Ironi Pendidikan Indonesia: Kuliahnya Apa, Kerjanya Apa...

Ironi Pendidikan Indonesia: Kuliahnya Apa, Kerjanya Apa...
Ilustrasi perguruan tinggi. Sumber: Pinterest

INFORMASI.COM, Jakarta - Pendidikan tinggi tidak selalu berujung pada pekerjaan yang membutuhkan tingkat pendidikan yang sama.

Berdasarkan Sakernas Agustus 2024 yang diolah BPS, 64,64% pekerja muda Indonesia berada pada pekerjaan yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Namun, 35,36% lainnya mengalami vertical mismatch. Dari kelompok tersebut, 22,36% tergolong overeducated, yakni memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi daripada yang secara umum dibutuhkan pekerjaannya, sedangkan 13,00% tergolong undereducated, yaitu memiliki tingkat pendidikan lebih rendah daripada kebutuhan pekerjaannya.

Dengan kata lain, lebih dari sepertiga pekerja muda Indonesia tidak berada pada tingkat pekerjaan yang selaras dengan tingkat pendidikan mereka.

Tabel 1 — Kesesuaian Pendidikan dan Pekerjaan Pemuda, 2024

Status Persentase
Sesuai (Matched) 64,64%
Overeducated 22,36%
Undereducated 13,00%
Total Mismatch 35,36%

Sumber: BPS, Cerita Data Statistik untuk Indonesia – Mismatch Pendidikan–Pekerjaan Pemuda Indonesia: Implikasi Bagi Bonus Demografi, berdasarkan Sakernas Agustus 2024.

Lebih dari sepertiga pekerja muda mengalami mismatch

Tabel 2 — Temuan Pendidikan dan Transisi ke Pekerjaan

Indikator Nilai
Pemuda berpendidikan SMA ke atas dalam kelompok penganggur 79,90%
Perubahan peluang memperoleh pekerjaan bagi pemuda berpendidikan SMA ke atas 24,50% lebih lambat*

Sumber: BPS, Cerita Data Statistik untuk Indonesia – Mismatch Pendidikan–Pekerjaan Pemuda Indonesia: Implikasi Bagi Bonus Demografi, Sakernas Agustus 2024.

Bukan cuma soal “salah jurusan”

Istilah overeducated perlu mendapat perhatian khusus.

Bayangkan seorang sarjana yang akhirnya bekerja pada posisi yang secara umum hanya mensyaratkan lulusan SMA. Secara formal ia memiliki pendidikan lebih tinggi daripada kebutuhan pekerjaan tersebut. BPS memasukkan kondisi seperti ini ke dalam kategori overeducated.

Sebaliknya, undereducated terjadi ketika seseorang bekerja pada posisi yang secara umum membutuhkan tingkat pendidikan lebih tinggi daripada pendidikan yang dimilikinya.

Lalu, apakah kuliah tinggi membuat seseorang lebih cepat mendapatkan pekerjaan?

Analisis BPS menunjukkan pemuda dengan pendidikan lebih tinggi justru cenderung mengalami waktu transisi menuju pekerjaan yang lebih panjang. Dalam analisisnya, pemuda dengan pendidikan terakhir SMA ke atas memiliki peluang 24,50% lebih lambat memperoleh pekerjaan dibandingkan kelompok pembanding dalam model tersebut. BPS juga mencatat bahwa pada 2024, 79,90% pemuda penganggur merupakan mereka yang berpendidikan SMA ke atas.

Tabel 3 — Mismatch dan Kecepatan Memperoleh Pekerjaan

Status Hasil Analisis
Overeducated 7,37% lebih cepat memperoleh pekerjaan
Matched Kelompok pembanding
Undereducated 10,26% lebih lambat memperoleh pekerjaan

Sumber: BPS, Cerita Data Statistik untuk Indonesia – Mismatch Pendidikan–Pekerjaan Pemuda Indonesia, analisis Cox Proportional Hazard, Sakernas Agustus 2024.

Catatan: angka -24,50% merupakan hasil model analisis BPS mengenai peluang/durasi mendapatkan pekerjaan, bukan berarti “24,5% lulusan SMA ke atas menganggur”.

Ironisnya, yang “kelebihan pendidikan” justru lebih cepat masuk kerja.

Temuan BPS yang paling menarik justru ada di sini.

Dalam analisis survival, pemuda yang sebelumnya mengalami overeducated memiliki peluang 7,37% lebih cepat kembali bekerja dibandingkan kelompok matched. Sebaliknya, pemuda undereducated memiliki peluang 10,26% lebih lambat.

