Mata Uang Rusia Jeblok ke Level Terendah terhadap Dolar AS, Mengapa?

INFORMASI.COM, Jakarta - Mata uang Rusia, rubel, terpuruk ke level terendah terhadap dolar AS sejak invasi besar-besaran ke Ukraina. Penurunan tajam ini diduga kuat akibat sanksi baru yang diberlakukan Amerika Serikat serta tanda-tanda tekanan ekonomi akibat perang yang berkepanjangan.
Dikutip dari Global News, Kamis (28/11/2024), Bank Sentral Rusia mengumumkan telah menghentikan pembelian mata uang asing untuk sisa tahun 2024. Langkah ini dilakukan setelah rubel melemah melampaui 110 rubel per dolar AS, mencatat penurunan hingga sepertiga sejak Agustus.
"Keputusan ini diambil untuk mengurangi volatilitas pasar keuangan," tulis pernyataan Bank Sentral Rusia.
Biden Izinkan Ukraina Gunakan Rudal AS untuk Serang RusiaSalah satu penyebab rubel melemah adalah sanksi baru dari AS yang diberlakukan terhadap Gazprombank dan enam anak perusahaannya.
Sebelumnya, bank tersebut berperan penting dalam pembayaran gas alam Rusia ke luar negeri. Namun, dengan Eropa yang kini memiliki pasokan alternatif, ketergantungan pada gas Rusia menurun drastis.
"Sanksi ini akan menyulitkan Kremlin menghindari sanksi yang ada dan mendanai militernya," jelas Departemen Keuangan dan Luar Negeri AS.
Wakil CEO VTB, Dmitry Pyanov, menilai sanksi terhadap Gazprombank memiliki dampak signifikan terhadap nilai tukar rubel. Hal ini disebabkan oleh hilangnya akses Gazprombank sebagai saluran utama pengiriman mata uang asing ke Bursa Moskow.
Sementara itu, Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov, menyatakan bahwa pelemahan rubel sebenarnya menguntungkan eksportir Rusia. "Rubel yang lemah memberikan nilai lebih untuk produk ekspor kami," ujar dia dalam sebuah konferensi di Moskow.
Namun, dampak ekonomi yang lebih luas mulai terlihat. Inflasi tahunan mencapai delapan persen, sementara pengeluaran besar-besaran untuk perang meningkatkan tekanan ekonomi domestik. Kenaikan suku bunga acuan menjadi 21 persen oleh bank sentral dinilai belum cukup untuk menekan inflasi.
Sebut Tiongkok Sekutu, Rusia Dukung Kebijakan tentang Taiwan"Pemerintah membayar gaji tinggi untuk merekrut tenaga kerja perang, yang justru mendorong inflasi," kata seorang profesor di University of British Columbia. Lisa Sundstrom.
Rubel yang terus melemah dapat memperburuk inflasi di Rusia. Menurut estimasi bank sentral, setiap pelemahan 10% mata uang dapat meningkatkan inflasi sebesar 0,5 persen. CEO Macro-Advisory Ltd., Chris Weafer, menyebut kebijakan kenaikan suku bunga bank sentral sebagai jeritan dalam melawan stagflasi, yaitu kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi rendah.
Dengan lebih dari sepertiga anggaran 2025 dialokasikan untuk militer, perekonomian Rusia diperkirakan tetap tertekan selama perang berlangsung. Sundstrom menambahkan bahwa setelah perang berakhir, Rusia mungkin menghadapi tantangan ekonomi baru, termasuk bagaimana mengelola tentara yang telah menerima gaji besar selama konflik.
Komentar (0)
Login to comment on this news