Masalah Tidur Orangtua Jadi Tanda Awal Alami Demensia

INFORMASI.COM JAKARTA - Sebuah penelitian menemukan bahwa orang lanjut usia yang gampang mengantuk dan tidak termotivasi mungkin mengalami sindrom pra demensia. Sindrom itu bisa berkembang menjadi demensia.
Dikutip dari Science Alert, Kamis (21/11/2024), para peneliti Albert Einstein College of Medicine di New York menemukan ada hubungan antara masalah tidur orang lanjut usia dengan tanda-tanda risiko kognitif motorik (motoric cognitive risk/MCR).
Tanda-tanda sindrom MCR yang dikaitkan pada penelitian ini adalah masalah ingatan dan tempo berjalan yang lebih lambat.
Cegah Gejala Demensia, Jemaah Lansia Diimbau Hindari Kelelahan dan DehidrasiPenelitian yang hasilnya sudah dipublikasikan dalam jurnal Neurology, melibatkan 445 orang dengan rata-rata usia 76 tahun. Para peserta tidak mengalami demensia.
Selama tiga tahun, para peserta rutin mengisi kuesioner mengenai kemampuan mengingat, pola tidur, dan aktivitas sehari-hari. Sementara kecepatan berjalan mereka diukur menggunakan alat treadmill.
Ditemukan bahwa 35,5% peserta yang mengalami kantuk berlebih pada siang hari dan tidak bersemangat beraktivitas, mengalami sindrom MCR.
Dari penelitian ini, disimpulkan bahwa dua tanda tersebut merupakan gejala awal seseorang mengalami sindrom MCR meskipun belum ada bukti hubungan langsung. Kondisi ini juga menjadi tiga kali lebih mungkin terjadi setelah memperhitungkan usia, jenis kelamin, dan beberapa masalah kesehatan lainnya seperti depresi.
Temuan ini lalu dikaitkan dengan temuan sebelumnya yang menyebut bahwa penderita MCR memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar terkena demensia. Para peneliti menekankan orang lanjut usia dengan gejala tersebut untuk melakukan skrining dini sebagai intervensi pencegahan potensi terhadap penurunan kognitif.
Pria di AS Mendadak Jenius setelah Alami Gegar OtakHasil penelitian ini juga bisa membantu tim medis untuk lebih cepat mendeteksi adanya risiko demensia sehingga langkah pencegahan dapat segera dilakukan. Para peneliti optimistis prademensia bisa dicegah dengan diagnnosis sedini mungkin.
Peneliti utama dan ahli geriatri, Victoire Leroy, mengatakan bahwa penelitian ini masih membutuhkan pendalaman.
“Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hubungan masalah tidur dan penurunan kognitif,” kata Leroy.
(Penulis: Yasmin Shofa)
Komentar (0)
Login to comment on this news