- • Pada 1984, sebanyak 91 persen penduduk China dan 86 persen penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem internasional sebesar US$3 per hari.
- • China menurunkan angka kemiskinan ekstrem hingga mendekati nol pada akhir 2010-an. Indonesia juga mencatat penurunan jangka panjang, meskipun lajunya sempat terganggu krisis ekonomi Asia 1998.
- • Berdasarkan grafik Our World in Data yang bersumber dari World Bank Poverty and Inequality Platform (2026), sekitar 3,7 persen penduduk Indonesia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem pada 2025.
INFORMASI.COM, Jakarta — China berhasil menurunkan kemiskinan ekstrem secara drastis dalam empat dekade terakhir. Indonesia juga menunjukkan kemajuan yang signifikan, dengan penurunan persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan internasional dari 86 persen pada 1984 menjadi sekitar 3,7 persen pada 2025.
Perbandingan tersebut terlihat dalam grafik Our World in Data yang menggunakan data World Bank Poverty and Inequality Platform 2026. Grafik itu mengukur persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan internasional sebesar US$3 per hari, dengan penyesuaian terhadap inflasi dan perbedaan biaya hidup antarnegara berdasarkan paritas daya beli (purchasing power parity atau PPP).
Pada 1984, tingkat kemiskinan ekstrem China mencapai 91 persen, sedangkan Indonesia sebesar 86 persen. Artinya, pada awal periode pengamatan, sebagian besar penduduk di kedua negara masih hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem internasional tersebut.
Empat dekade kemudian, kedua negara mencatat perubahan besar. China berhasil menekan angka kemiskinan ekstrem hingga mendekati nol, sementara Indonesia menurunkannya menjadi satu digit. Meski China menunjukkan penurunan yang lebih cepat pada sejumlah periode, data tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia juga mengalami transformasi besar dalam pengurangan kemiskinan.
Data Kemiskinan Ekstrem China dan Indonesia
Grafik Our World in Data menunjukkan perubahan persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan internasional US$3 per hari sejak 1984 hingga 2025.
Berikut ringkasan angka yang ditampilkan dalam grafik tersebut.
| Tahun | China | Indonesia | Keterangan |
| 1984 | 91% | 86% | Kemiskinan ekstrem masih dialami mayoritas penduduk di kedua negara. |
| 1998 | — | Sekitar 83% | Indonesia mengalami lonjakan kemiskinan ekstrem di tengah krisis finansial Asia. |
| 2000 | Sekitar 55% | Sekitar 63% | Angka kemiskinan ekstrem China berada di bawah Indonesia. |
| 2005 | Sekitar 33% | Sekitar 41% | Kedua negara melanjutkan penurunan kemiskinan. |
| 2010 | Sekitar 21% | Sekitar 34% | China mencatat tingkat kemiskinan ekstrem lebih rendah. |
| 2015 | Sekitar 3% | Sekitar 22% | Kemiskinan ekstrem China mendekati nol, sedangkan Indonesia masih mencatat angka dua digit. |
| 2020 | Mendekati 0% | Sekitar 10% | Perbedaan tingkat kemiskinan kedua negara semakin lebar. |
| 2025 | Mendekati 0% | 3,7% | Indonesia terus menurunkan kemiskinan ekstrem, meskipun belum mencapai tingkat China dalam grafik. |
Sumber: Grafik Our World in Data, berdasarkan World Bank Poverty and Inequality Platform (2026). Angka bertanda “sekitar” merupakan pembacaan perkiraan dari grafik, bukan angka tabel tahunan yang dikutip secara langsung.
Data tersebut memperlihatkan bahwa China dan Indonesia sama-sama mengalami penurunan kemiskinan ekstrem dalam jangka panjang. Namun, penurunan di China berlangsung lebih cepat pada periode tertentu, terutama sejak awal 2000-an hingga pertengahan 2010-an.
China Turunkan Kemiskinan Ekstrem hingga Mendekati Nol
Pada 1984, sebanyak 91 persen penduduk China hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem internasional US$3 per hari. Kondisi tersebut berubah secara bertahap seiring pembangunan ekonomi dan pelaksanaan berbagai program pengentasan kemiskinan.
Grafik menunjukkan penurunan yang semakin kuat setelah awal 2000-an. Pada 2005, persentase penduduk China yang hidup dalam kemiskinan ekstrem berada di kisaran 33 persen. Angka tersebut turun menjadi sekitar 21 persen pada 2010, lalu mendekati nol pada akhir 2010-an.
Pemerintah China mengumumkan penghapusan kemiskinan absolut di wilayah pedesaan pada akhir 2020. Menurut Biro Statistik Nasional China, sebanyak 98,99 juta penduduk pedesaan keluar dari kategori miskin berdasarkan standar nasional China sejak 2012.
Keberhasilan tersebut didukung berbagai kebijakan, termasuk pembangunan infrastruktur, perluasan kesempatan kerja, peningkatan akses pendidikan dan layanan kesehatan, serta program bantuan yang menyasar rumah tangga miskin.
China juga menerapkan pendekatan targeted poverty alleviation, yaitu kebijakan yang mengidentifikasi rumah tangga dan wilayah miskin secara spesifik untuk menentukan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Meski demikian, pengumuman penghapusan kemiskinan absolut tersebut mengacu pada standar nasional China. Angka itu tidak berarti seluruh penduduk China terbebas dari kemiskinan berdasarkan semua standar internasional atau tidak lagi menghadapi kerentanan ekonomi.