Tabel 4 — Mismatch dan Upah

Indikator Nilai
Pekerja muda mengalami vertical mismatch 35,36%
Pekerja muda overeducated 22,36%
Pekerja muda undereducated 13,00%
Wage penalty pekerja overeducated Sekitar 7,57% lebih rendah*

Sumber: BPS, Cerita Data Statistik untuk Indonesia – Mismatch Pendidikan–Pekerjaan Pemuda Indonesia, Sakernas Agustus 2024.

Menurut BPS, salah satu penjelasannya adalah fleksibilitas sektor informal yang memungkinkan pemuda overeducated lebih cepat terserap. Namun, pekerjaan informal tersebut identik dengan upah lebih rendah, perlindungan terbatas, dan prospek yang kurang menjanjikan.

Masalahnya Tidak Berhenti ketika Sudah Bekerja

BPS juga menemukan adanya perbedaan upah berdasarkan status mismatch.

Dalam kajian tersebut, pekerja muda yang overeducated disebut menerima upah hingga sekitar 7,57% lebih rendah dibandingkan pekerja yang bekerja sesuai tingkat pendidikannya. BPS mengaitkan fenomena tersebut dengan potensi wage penalty dan stagnasi upah.

Bahkan tinggal di kota tidak otomatis membuat transisi kerja lebih mudah.

BPS menemukan bahwa pemuda yang tinggal di perkotaan memiliki peluang 17,19% lebih lambat memperoleh pekerjaan dibandingkan pemuda yang tinggal di perdesaan dalam model analisis tersebut. Pemuda yang tinggal di Pulau Jawa juga memiliki peluang 43,71% lebih lambat memperoleh pekerjaan dibandingkan pemuda di luar Jawa.

Tabel 5 — Wilayah dan Transisi ke Pekerjaan

Indikator Nilai
Peluang pemuda di perkotaan memperoleh pekerjaan dibanding perdesaan 17,19% lebih lambat*
Peluang pemuda di Pulau Jawa memperoleh pekerjaan dibanding luar Jawa 43,71% lebih lambat*
TPT perkotaan, Agustus 2024 5,79%
TPT perdesaan, Agustus 2024 3,67%

Sumber: BPS, Sakernas Agustus 2024, dalam kajian Mismatch Pendidikan–Pekerjaan Pemuda Indonesia.

Catatan: 17,19% dan 43,71% merupakan hasil model statistik mengenai peluang/durasi memperoleh pekerjaan, bukan proporsi pengangguran.

Kuliahnya Jurusan Apa, Kerjanya Di Mana?

Berdasarkan Sakernas Agustus 2024, 64,64% pekerja muda Indonesia berada pada pekerjaan yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Tapi, 35,36% lainnya mengalami vertical mismatch.

Dari kelompok tersebut, 22,36% tergolong overeducated, yakni memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi daripada yang secara umum dibutuhkan pekerjaannya.

Sedangkan 13,00% tergolong undereducated, yakni memiliki tingkat pendidikan lebih rendah daripada kebutuhan pekerjaannya.

Bukan cuma Soal “Salah Jurusan”

Istilah overeducated sepertinya perlu mendapat perhatian khusus.

Bayangkan, seorang sarjana akhirnya bekerja pada posisi yang sebenarnya bisa diisi oleh lulusan SMA. Padahal ia memiliki pendidikan lebih tinggi daripada kebutuhan pekerjaan tersebut.

BPS memasukkan kondisi seperti ini ke dalam kategori overeducated.

Sebaliknya, undereducated terjadi ketika seseorang bekerja pada posisi yang secara umum membutuhkan tingkat pendidikan lebih tinggi daripada pendidikan yang dimilikinya.

Lalu, apakah kuliah tinggi bisa buat cepat bekerja?

Body: Data BPS menunjukkan pemuda dengan pendidikan lebih tinggi justru cenderung mengalami waktu transisi menuju pekerjaan yang lebih panjang.

Dalam analisisnya, pemuda dengan pendidikan terakhir SMA ke atas memiliki peluang 24,50% lebih lambat memperoleh pekerjaan dibandingkan kelompok pembanding dalam model tersebut.

BPS juga mencatat bahwa pada 2024, 79,90% pemuda penganggur merupakan mereka yang berpendidikan SMA ke atas.

Ironisnya, yang “kelebihan pendidikan” justru lebih cepat masuk kerja.

Temuan BPS yang paling menarik menurut saya justru ada di sini.

Dalam analisis survival, pemuda yang sebelumnya mengalami overeducated memiliki peluang 7,37% lebih cepat kembali bekerja dibandingkan kelompok matched.

Sebaliknya, pemuda undereducated memiliki peluang 10,26% lebih lambat.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.