AI Bisa Prediksi Kejahatan Sebelum Terjadi?

INFORMASI.COM, Jakarta - Ada sebuah penelitian menarik tentang kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI). Ternyata, AI bisa memprediksi kejahatan yang belum terjadi dengan tingkat akurasi 90%.
Dikutip dari Wired, Rabu (4/12/2024), tim yang dipimpin Ishanu Chattopadhyay, seorang asisten profesor di Fakultas Kedokteran University Chicago dan Profesor James Evans, menggunakan data kejahatan historis yang tersedia di domain publik untuk memprediksi kejadian masa depan di area perkotaan seluas 1.000 kaki persegi. Teknologi ini didemonstrasikan menggunakan data dari delapan kota di AS, termasuk Los Angeles, Philadelphia, dan Chicago.
Search GPT, Mesin Pencari dengan Teknologi AI akan Jadi Pesaing Google'“Kami menemukan pola dalam catatan kejadian, menerapkan pola tersebut untuk menghitung risiko suatu kejadian di masa yang akan datang, pada lokasi tertentu," kata Chattopadhyay.
Penelitian yang terbit di jurnal Nature Human Behaviour, menyebutkan bahwa tim menganalisis data kejahatan selama 3-5 tahun. Data ini dirancang menjadi model prediksi masa depan.
"Model kami belajar, lalu memprediksi pola peristiwa di ruang kota," kata dia.
Sebagai contoh, dalam radius dua blok di sekitar persimpangan jalan 67th Street dan SW Avenue (nama jalan di AS), ada risiko tinggi pembunuhan seminggu dari sekarang.
"Itu tidak menunjukkan siapa yang akan menjadi korban atau pelaku," kata Chattopadhyay.
Indonesia-Microsoft Jajaki Peluang Pengembangan Teknologi AIPenelitian ini tidak hanya berfokus kepada individu, tetapi juga secara keseluruhan. Dengan menggunakan kemampuan AI, tim bisa memahami cara sistem sosial yang kompleks merespons beragam faktor di kota. Sebagai contoh, peningkatan atau penurunan angka kejahatan dalam batas geografis tertentu.
Dalam laporan penelitian, Chattopadhyay dan tim menemukan bahwa respons penegakan hukum berbeda di daerah yang status ekonomi sosial tinggi dengan yang rendah. Saat angka kejahatan meningkat, lingkungan dengan status ekonomi dan sosial yang tinggi, akan lebih banyak mendapatkan perhatian.
Para peneliti berharap penelitian ini bisa digunakan oleh pembuat kebijakan untuk mengalokasikan anggaran atau strategi kepolisian.
(Penulis: Hanun Rifda Arabella)
Komentar (0)
Login to comment on this news