Mengapa DeepSeek Membuat Dunia AI Ketar-ketir?

INFORMASI.COM, Jakarta - Belakangan ini, kemunculan DeepSeek menggegerkan dunia teknologi. Bahkan, teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berbiaya rendah memicu ketidakpastian pasar terhadap dominasi teknologi AS di bidang AI.
Dikutip dari Quartz, Selasa (28/1/2025), saham teknologi perusahaan semikonduktor, Nvidia, terjun 15% pada perdagangan Senin (27/1/2025) dan kehilangan nilai pasar US$500 miliar (Rp8.116,76 triliun).
Tidak hanya itu, Indeks Nasdaq, yang sarat dengan saham teknologi, jatuh lebih dari 3%. Hal ini menyoroti kekhawatiran investor akan kedatangan DeepSeek.
Saham-saham terkait teknologi AI, seperti Microsoft, Alphabet (induk Google), dan Meta memerah. Sementara itu, Indeks S&P 500 turun 1,7% dan Dow Jones Industrial Average relatif datar.
Search GPT, Mesin Pencari dengan Teknologi AI akan Jadi Pesaing GoogleKehadiran DeepSeep, teknologi AI generatif asal Tiongkok, mendorong investor global untuk menilai kembali valuasi dan belanja modal di seluruh industri teknologi. Analis pasar senior di Trade Nation, David Morrison, mengatakan kehadiran model AI dengan harga yang kompetitif, memaksa pertimbangan ulang atas keuntungan dan investasi yang diantisipasi dalam teknologi.
Keunggulan DeepSeek yang Membuat Dunia AI Ketar-ketir
Dikutip dari Wired dan Scientific American, kemunculan salah satu model DeepSeek, DeepSeek-R1 sontak menjadi perbincangan di Silicon Valley. Menurut artikel yang ditulis oleh perusahaan itu, DeepSeek-R1 mengalahkan model-model terkenal di industri AI, seperti OpenAI o1 untuk tolok ukur matematika dan penalaran, Bahkan, banyak metrik penting, seperti biaya, kemampuan, dan keterbukaan model itu mengalahkan raksasa AI dari Barat.
Seorang profesor dari University of Technology Sydney, Marina Zhang, berkata perusahaan ini bisa lebih unggul karena merombak struktur dasar model AI dan menggunakan model sumber daya yang terbatas secara lebih efiesien.
Zhang berkata DeepSeek berfokus kepada pengoptimalan sumber daya yang digerakkan oleh perangkat lunak secara maksimal. Ditambahkan bahwa teknologi itu merangkul metode open source, menyatukan keahlian kolektif, dan mendorong inovasi kolaboratif.
Jadi Populer karena Murah
Indonesia-Microsoft Jajaki Peluang Pengembangan Teknologi AIAplikasi DeepSeek pun menjadi populer di AS. DeepSeek-R1 bisa diunduh secara gratis, sedangkan ChatGPT harus menggunakan biaya berlangganan US$200 (Rp3,25 juta) per bulan.
CEO AI Plano Intelligence, Ashlesha Nesarikar, berkata DeepSeek menggelontorkan uang US$6 juta (Rp97,4 miliar) untuk menyempurnakan model terbarunya.
Selain model R1 menggunakan chip NVIDIA H800 yang berdaya lebih rendah, peningkatan efisiensi energi membuat AI itu lebih gampang diakses orang. Keperluan daya komputasi yang lebih sedikit membuat biaya operasional DeepSeek menjadi sepersepuluh lebih murah daripada kompetitor.
"Bagi peneliti atau perusahaan startup, perbedaan biaya ini sangat berarti," kata asisten profesor di bidang sistem informasi dan manajemen operasional di Emory University, Hanchang Cao.
(Penulis: Hanun Rifda Arabella)
Komentar (0)
Login to comment on this news