- Home
- Internasional
- Kecelakaan Pesawat Jeju Air Diduga karena Tabrakan dengan Burung
Kecelakaan Pesawat Jeju Air Diduga karena Tabrakan dengan Burung

INFORMASI.COM, Jakarta - Pesawat Jeju Air gagal mendarat di Bandara Internasional Muan, Korea Selatan. Pesawat itu tergelincir dan keluar dari landasan pacu, lalu menghantam pagar pembatas.
Diduga kecelakaan itu terjadi akibat tabrakan dengan burung.
Dikutip dari Euro News, Senin (30/12/2024), kecelakaan itu terjadi pada Minggu (29/12/2024). Peristiwa itu mengakibatkan 179 orang dari 181 penumpang meninggal dunia.
"Semua, kecuali 2 dari 181 orang di dalam pesawat itu tewas dalam salah satu bencana penerbangan terburuk di negara itu," ujar badan pemadam kebakaran Korea Selatan.
Rincian korban jiwa itu adalah 4 orang awak kabin dan sisanya penumpang. Sementara itu, dua orang yang selamat adalah awak kabin.
Sekadar informasi, pesawat Jeju Airlines itu adalah Boeing 737-800 yang berumur 15 tahun. Pesawat itu sedang dalam perjalanan kembali dari Bangkok, Thailand.
Pihak pemadam kebakaran mengerahkan 32 unit mobil pemadam dan beberapa helikopter untuk memadamkan api. Tidak hanya itu, 1.569 petugas pemadam, polisi, tentara, dan pejabat lainnya juga dikerahkan ke lokasi.
Azerbaijan Duga Pesawat Jatuh Akibat Rudal RusiaRekaman kecelakaan yang disiarkan oleh saluran TV Korea Selatan memperlihatkan pesawat Jeju Air meluncur melintasi landasan udara dengan kecepatan yang sangat tinggi. Roda pendaratannya pun masih tertutup.
Pesawat itu melewati landasan pacu, lalu bertabrakan dengan dinding pagar beton. Tabrakan ini memicu ledakan.
Berdasarkan siaran TV, terlihat gumpalan asap hitam tebal yang mengepul dari pesawat yang dilalap api.
Diduga Tabrakan dengan Burung
Kepala Pemadam Kebakaran Muan, Lee Jeong-hyeon, berkata bahwa pesawat hancur total dan hanya bagian ekor yang masih bisa dikenali. Petugas sedang menyelidiki beragam kemungkinan penyebab kecelakaan, termasuk tabrakan dengan burung.
Menurut pejabat Kementerian Perhubungan, pada penilaian awal, catatan komunikasi antara menara pengawas bandara dengan pesawat menyebut ada peringatan tabrakan dengan pesawat sesaat sebelum mendarat. Menara pengawas memberikan izin kepada pilot untuk mendarat di area yang berbeda.
"Pilot mengirimkan sinyal marabahaya sesaat sebelum pesawat melewati landasan pacu dan tergelincir melintasi zona penyangga sebelum menabrak dinding," ujar seorang pejabat.
Pejabat senior Kementerian Perhubungan, Joo Jong-wan, mengatakan para pekerja sudah mengambil data penerbangan dan perekam suara kokpit dari black box pesawat. Data ini akan diperiksa untuk menyelidiki penyebab kecelakaan dan kebakaran.
Joo berkata Bandara Muan akan ditutup hingga 1 Januari 2025.
Maskapai Minta Maaf
Pesawat Azerbaijan Airlines Jatuh, 38 Orang Meninggal DuniaDalam konferensi pers, maskapai Jeju Air meminta maaf atas kecelakaan ini. Maskapai ini akan berusaha "semaksimal mungkin untuk menangani dampak dari kecelakaan itu."
Presiden Jeju Air, Kim E-bae, beserta pejabat eksekutif perusahaan, membungkuk dan meminta maaf kepada keluarga yang ditinggalkan.
Pihaknya akan menunggu hasil investigasi pemerintah terkait insiden ini.
Pihak Boeing sudah menghubungi Jeju Air dan siap membantu perusahaan dalam penanganan kecelakaan.
"Kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga yang kehilangan orang tercinta serta para penumpang dan awak kabin," ujar Boeing.
Sekadar informasi, ini adalah salah satu bencana yang paling mematikan dalam sejarah penerbangan Korea Selatan.
Terakhir kali, kecelakaan pesawat Korea Selatan yang menelan banyak korban jiwa adalah pesawat Korean Airlines jatuh di Guam pada 1997 dan menewaskan 228 orang Kemudian, pada 2013, Asiana Airlines mendarat darurat di San Fransisco. Insiden itu mengakibatkan 3 orang tewas dan 200 orang terluka.
(Penulis: Hanun Rifda Arabella)
Komentar (0)
Login to comment on this news