- • Elektabilitas Prabowo Subianto dalam simulasi semi terbuka SMRC turun dari 33,3 persen pada Februari-Maret 2026 menjadi 9,8 persen pada Oktober 2026.
- • Dukungan terhadap Prabowo berkaitan dengan penilaian publik atas kinerja presiden, kondisi ekonomi-politik, penegakan hukum, dan penanganan masalah mendesak.
- • Penilaian terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) juga menunjukkan perbedaan dukungan elektoral.
INFORMASI.COM, Jakarta - Elektabilitas Presiden Prabowo Subianto merosot menjadi 9,8 persen dalam survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 1–10 Oktober 2026. Penurunan ini beriringan dengan evaluasi publik yang cenderung negatif terhadap kinerja pemerintahan, kondisi ekonomi-politik, penegakan hukum, serta sejumlah program prioritas pemerintah.
Dalam simulasi semi terbuka dengan 24 nama calon presiden, Prabowo menempati posisi ketiga, di bawah Dedi Mulyadi yang memperoleh 35,5 persen dan Anies Baswedan 10,3 persen. Gibran Rakabuming Raka berada di posisi berikutnya dengan 8,4 persen.
Data tersebut memperlihatkan perubahan besar dibandingkan survei Februari–Maret 2026. Saat itu, elektabilitas Prabowo masih mencapai 33,3 persen, sementara Dedi Mulyadi memperoleh 23,3 persen. Pada Juli 2026, dukungan kepada Prabowo turun menjadi 14,5 persen, sedangkan Dedi naik menjadi 35 persen.
| Periode survei | Elektabilitas Prabowo | Elektabilitas Dedi Mulyadi |
| November 2025 | 34,9% | 19,7% |
| Februari–Maret 2026 | 33,3% | 23,3% |
| Juli 2026 | 14,5% | 35,0% |
| Oktober 2026 | 9,8% | 35,5% |
- •Sumber: SMRC, Survei Nasional 1–10 Oktober 2026.
Dalam tujuh bulan, elektabilitas Prabowo dalam simulasi tersebut turun 23,5 poin persentase. Pada periode yang sama, dukungan kepada Dedi Mulyadi meningkat 12,2 poin persentase.
Namun, angka elektabilitas saja belum menjelaskan mengapa dukungan kepada presiden petahana itu melemah. Untuk melihat kaitannya dengan penilaian masyarakat, SMRC membandingkan pilihan calon presiden dengan evaluasi responden terhadap kinerja Prabowo dan kondisi nasional.
Dukungan Prabowo Lebih Tinggi di Kelompok yang Puas dengan Kinerjanya
SMRC menemukan hubungan antara kepuasan terhadap kinerja Prabowo sebagai presiden dan pilihan calon presiden. Di antara responden yang sangat puas atau cukup puas terhadap kinerjanya, 20 persen memilih Prabowo dalam simulasi semi terbuka.
Sebaliknya, di kelompok yang kurang puas atau sama sekali tidak puas, hanya 1 persen yang memilih Prabowo. Sebanyak 88 persen kelompok ini memilih calon lain, sedangkan 11 persen belum menentukan pilihan atau tidak menjawab.
| Penilaian terhadap kinerja Prabowo | Memilih Prabowo | Memilih calon lain | Tidak tahu/tidak menjawab |
| Sangat/cukup puas | 20% | 64% | 16% |
| Kurang/tidak puas sama sekali | 1% | 88% | 11% |
- •Sumber: SMRC, Survei Nasional 1–10 Oktober 2026. Angka dibulatkan.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa dukungan kepada Prabowo jauh lebih besar di kalangan responden yang puas terhadap kinerjanya. Sebaliknya, ketidakpuasan berkaitan dengan kecenderungan memilih kandidat lain.
Temuan ini tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ketidakpuasan merupakan satu-satunya penyebab penurunan elektabilitas. Namun, data memperlihatkan bahwa evaluasi terhadap kinerja presiden berhubungan erat dengan pilihan politik responden.
