- • Harga Bitcoin jatuh ke US$ 75.724-77.700, level terendah sejak April 2025.
- • Penurunan dipicu sentimen global, termasuk keputusan AS terkait Federal Reserve.
- • Ethereum (ETH) dan XRP ikut terkoreksi, sementara harga emas justru menguat.
INFORMASI.COM, Jakarta - Harga Bitcoin kembali tertekan pada akhir Januari 2026. Pada Sabtu, 30 Januari, aset kripto terbesar ini tercatat US$ 76.503, menandai titik terendah sejak tahun 2025.
Pada perdagangan akhir Januari, Bitcoin sempat menyentuh US$ 75.724, kemudian berada di kisaran US$ 77.700 atau setara Rp1,30 miliar. Kinerja bulanan Januari 2026 menunjukkan penurunan 10,17 %, dengan harga ditutup pada US$ 78.621.
Secara historis, harga Bitcoin turun sekitar 40 % dari puncaknya di tahun 2025 yang mencapai US$ 126.000 atau Rp2,11 miliar. Penurunan ini menempatkan Bitcoin kembali ke level setelah kebijakan tarif “liberation day” pada April 2025.
Tekanan di pasar kripto juga memengaruhi aset digital lain. Ethereum (ETH) mencatat koreksi 17,52 % sepanjang Januari sehingga diperdagangkan di kisaran US$ 2.445–2.967. Sementara XRP ikut melemah mengikuti tren pasar global.
Menurut sejumlah analis keuangan, pelemahan pasar kripto terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve menggantikan Jerome Powell.
Gara-gara itu, investor balik ke dolar AS karena meredakan kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral, yang otomatis mengurangi daya tarik Bitcoin.
Pergerakan Harian Bitcoin:
- •Sabtu, 30 Januari 2026: Bitcoin diperdagangkan US$ 76.503, titik terendah sejak 2025.
- •Minggu, 31 Januari 2026, Bitcoin menjadi US$ 77.700, stabil namun masih di bawah level awal tahun.
- •Senin, 2 Februari 2026, Bitcoin masih di rentang US$ 77.700–78.000.
Sementara Bitcoin melemah, emas dan logam mulia justru mencatat penguatan dalam periode yang sama. Hal ini menunjukkan perbedaan arah pergerakan antara aset kripto dan komoditas tradisional. Meskipun, dalam tiga hari terakhir harga emas pun merosot cukup signifikan.