Biodiesel untuk Kurangi Emisi Karbon, Kapan Bisa Kesampaian?

INFORMASI.COM, Jakarta - Pemerintah masih berupaya meningkatkan pengembangan bauran energi bersih. Salah satunya melalui pengembangan biodiesel.
Hal tersebut diungkap oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam acara bertajuk Repnas National Conference & Awarding Night, Senin (14/10/2024).
Dalam kesempatan itu, Bahlil mengatakan untuk mencapai kedaulatan energi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Salah satunya adalah percepatan transisi energi.
Bahlil juga menyinggung soal pengembangan biodiesel yang ditargetkan mencapai level bauran B60. “B40 sekarang menjadi B50, B60, bahkan kalau teknologinya bisa dalam pandangan Pak Prabowo bila perlu kita tingkatkan lagi,” ujar Bahlil.
Pengembangan Biofuel B50, Pasokan Minyak Sawit RI Cukup?Sekadar informasi, penamaan B40, B50, dan B60 mengacu kepada besaran campuran Bahan Bakar Nabati (BBN) dalam hal ini adalah kelapa sawit dengan solar. Sebagai contoh, B40 mengacu kepada 60% solar dan 40% kelapa sawit.
Menanggapi hal tersebut, Rektor IPB University, Arif Satria sepakat bahwa transisi energi memang suatu keniscayaan. Pasalnya, menurut Arif laju peningkatan suhu bumi perlu dibendung.
“Perubahan iklim sudah menjadi keniscayaan, setiap kenaikan satu derajat menurunkan 10% produksi padi,” kata Arif menambahkan.
Kemudian, Arif juga mengapresiasi upaya penggunaan biodiesel di Indonesia yang mampu menurunkan emisi karbon. Menurut penuturannya, Pengurangan emisi dari penggunaan biodiesel sudah sampai 22,48 juta ton CO₂eq.
“Langkah ini progresif sehingga perlu dipetakan lebih jauh dari potensi yang ada untuk sumber bio energi,” ucap Arif.
Menyoal Minyak Jelantah untuk Biofuel, dari Limbah hingga GreenflationKendati demikian, Arif mengatakan pengembangan biodiesel hingga mencapai level B60 memiliki beberapa risiko dan tantangan. Di antaranya adalah risiko lingkungan karena upaya tersebut mengharuskan perluasan lahan sawit. Di samping itu, ada pula risiko fiskal dari kebutuhan insentif.
“Kebutuhan dana untuk insentif semakin tinggi jika selisih antara harga indeks pasar biodiesel dan solar semakin melebar,” tutur Arif.
Terakhir, Arif juga mengingatkan adanya risiko pasar. Menurutnya, upaya pengembangan biodiesel hingga level B60 dapat mempengaruhi industri turunan dari bahan baku kelapa sawit yang digunakan. Dalam hal ini, Arif memberi contoh soal dampaknya terhadap keseimbangan harga minyak goreng di pasar.
“Permintaan bahan baku untuk biodiesel dapat meningkatkan harga minyak goreng terutama saat harga minyak sawit turun," pungkas Arif.
Komentar (0)
Login to comment on this news