KAI Jajaki Lokomotif Bertenaga Baterai dari China

KAI Jajaki Lokomotif Bertenaga Baterai dari China
Lokomotif bertenaga baterai yang diproduksi China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC) Dalian Co. Ltd diluncurkan di Stasiun Bang Sue Grand, Bangkok, Thailand. Foto: Xinhua

INFORMASI.COM, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai menjajaki penggunaan lokomotif bertenaga baterai sebagai bagian dari transformasi hijau dan modernisasi sistem transportasi nasional.

Direktur PT KAI Bobby Rasyidin menyebut pihaknya tengah berdiskusi dengan industri perkeretaapian China untuk mempelajari penerapan teknologi e-train atau kereta listrik berbasis baterai.

  • Mayoritas lokomotif KAI masih menggunakan mesin diesel, sehingga transisi ini menjadi prioritas modernisasi armada.
  • Langkah ini sekaligus mendukung upaya pemerintah menekan emisi karbon di sektor transportasi publik.
  • Kunjungan kerja ke Beijing, Qingdao, dan beberapa kota lain di China dilakukan bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan Dirjen Perkeretaapian Allan Tandiono.
  • Fokus utama kunjungan ialah memahami sistem elektrifikasi, skema operasional, dan potensi kerja sama teknis dengan industri China.

Kami berdiskusi dengan salah satu industri di China tentang bagaimana mereka dapat membantu kami melakukan peremajaan armada. Sebagian besar lokomotif kami masih menggunakan mesin diesel, dan kami ingin beralih ke sistem elektrifikasi atau kereta berbasis baterai.

— Bobby Rasyidin, Dirut PT KAI, di Beijing, Rabu (12/11/2025).

Untuk Efisiensi dan Kurangi Emisi

KAI menilai penerapan kereta bertenaga baterai akan membawa sejumlah manfaat, mulai dari efisiensi biaya hingga kontribusi terhadap program hijau perusahaan.

  • Kereta listrik berbasis baterai disebut e-train, analog dengan kendaraan listrik (EV) di sektor otomotif.
  • Teknologi ini dapat menekan biaya operasional sekaligus mengurangi emisi gas buang.
  • Sistem baterai memungkinkan kereta beroperasi tanpa jaringan listrik di atas rel seperti KRL konvensional.

Kalau mobil listrik disebut EV (electric vehicle), maka kereta listrik ini disebut e-train. Teknologi ini bisa meningkatkan efisiensi layanan, menurunkan biaya operasional, mengurangi emisi, sekaligus memperkuat program hijau KAI.

— Bobby mengatakan. 

Bisa Dicoba Antarkota seperti KRL

Teknologi baterai dinilai dapat diterapkan baik pada layanan antarkota maupun perkotaan seperti KRL Jabodetabek.

  • E-lokomotif di China telah digunakan secara luas untuk layanan jarak menengah dan jauh.
  • Sistem baterai membuat operasional kereta lebih fleksibel di wilayah yang belum memiliki jaringan listrik rel.
  • Penggunaan lokomotif baterai disebut sebagai lompatan besar dalam transformasi teknologi transportasi nasional.

Dulu kereta listrik harus terhubung ke jaringan listrik di atas rel, tetapi kini dengan teknologi baterai, kereta bisa beroperasi mandiri. Di China, e-lokomotif seperti ini sudah banyak digunakan.

— Bobby menuturkan. 

Belum Ada Kesepakatan dengan China

Meski menjajaki peluang kerja sama, KAI belum membahas pengadaan rangkaian baru secara spesifik dengan pihak China.

  • Fokus utama masih pada konversi dari lokomotif diesel ke sistem tenaga listrik atau baterai.
  • KAI saat ini mengoperasikan ratusan lokomotif diesel berbagai tipe, termasuk CC202, CC205, dan CC206.
  • Dari 11 rangkaian KRL yang dipesan dari China, delapan sudah beroperasi, sementara tiga lainnya masih menjalani uji kelaikan teknis.

Pengadaan memang bagian dari modernisasi, tetapi belum dibahas secara spesifik. Fokus kami masih pada konversi lokomotif diesel ke tenaga listrik.

— Bobby mengungkapkan. 

(ANT)

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.