Penilaian Buruk terhadap Ekonomi, Politik, dan Hukum?
Penilaian responden terhadap kondisi nasional juga memperlihatkan pola serupa. Di kelompok yang menilai ekonomi nasional baik atau sangat baik, elektabilitas Prabowo mencapai 17 persen. Angka itu turun menjadi 11 persen di kelompok yang menilai ekonomi sedang dan 6 persen di kelompok yang menilai ekonomi buruk atau sangat buruk.
Pola yang searah terlihat dalam penilaian terhadap kondisi politik dan penegakan hukum. Dukungan Prabowo cenderung lebih rendah di kelompok yang memberikan penilaian buruk terhadap kedua aspek tersebut.
| Aspek yang dinilai | Baik/sangat baik | Sedang | Buruk/sangat buruk |
| Kondisi ekonomi nasional | 17% | 11% | 6% |
| Kondisi politik nasional | 22% | 8% | 6% |
| Penegakan hukum nasional | 19% | 9% | 4% |
- •Angka menunjukkan persentase responden di setiap kelompok penilaian yang memilih Prabowo. Sumber: SMRC, Survei Nasional 1–10 Oktober 2026.
Data tersebut menunjukkan bahwa dukungan kepada Prabowo tidak merata di antara kelompok responden dengan penilaian berbeda terhadap keadaan nasional. Penurunan paling jelas terlihat pada kelompok yang menilai penegakan hukum buruk atau sangat buruk, dengan dukungan hanya 4 persen.
Harga Kebutuhan Pokok dan Pemberantasan Korupsi Ikut Menjadi Sorotan
SMRC juga menguji hubungan antara pilihan presiden dan penilaian masyarakat terhadap upaya pemerintah mengatasi masalah mendesak. Aspek yang ditanyakan mencakup harga kebutuhan pokok, penyediaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, dan pemberantasan korupsi.
Pada persoalan harga kebutuhan pokok, dukungan terhadap Prabowo mencapai 20 persen di kelompok yang menilai upaya pemerintah semakin baik. Angkanya turun menjadi 11 persen di kelompok yang menilai tidak ada perubahan dan hanya 5 persen di kelompok yang menilai keadaan semakin buruk.
| Penilaian terhadap upaya pemerintah | Semakin baik | Tidak ada perubahan | Semakin buruk |
| Memperbaiki harga kebutuhan pokok | 20% | 11% | 5% |
| Menyediakan lapangan kerja | 20% | 4% | 8% |
| Mengurangi jumlah orang miskin | 18% | 7% | 7% |
| Menekan korupsi | 14% | 7% | 9% |
- •Angka menunjukkan persentase responden di setiap kelompok penilaian yang memilih Prabowo. Sumber: SMRC, Survei Nasional 1–10 Oktober 2026.
Pada isu lapangan kerja, dukungan Prabowo mencapai 20 persen di kelompok yang menilai upaya pemerintah semakin baik, tetapi hanya 4 persen di kelompok yang menilai tidak ada perubahan. Untuk pengurangan kemiskinan, dukungan di kelompok yang menilai upaya pemerintah semakin baik mencapai 18 persen.
Sementara itu, pada isu pemberantasan korupsi, dukungan Prabowo sebesar 14 persen di kelompok yang menilai upaya pemerintah semakin baik. Angka tersebut turun menjadi 9 persen di kelompok yang menilai upaya pemerintah semakin buruk.
Pola ini memperlihatkan hubungan antara penilaian masyarakat terhadap penanganan masalah sehari-hari dan pilihan calon presiden. Meski demikian, hasil survei tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa satu masalah tertentu menjadi penyebab tunggal merosotnya elektabilitas Prabowo.
Kepuasan terhadap MBG dan KDMP Turun?
Dua program pemerintah yang turut diuji SMRC adalah Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Laporan tersebut menunjukkan bahwa tingkat kepuasan terhadap MBG dan keyakinan terhadap perkembangan KDMP berhubungan dengan perbedaan dukungan kepada Prabowo.
