Nongkrong Makin Mahal? Menghitung Biaya Gaya Hidup Anak Muda di Jakarta

Nongkrong Makin Mahal? Menghitung Biaya Gaya Hidup Anak Muda di Jakarta
Anak muda sedang berada di tempat nongkrong. Sumber: Istimewa
Ikhtisar
  • • Data BPS Maret 2026 mencatat rata-rata pengeluaran penduduk DKI Jakarta sebesar Rp3,07 juta per kapita per bulan. Pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi mencapai Rp524.958, tetapi angka ini tidak khusus mengukur biaya nongkrong.
  • • Biaya nongkrong sangat bergantung pada lokasi, menu, transportasi, dan frekuensi kunjungan. Dengan asumsi sekali nongkrong menghabiskan Rp50.000–Rp100.000, dua kali kunjungan per minggu dapat menghabiskan sekitar Rp400.000–Rp800.000 per bulan.
  • • Bagi anak muda yang memiliki pendapatan terbatas atau masih bergantung pada uang saku, biaya nongkrong perlu disesuaikan dengan kebutuhan utama. Pengeluaran bulanan yang realistis harus dihitung berdasarkan kebiasaan aktual, bukan sekadar perkiraan harga satu gelas kopi.

INFORMASI.COM, Jakarta — Nongkrong di Jakarta tidak selalu berarti menghabiskan ratusan ribu rupiah dalam satu malam. Biaya yang dikeluarkan seseorang bisa berbeda jauh, bergantung pada tempat yang dipilih, makanan dan minuman yang dibeli, serta cara menuju lokasi. Namun, jika dilakukan rutin setiap minggu, aktivitas yang terlihat sederhana dapat mengambil porsi cukup besar dari uang bulanan.

Seseorang yang hanya membeli es kopi dan mengobrol selama satu jam tentu memiliki pengeluaran berbeda dari orang yang makan malam bersama teman di pusat perbelanjaan. Begitu pula biaya mahasiswa yang menggunakan transportasi umum dengan pekerja yang harus membayar parkir atau menggunakan transportasi daring untuk pulang-pergi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026 menunjukkan rata-rata pengeluaran penduduk DKI Jakarta mencapai Rp3.077.110 per kapita per bulan. Dari jumlah tersebut, pengeluaran makanan tercatat Rp1.195.685, sedangkan pengeluaran nonmakanan mencapai Rp1.881.425.

BPS juga mencatat pengeluaran untuk kategori makanan dan minuman jadi sebesar Rp524.958 per kapita per bulan. Angka ini mencakup konsumsi makanan dan minuman jadi secara umum, sehingga tidak dapat disamakan dengan biaya nongkrong di kafe atau restoran.

Data tersebut memberikan gambaran mengenai pengeluaran penduduk Jakarta, tetapi tidak secara khusus menggambarkan kondisi keuangan anak muda. Karena itu, biaya nongkrong perlu dihitung berdasarkan beberapa skenario yang lebih dekat dengan kebiasaan sehari-hari, mulai dari sekadar membeli minuman hingga makan bersama teman.

Berapa Biaya Sekali Nongkrong di Jakarta?

Untuk membuat perhitungan lebih realistis, biaya nongkrong sebaiknya dibedakan berdasarkan aktivitas. Membeli kopi setelah bekerja tentu berbeda dengan makan malam di restoran atau menghabiskan waktu berjam-jam di pusat perbelanjaan.

Harga menu kedai kopi di Jakarta juga bervariasi. Sebagai gambaran, sejumlah menu kopi susu di kedai lokal berada di kisaran Rp18.000–Rp25.000, sedangkan beberapa kedai kopi dengan segmen harga lebih tinggi memasang harga minuman sekitar Rp35.000–Rp50.000. Harga makanan, biaya perjalanan, dan kemungkinan pajak atau biaya layanan akan menambah total pengeluaran.

Berikut tiga simulasi pengeluaran untuk satu orang. Angka ini merupakan perkiraan anggaran, bukan hasil survei rata-rata pengeluaran anak muda Jakarta.

