghapus kekecewaan masyarakat atas keputusan Muhammadiyah mengelola tambang energi fosil.
Azrul mengungkap, peluncuran buku ini diharapkan mampu melahirkan diskusi, kajian, dan riset lanjutan terkait upaya transisi energi.
“Kita harapkan buku ini nanti menjadi sebuah petunjuk untuk bagaimana kita melakukan terobosan-terobosan untuk energi baru dan terbarukan,” ujar Azrul.
Dalam kesempatan itu, Azrul sedikit berkelakar bahwa peluncuran buku ini merupakan komitmen Muhammadiyah memberikan obat untuk menghilangkan kekecewaan masyarakat atas keputusan Muhammadiyah belakangan terkait pengelolaan tambang ormas.
“Saya sangat paham kenapa banyak teman-teman yang kecewa, tapi sudah lah. Sebagai obatnya, mari kita hari ini dan seterusnya betul-betul memikirkan serta melakukan diskusi-diskusi, kajian-kajian, riset untuk bagaimana energi baru terbarukan ini menjadi sebuah solusi.” pungkas Azrul.
Muhammadiyah Siapkan Infrastruktur dan SDM untuk Kelola TambangHadir pada acara tersebut, Sekjen Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Sahid Junaidi mengapresiasi langkah Muhammadiyah untuk berpartisipasi dalam mengawal proses transisi energi.
Pasalnya, Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi terbesar yang mampu mengamplifikasikan ide transisi energi dengan luas.
“Artinya kami optimis bahwa umat islam di dalam mendukung transisi energi ini akan lebih mantap lagi sehingga bisa lebih masif dan target jangka panjang kita di tahun 2060 untuk menuju net zero emission itu bisa tercapai,” kata Sahid.
Muhammadiyah Optimistis Bisa Kelola Tambang Ramah LingkunganSeperti diketahui, di jangka menengah pemerintah memiliki target untuk menurunkan emisi karbon sebesar 915 juta ton CO2eq yang mana salah satu penyumbang terbesar emisi karbon adalah sektor energi. Artinya, upaya transisi energi menjadi salah satu hal yang penting.
Apalagi jika melihat data penggunaan energi, di tengah upaya transisi energi justru penggunaan energi fosil kian meningkat.
“Di situ terlihat bahwa (bauran energi) batu bara dari tahun 2019 29%, sampai sekarang sudah 39%,” pungkas Sahid.
Komentar (0)
Login to comment on this news