Pada program MBG, dukungan Prabowo mencapai 25 persen di antara responden yang sangat puas terhadap pelaksanaannya. Angka tersebut turun menjadi 16 persen di kelompok yang cukup puas, 8 persen di kelompok yang kurang puas, dan 2 persen di kelompok yang sama sekali tidak puas.
| Kepuasan terhadap pelaksanaan MBG | Memilih Prabowo |
| Sangat puas | 25% |
| Cukup puas | 16% |
| Kurang puas | 8% |
| Tidak puas sama sekali | 2% |
- •Sumber: SMRC, Survei Nasional 1–10 Oktober 2026.
Pada KDMP, dukungan Prabowo juga lebih tinggi di kelompok yang yakin program tersebut akan berkembang. Sebanyak 19 persen responden yang sangat yakin memilih Prabowo, dibandingkan 17 persen di kelompok yang cukup yakin. Di kelompok yang kurang yakin, dukungannya 6 persen, sedangkan di kelompok yang sama sekali tidak yakin hanya 3 persen.
| Keyakinan KDMP akan berkembang | Memilih Prabowo |
| Sangat yakin | 19% |
| Cukup yakin | 17% |
| Kurang yakin | 6% |
| Tidak yakin sama sekali | 3% |
- •Sumber: SMRC, Survei Nasional 1–10 Oktober 2026.
Kedua tabel memperlihatkan perbedaan dukungan yang cukup lebar berdasarkan penilaian responden terhadap program pemerintah. Namun, hasil tersebut perlu dibaca sebagai hubungan statistik dalam survei, bukan bukti bahwa kepuasan terhadap MBG atau keyakinan terhadap KDMP secara langsung menentukan pilihan presiden.
Prabowo Tetap Lemah Ketika Dedi Mulyadi Tidak Masuk Simulasi
Penurunan elektabilitas Prabowo juga terlihat dalam simulasi dengan jumlah kandidat berbeda. Ketika SMRC menguji tiga nama tanpa Dedi Mulyadi, Prabowo tidak otomatis memperoleh dukungan yang lebih kuat.
Dalam simulasi Prabowo melawan Gibran Rakabuming Raka dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Gibran memperoleh 29,7 persen, AHY 28,2 persen, dan Prabowo 22,7 persen. Sebanyak 19,4 persen responden belum menentukan pilihan atau tidak menjawab.
SMRC menilai suara Dedi Mulyadi dalam skenario tersebut lebih banyak mengalir kepada Gibran dan AHY dibandingkan kepada Prabowo. Artinya, absennya Dedi dalam simulasi tidak membuat dukungan kepada Prabowo meningkat tajam.
Temuan ini memperkuat gambaran bahwa persoalan elektabilitas Prabowo bukan hanya persaingan dengan satu kandidat. Dalam sejumlah simulasi, dukungannya tetap terbatas ketika berhadapan dengan nama-nama lain.
Apa yang Bisa Disimpulkan dari Survei SMRC?
Survei SMRC menunjukkan dua hal yang berjalan beriringan. Pertama, elektabilitas Prabowo turun tajam dalam beberapa bulan terakhir. Kedua, dukungan kepadanya cenderung lebih rendah di kelompok yang tidak puas terhadap kinerja presiden, menilai kondisi ekonomi-politik dan penegakan hukum buruk, atau memberikan evaluasi negatif terhadap penanganan masalah mendesak serta program pemerintah.
Namun, laporan ini tidak membuktikan satu faktor tunggal sebagai penyebab langsung penurunan tersebut. Hasilnya menunjukkan hubungan antara evaluasi publik dan pilihan elektoral, sehingga penjelasan mengenai kemerosotan dukungan perlu mempertimbangkan beberapa aspek sekaligus.
Survei nasional SMRC ini melibatkan 1.213 responden yang memiliki hak pilih. Sebanyak 1.013 responden pemilik telepon seluler diwawancarai melalui telepon, sedangkan 200 responden tanpa telepon diwawancarai secara tatap muka. SMRC memperkirakan margin of error sebesar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi pengambilan sampel acak sederhana.