Jenis nongkrong Rincian perkiraan Total per kunjungan
Sekadar ngopi Minuman Rp20.000–Rp30.000 dan transportasi Rp10.000–Rp30.000 Rp30.000–Rp60.000
Ngopi sambil makan Minuman Rp20.000–Rp35.000, makanan Rp25.000–Rp45.000, dan transportasi Rp10.000–Rp30.000 Rp55.000–Rp110.000
Makan dan nongkrong di pusat perbelanjaan Makanan dan minuman Rp60.000–Rp120.000, ditambah transportasi serta biaya tambahan Rp20.000–Rp50.000 Rp80.000–Rp170.000

Rentang tersebut dapat berbeda sesuai lokasi dan pilihan transportasi. Nongkrong di kedai dekat rumah, misalnya, dapat lebih murah karena tidak membutuhkan biaya perjalanan besar. Sebaliknya, perjalanan ke kawasan yang lebih jauh atau pemesanan makanan tambahan dapat meningkatkan pengeluaran.

Perhitungan ini juga belum memasukkan kegiatan seperti menonton film, bermain gim, membeli barang, atau membayar tiket acara. Jika aktivitas tersebut menjadi bagian dari agenda nongkrong, anggaran yang dibutuhkan tentu lebih besar.

Pengeluaran Nongkrong Bisa Mencapai Ratusan Ribu Rupiah per Bulan

Setelah mengetahui perkiraan biaya per kunjungan, langkah berikutnya adalah menghitung frekuensi nongkrong. Untuk simulasi ini, digunakan asumsi empat minggu per bulan.

Frekuensi Ngopi saja (Rp45.000 per kunjungan) Ngopi dan makan (Rp80.000 per kunjungan) Makan dan nongkrong di mal (Rp125.000 per kunjungan)
1 kali seminggu Rp180.000 Rp320.000 Rp500.000
2 kali seminggu Rp360.000 Rp640.000 Rp1.000.000
3 kali seminggu Rp540.000 Rp960.000 Rp1.500.000
4 kali seminggu Rp720.000 Rp1.280.000 Rp2.000.000

Catatan: Tabel menggunakan angka tengah sebagai asumsi biaya per kunjungan. Angka ini bukan harga rata-rata resmi di Jakarta dan tidak menggambarkan pengeluaran aktual semua anak muda.

Tabel tersebut memperlihatkan perbedaan biaya berdasarkan kebiasaan. Orang yang sekadar ngopi sekali seminggu diperkirakan mengeluarkan Rp180.000 per bulan. Jika kegiatan yang sama dilakukan empat kali seminggu, jumlahnya menjadi Rp720.000.

Sementara itu, orang yang rutin ngopi sekaligus makan dengan anggaran Rp80.000 per kunjungan akan menghabiskan sekitar Rp640.000 per bulan jika pergi dua kali seminggu. Jika frekuensinya meningkat menjadi empat kali seminggu, pengeluaran mencapai Rp1,28 juta.

Pengeluaran terbesar dalam simulasi muncul pada skenario makan dan nongkrong di pusat perbelanjaan. Dengan asumsi Rp125.000 per kunjungan, seseorang yang pergi empat kali seminggu menghabiskan sekitar Rp2 juta dalam empat minggu.

Artinya, frekuensi dan jenis aktivitas sama pentingnya dengan harga menu. Seseorang tidak harus mengunjungi tempat mahal untuk mengeluarkan banyak uang. Kebiasaan mendatangi tempat yang relatif terjangkau tetapi terlalu sering juga dapat menghasilkan total pengeluaran yang besar.

Apa Artinya bagi Anak Muda dengan Uang Bulanan Terbatas?

Besarnya biaya nongkrong akan terasa berbeda sesuai sumber pendapatan seseorang. Mahasiswa yang menerima uang saku bulanan, pekerja yang baru memulai karier, dan pekerja dengan tanggungan keluarga tidak memiliki kondisi keuangan yang sama.

Misalnya, seseorang memiliki uang bulanan Rp2 juta setelah menerima uang saku atau pendapatan. Jika ia menghabiskan Rp640.000 untuk nongkrong, jumlah tersebut setara dengan 32 persen dari uang bulanan itu.

