- Home
- Internasional
- Kepala Advokasi Suriah Ungkap Dugaan Kuburan Massal di Dekat Damaskus
Kepala Advokasi Suriah Ungkap Dugaan Kuburan Massal di Dekat Damaskus

INFORMASI.COM, Jakarta - Sebuah kuburan massal ditemukan di dekat Damaskus diduga berisi jenazah lebih dari 100.000 korban yang dibunuh oleh rezim mantan Presiden Suriah, Bashar al-Assad. Temuan ini diungkapkan oleh Mouaz Moustafa, Kepala Syrian Emergency Task Force, dalam sebuah wawancara telepon dengan Reuters, Senin (12/11/2024).
Dikutip dari Arab News, Rabu (18/12/2024), Moustafa memberitahukan Lokasi kuburan tersebut terletak di al-Qutayfah, sekitar 40 kilometer di utara ibu kota Damaskus. Moustafa menyebut tempat ini adalah salah satu dari lima lokasi kuburan massal yang telah berhasil ia identifikasi selama bertahun-tahun.
"Angka 100.000 adalah perkiraan paling konservatif. Ini adalah perkiraan yang sangat, sangat konservatif, bahkan hampir tidak adil,"ujar Moustafa.
Kemlu: Ada 65 WNI yang Sudah Dievakuasi dari SuriahMoustafa meyakini masih ada banyak kuburan massal lain di Suriah yang belum ditemukan. Ia juga menambahkan, korban tidak hanya berasal dari warga Suriah, melainkan termasuk warga negara asing seperti Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara lain. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.
Dalam keterangannya, Moustafa menjelaskan bahwa jenazah korban diduga diangkut dari rumah sakit militer oleh cabang intelijen angkatan udara Suriah sebelum dipindahkan ke lokasi kuburan. Jenazah-jenazah tersebut diangkut menggunakan truk kontainer berpendingin yang dikendalikan oleh kantor pemakaman pemerintah Damaskus.
"Kami berbicara dengan orang-orang yang pernah bekerja di kuburan massal ini, yang berhasil melarikan diri dari Suriah atau yang kami bantu untuk melarikan diri," tambah Moustafa
Lebih lanjut, Moustafa menuturkan bahwa beberapa pengemudi buldoser dipaksa menggali kuburan besar dan bahkan diperintahkan menekan jasad-jasad tersebut agar muat sebelum menutupnya dengan tanah.
Sementara itu, dugaan keterlibatan rezim Assad dalam eksekusi massal telah lama menjadi sorotan. Assad dan ayahnya, Hafez Assad, yang memimpin Suriah hingga tahun 2000, dituduh oleh berbagai pihak, termasuk organisasi hak asasi manusia, melakukan eksekusi di luar hukum selama beberapa dekade.
Pemerintah Suriah hingga kini membantah semua tuduhan pelanggaran hak asasi manusia tersebut. Assad menyebut pihak-pihak yang mengkritik pemerintahannya sebagai kelompok ekstremis. Duta Besar Suriah untuk PBB, Koussay Aldahhak, tidak memberikan komentar terkait laporan ini.
Moustafa tiba di Suriah setelah rezim Assad runtuh akibat serangan kilat kelompok pemberontak yang berhasil mengakhiri lebih dari 50 tahun kekuasaan keluarga Assad. Dalam kunjungannya, ia menyerukan perlunya pelestarian lokasi kuburan massal tersebut sebagai bukti untuk penyelidikan di masa depan.
"Lokasi ini harus dilindungi agar bukti-bukti kejahatan ini tidak hilang," tegas Moustafa.
Sekadar informasi, perang saudara di Suriah yang dimulai sejak 2011 telah menewaskan ratusan ribu orang dan menyebabkan jutaan warga mengungsi. Konflik ini bermula dari tindakan keras Assad terhadap demonstran yang menentang pemerintahannya sebelum akhirnya berkembang menjadi perang berkepanjangan.
(Penulis: Aria Indra Darmawan)
Komentar (0)
Login to comment on this news