Pertumbuhan Ekonomi, di Antara Middle Income Trap dan Urgensi Reindustrialisasi

INFORMASI.COM, Jakarta - Indonesia bisa keluar dari middle income trap sebelum tahun 2045. Caranya, pertumbuhan ekonomi perlu diakselerasi setidaknya sampai tingkat rata-rata 6%-7%.
Namun, dengan rata-rata ekonomi Indonesia yang stagnan di angka 5%, apakah target tersebut dapat dicapai?
Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh CORE Indonesia, Rabu (16/10/2024), Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, pihaknya sudah menuangkan trajektori pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tertuang dalam RPJMN (2025-2029).
"Trajektori tersebut merupakan panduan ancang-ancang pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk mencapai rata-rata 6%-7% dalam 20 tahun ke depan," kata Amalia.
Target pertumbuhan ekonomi tidak pernah tercapai
Namun, Indonesia punya tren tidak berhasil mencapai target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan dalam RPJMN. Hal tersebut disampaikan oleh Ekonom Senior Awalil Rizky dalam sebuah diskusi, Selasa (15/10/2024).
Rerata Pertumbuhan Ekonomi RI 2024-2026 hanya 4,9 Persen, Ini Kata Bank DuniaMenurut pemaparannya, jika dibandingkan dengan target RPJMN 2015—2019 dan 2020—2024 yang ditetapkan oleh pemerintah di awal masing-masing periode, realisasi pertumbuhan ekonomi tidak ada yang pernah menyentuh target tersebut. Adapun tahun ini, target yang ditetapkan dalam RPJMN sebesar 6,2%-6,5%.
“Target pertumbuhan tahun ini juga dipastikan tidak akan tercapai,” ujar Awalil.
Urgensi reindustrialisasi
Amalia menuturkan, untuk menciptakan lompatan pertumbuhan ekonomi yang besar diperlukan peningkatan produktivitas. Dalam hal ini, industrialisasi menjadi anchor dan backbone untuk pertumbuhan ekonomi di jangka panjang, peningkatan produktivitas, dan penciptaan lapangan pekerjaan berkualitas.
Menurutnya, selama ini struktur tenaga kerja masih didominasi oleh sektor informal dengan persentase di kisaran 59%. Amalia mengatakan, Indonesia harus bisa mengalihkan sektor informal ini untuk bekerja ke dalam sektor formal yang lebih produktif dan berkualitas.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mendorong kembali sektor manufaktur. Seperti diketahui, saat ini kontribusi sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi terus mengalami penurunan. Hal ini merupakan indikasi terjadinya deindustrialisasi prematur.
“Supaya share manufaktur meningkat, maka sektor industri manufaktur harus tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi,” ucap Amalia.
Menakar Urgensi Reindustrialisasi Agar Pertumbuhan Ekonomi Terbang TinggiNamun, sayangnya pertumbuhan sektor industri manufaktur triwulan II-2024, mencapai 3,89%. Dengan pertumbuhan ekonomi di periode tersebut sebesar 5,05%, artinya manufaktur tumbuh lebih rendah. Maka, share-nya terhadap perekonomian akan menurun pula.
Di samping itu, Founder CORE Indonesia, Hendri Saparini juga memiliki perhatian yang sama. Menurut pemaparannya, selama ini rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung mengalami penurunan.
“Jadi kalau kita bisa simpulkan pertumbuhan ekonomi kita sangat medioker, kemudian juga sangat eksklusif. Padahal, yang dibutuhkan adalah tinggi dan inklusif,” ujar Hendri.
Ia juga mengatakan, revitalisasi industri menjadi hal yang penting saat ini, setidaknya atas dua alasan. Pertama, tren deindustrialisasi prematur yang kian terlihat semakin menjauhkan Indonesia dari cita-cita keluar dari middle income trap.
Sri Mulyani Optimistis Industri Manufaktur Kembali BangkitPasalnya, menurut pemaparan Hendri, negara yang ingin meningkatkan produktivitasnya hingga menjadi negara maju, setidaknya memiliki share sektor manufaktur terhadap ekonomi di atas 30%.
“Tanpa itu tidak bisa menciptakan pekerjaan, value added, dan struktur industri yang lebih kuat,” kata Hendri menjelaskan.
Kedua, tren meningkatnya sektor jasa di Indonesia bukan menunjukkan sudah matangnya sektor manufaktur. Justru, hal ini menurut Hendri menunjukkan sulitnya ketersediaan lapangan kerja formal akibat deindustrialisasi.
Pernyataan tersebut juga diamini oleh Amalia. Menurutnya, sektor jasa yang berkembang saat ini merupakan jasa berproduktivitas rendah.
“Karena kita masih pecahannya adalah sektor jasa yang lebih informal,” kata Amalia menambahkan.
Sebagai informasi, Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia dalam kondisi terkontraksi. Per September 2024, angkanya naik tipis ke 49,2 dari 48,9 di bulan Agustus.
Dalam rilisnya, S&P Global menyebutkan bahwa penurunan kinerja PMI utamanya menggambarkan penurunan bulanan pada output dan pesanan baru selama bulan September dan telah berjalan selama tiga bulan berturut-turut.
Menurut Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, ekonomi dunia hingga akhir triwulan III-2024 memang masih mengalami perlambatan. Namun begitu,
bila melihat beberapa negara peers, PMI manufakturnya menunjukkan kondisi industri yang ekspansi, meskipun mereka mengalami kondisi pasar global yang sama dengan Indonesia.
Negara-negara yang masih berada di level ekspansi misalnya Filipina (53,7), India (56,7), dan Thailand meskipun sudah di border (50,4).
“Meskipun ada sedikit kenaikan pada PMI manufaktur bulan September, namun kondisinya masih kontraksi. Agar bisa kembali ekspansif, sektor industri membutuhkan dukungan regulasi yang tepat dari berbagai Kementerian/Lembaga, sehingga industri dalam negeri bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Agus.
Komentar (0)
Login to comment on this news