Jika pengeluarannya mencapai Rp1,28 juta, porsinya menjadi 64 persen. Dalam kondisi tersebut, biaya nongkrong berpotensi menyisakan uang yang jauh lebih sedikit untuk kebutuhan lain.

Namun, contoh tersebut tidak berarti setiap orang dengan uang bulanan Rp2 juta memiliki kemampuan belanja yang sama. Ada yang masih tinggal bersama orang tua, sedangkan yang lain harus membayar kos, transportasi, makan harian, dan kebutuhan kuliah atau pekerjaan.

Karena itu, perbandingan paling relevan bukan sekadar melihat berapa banyak uang yang dihabiskan teman untuk nongkrong. Yang perlu dihitung adalah berapa banyak uang yang benar-benar tersisa setelah kebutuhan utama dan kewajiban bulanan dipenuhi.

Membuat Anggaran yang Lebih Masuk Akal

Sebagai contoh, seseorang menetapkan anggaran nongkrong Rp300.000 per bulan. Jika sekali kunjungan menghabiskan Rp75.000, anggaran tersebut cukup untuk empat kali kunjungan dalam sebulan.

Jika ia ingin pergi lebih sering, ada beberapa pilihan: mencari tempat yang lebih terjangkau, mengurangi pesanan, memilih lokasi yang dekat, atau mengadakan pertemuan yang tidak selalu membutuhkan pengeluaran.

Angka Rp300.000 tersebut hanyalah contoh. Anggaran yang tepat perlu disesuaikan dengan pendapatan, kebutuhan pokok, kewajiban keuangan, dan target tabungan masing-masing.

Hal yang paling penting adalah menentukan batas sebelum pengeluaran terjadi. Dengan begitu, keputusan untuk nongkrong tidak selalu dibuat secara spontan tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan.

Data BPS Tidak Mengukur Biaya Nongkrong Anak Muda Secara Khusus

Data BPS Maret 2026 mencatat rata-rata pengeluaran penduduk DKI Jakarta sebesar Rp3.077.110 per kapita per bulan. Pengeluaran makanan mencapai Rp1.195.685, sedangkan kategori makanan dan minuman jadi tercatat Rp524.958.

Namun, angka tersebut merupakan rata-rata pengeluaran penduduk secara umum. Data itu tidak memisahkan biaya nongkrong di kafe, makan bersama teman, atau aktivitas sosial berdasarkan kelompok usia.

Karena itu, angka BPS tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa anak muda Jakarta rata-rata menghabiskan Rp524.958 untuk nongkrong setiap bulan. Untuk membuat kesimpulan tersebut, dibutuhkan survei yang secara khusus mengukur pengeluaran anak muda berdasarkan usia, pendapatan, frekuensi nongkrong, dan jenis tempat yang dikunjungi.

Meski begitu, data BPS dapat menjadi konteks untuk memahami struktur pengeluaran masyarakat Jakarta. Sementara itu, simulasi biaya per kunjungan membantu memperlihatkan bagaimana kebiasaan nongkrong dapat memengaruhi anggaran pribadi.

Pada akhirnya, nongkrong tidak otomatis menjadi gaya hidup mahal. Biaya yang dikeluarkan bergantung pada pilihan tempat, jenis aktivitas, transportasi, dan frekuensi kunjungan. Tantangannya adalah menjaga agar kebutuhan bersosialisasi tetap berjalan tanpa mengorbankan kebutuhan utama dan rencana keuangan.

Sumber:

  1. 1.
    Badan Pusat Statistik, Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026, Tabel 4.11, halaman 59.
  2. 2.
    Kisaran harga menu kedai kopi di Jakarta: Tiket.com - Coffee Shop di Jakarta dan Foodierate - Menu Filosofi Kopi.
  3. 3.
    Seluruh tabel biaya nongkrong dalam artikel merupakan simulasi berdasarkan asumsi harga dan frekuensi
BAGIKAN
Add preferred source on Google
Anda harus login untuk memberikan komentar.