Indonesia Mengalami Penurunan Besar dalam Empat Dekade
Indonesia juga mencatat penurunan kemiskinan ekstrem dalam jangka panjang. Pada 1984, sekitar 86 persen penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan internasional US$3 per hari. Pada 2025, angka tersebut turun menjadi 3,7 persen.
Penurunan itu menunjukkan perubahan besar dalam kondisi kesejahteraan masyarakat Indonesia selama sekitar empat dekade.
Namun, perjalanan Indonesia tidak selalu berlangsung mulus. Grafik memperlihatkan kenaikan tajam kemiskinan ekstrem pada 1998, ketika krisis finansial Asia mengguncang perekonomian Indonesia.
Krisis tersebut menyebabkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta penurunan daya beli masyarakat. Dampaknya terhadap pendapatan dan kesempatan kerja membuat sebagian penduduk semakin rentan terhadap kemiskinan.
Setelah periode tersebut, persentase penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem kembali menurun. Penurunan berlangsung secara bertahap selama 2000-an hingga 2010-an, kemudian berlanjut sampai mencapai 3,7 persen pada 2025.
Berbagai faktor dapat berperan dalam perubahan tersebut, termasuk pertumbuhan ekonomi, perluasan akses pendidikan, pembangunan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, dan program perlindungan sosial. Namun, grafik ini sendiri hanya menunjukkan perkembangan persentase kemiskinan dan tidak dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi setiap faktor.
Mengapa Indonesia Disebut Tidak Jauh Tertinggal?
Pernyataan bahwa Indonesia tidak jauh tertinggal dari China perlu dilihat dari sudut pandang yang tepat.
Jika melihat penurunan jangka panjang, kedua negara sama-sama mengalami perubahan besar. China menurunkan kemiskinan ekstrem dari 91 persen menjadi mendekati nol, sedangkan Indonesia menurunkannya dari 86 persen menjadi 3,7 persen.
Berikut perbandingan perubahan tersebut.
| Indikator | China | Indonesia |
| Kemiskinan ekstrem pada 1984 | 91% | 86% |
| Kemiskinan ekstrem pada 2025 | Mendekati 0% | 3,7% |
| Penurunan persentase sejak 1984 | Sekitar 91 poin persentase | Sekitar 82,3 poin persentase |
| Kondisi pada akhir periode | Mendekati nol dalam grafik | Masih berada di bawah 5% |
| Tantangan utama | Mengatasi kemiskinan dan kerentanan ekonomi yang tersisa | Menurunkan sisa kemiskinan ekstrem dan mencegah masyarakat kembali miskin |
Sumber: Our World in Data, berdasarkan World Bank Poverty and Inequality Platform (2026). Penurunan China dihitung secara perkiraan karena nilai akhirnya mendekati nol.
Berdasarkan grafik tersebut, Indonesia telah menurunkan persentase kemiskinan ekstrem sekitar 82,3 poin persentase sejak 1984. Sementara itu, China mencatat penurunan sekitar 91 poin persentase hingga tingkatnya mendekati nol.
Selisih angka kemiskinan ekstrem kedua negara pada 2025 juga jauh lebih kecil dibandingkan pada sejumlah periode sebelumnya. Namun, hal ini tidak berarti Indonesia telah mencapai hasil yang sama dengan China.
Perlu diperhatikan pula bahwa grafik menggunakan persentase penduduk, bukan jumlah orang. Perbandingan jumlah penduduk yang keluar dari kemiskinan memerlukan data populasi setiap negara pada periode yang sama.
Dengan demikian, pernyataan bahwa Indonesia tidak jauh tertinggal paling tepat digunakan untuk menggambarkan kemajuan jangka panjang dalam menurunkan kemiskinan ekstrem, bukan untuk menyatakan bahwa kedua negara telah mencapai tingkat kesejahteraan yang setara.
Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari China?
Pengalaman China menunjukkan bahwa pengentasan kemiskinan membutuhkan kebijakan jangka panjang yang tidak hanya berfokus pada bantuan langsung.
Pembangunan infrastruktur dapat membuka akses masyarakat terhadap pasar dan layanan publik. Perluasan kesempatan kerja membantu meningkatkan pendapatan rumah tangga, sedangkan pendidikan dan layanan kesehatan dapat memperkuat kemampuan masyarakat untuk keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.
Pendekatan yang menyasar rumah tangga miskin juga dapat membantu pemerintah menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan masing-masing kelompok. Namun, efektivitas kebijakan tetap bergantung pada pelaksanaan, ketepatan sasaran, dan kondisi ekonomi setempat.
Bagi Indonesia, tantangan berikutnya adalah menurunkan angka kemiskinan ekstrem yang masih tersisa sekaligus mencegah masyarakat kembali jatuh miskin akibat kehilangan pekerjaan, kenaikan harga kebutuhan pokok, bencana, atau pengeluaran kesehatan yang besar.
Angka 3,7 persen pada 2025 menunjukkan bahwa kemiskinan ekstrem belum sepenuhnya hilang menurut ukuran internasional yang digunakan dalam grafik. Karena itu, kebijakan pengentasan kemiskinan masih perlu berfokus pada kelompok rentan, terutama mereka yang tinggal di wilayah dengan akses terbatas terhadap pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.