- • Swiss kembali menempati posisi pertama Global Innovation Index 2025 dan mempertahankan status sebagai ekonomi paling inovatif selama 15 tahun berturut-turut.
- • China untuk pertama kalinya masuk 10 besar, sementara Korea Selatan naik ke posisi keempat.
- • Indonesia berada di peringkat ke-55 dari 139 ekonomi, dengan kekuatan relatif pada institusi dan kecanggihan pasar.
INFORMASI.COM, Jakarta — Persaingan inovasi global terus berkembang di tengah percepatan kecerdasan buatan, teknologi digital, komputasi kuantum, dan transformasi industri. Namun, investasi inovasi dunia menghadapi tantangan karena pertumbuhan belanja penelitian dan pengembangan (R&D) mulai melambat.
Laporan Global Innovation Index (GII) 2025 yang diterbitkan World Intellectual Property Organization (WIPO) menempatkan Swiss, Swedia, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Singapura sebagai lima ekonomi dengan kinerja inovasi tertinggi di dunia. Indeks tahun ini mencakup 139 ekonomi dan menggunakan lebih dari 80 indikator, termasuk R&D, modal ventura, ekspor teknologi tinggi, paten, serta berbagai indikator modal manusia dan keluaran kreatif.
10 Negara Paling Inovatif 2025
| Peringkat | Negara |
| 1 | Swiss |
| 2 | Swedia |
| 3 | Amerika Serikat |
| 4 | Korea Selatan |
| 5 | Singapura |
| 6 | Inggris |
| 7 | Finlandia |
| 8 | Belanda |
| 9 | Denmark |
| 10 | China |
Sumber: WIPO, Global Innovation Index 2025.
Swiss Mempertahankan Posisi Teratas
Swiss kembali menjadi pemimpin inovasi global pada 2025. WIPO mencatat negara tersebut telah berada di posisi pertama GII selama 15 tahun berturut-turut. Kekuatan Swiss terlihat terutama pada creative outputs, sementara negara tersebut juga berada di lima besar pada hampir seluruh pilar GII.
Swedia berada di posisi kedua, dengan kinerja kuat pada business sophistication dan creative outputs. Negara ini juga menempati posisi teratas dalam jumlah peneliti dan berada di antara negara dengan belanja R&D terbesar.
Amerika Serikat mempertahankan posisi ketiga. WIPO mencatat AS unggul dalam market sophistication dan business sophistication, serta memiliki ekosistem perusahaan teknologi, startup, modal ventura, dan penelitian yang kuat.
Korea Selatan Naik ke Posisi Keempat
Korea Selatan menjadi salah satu perubahan penting dalam daftar 2025. Negara tersebut naik dari posisi keenam pada 2024 menjadi peringkat keempat. WIPO mencatat Korea Selatan menempati posisi teratas pada pilar human capital and research. Negara tersebut juga berada di posisi kedua dalam jumlah peneliti dan belanja R&D secara keseluruhan, serta peringkat pertama dalam R&D yang dilakukan sektor bisnis.
Singapura berada di posisi kelima. Negara ini tetap menjadi salah satu ekonomi dengan kinerja input inovasi tertinggi dan tercatat memiliki 10 indikator GII yang menempati posisi pertama secara global.
China Masuk 10 Besar untuk Pertama Kalinya
Perubahan terbesar dalam daftar 2025 datang dari China. China naik dari posisi ke-11 pada 2024 menjadi peringkat ke-10 pada 2025, sekaligus untuk pertama kalinya masuk kelompok 10 besar inovasi dunia. WIPO mencatat China unggul secara global dalam knowledge and technology outputs dan menjadi satu-satunya ekonomi berpendapatan menengah dalam kelompok 30 besar.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pusat inovasi global tidak hanya berada di negara-negara berpendapatan tinggi. China terus memperkuat kapasitas R&D, paten, teknologi tinggi, dan ekosistem inovasi dalam skala besar.
Indonesia Berada di Peringkat ke-55
Indonesia menempati peringkat ke-55 dari 139 ekonomi dalam GII 2025. Posisi tersebut menempatkan Indonesia di bawah Filipina yang berada di peringkat ke-50, tetapi di atas sejumlah negara berkembang lainnya. Dalam tujuh pilar GII, posisi Indonesia relatif paling tinggi pada institutions, yaitu peringkat ke-39, disusul market sophistication di peringkat ke-50. Sebaliknya, tantangan terbesar berada pada human capital and research di peringkat ke-92, business sophistication ke-83, serta infrastructure ke-71.
Investasi Inovasi Mulai Melambat
Di balik perkembangan sejumlah negara, WIPO mencatat adanya perlambatan investasi inovasi global. Pertumbuhan belanja R&D dunia mencapai sekitar 2,9% pada 2024, turun dari 4,4% pada tahun sebelumnya dan menjadi pertumbuhan terendah sejak krisis keuangan global 2010. Aktivitas modal ventura juga masih menghadapi tekanan, dengan jumlah kesepakatan turun selama tiga tahun berturut-turut.
Meski demikian, perkembangan teknologi tetap berlangsung cepat. WIPO menyoroti kemajuan pada kecerdasan buatan, komputasi kuantum, superkomputer hijau, baterai, konektivitas internet, dan teknologi kesehatan sebagai bagian dari perubahan lanskap inovasi global.
Inovasi Semakin Terkonsentrasi di Kota-Kota Teknologi
Selain ranking negara, GII 2025 juga memetakan pusat inovasi berdasarkan klaster ilmu pengetahuan dan teknologi. Lima klaster inovasi terbesar dunia adalah Shenzhen–Hong Kong–Guangzhou, Tokyo–Yokohama, San Jose–San Francisco, Beijing, dan Seoul. WIPO memperluas metodologi klaster pada 2025 dengan memasukkan data lokasi kesepakatan modal ventura bersama data paten dan publikasi ilmiah.
Secara keseluruhan, 100 klaster inovasi terbesar dunia menyumbang sekitar 70% pengajuan paten global dan aktivitas modal ventura, menunjukkan semakin pentingnya konsentrasi ekosistem inovasi di kota-kota tertentu.
Sumber utama: World Intellectual Property Organization, Global Innovation Index 2025.