Harga Cabai Rawit Merah Capai 82 Ribu/Kg, Kenapa Harga Cabai Kembali Melonjak?

Harga Cabai Rawit Merah Capai 82 Ribu/Kg, Kenapa Harga Cabai Kembali Melonjak?
Pedagang sedang melayani pembeli di Pasar Induk Lambaro, Kabupaten Aceh Besar. Foto: ANTARA/M.Ifdhal
Ikhtisar
  • Harga berbagai jenis cabai melonjak tajam memasuki bulan Ramadan 1447 H.
  • Harga cabai rawit merah mencapai Rp82.100 per kilogram.
  • Menurut pemerintah, distribusi cabai terganggu akibat curah hujan tinggi, petani kesulitan memanen, dan risiko cabai cepat busuk.

INFORMASI.COM, Jakarta – Harga berbagai jenis cabai mengalami lonjakan signifikan sejak beberapa hari terakhir. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per Kamis (19/2/2026), kenaikan terjadi hampir di semua varian cabai jika dibandingkan dengan harga pada awal pekan, Senin (16/2/2026).

Cabai merah besar saat ini tercatat di level Rp46.350 per kilogram. Cabai merah keriting naik 7,95 persen menjadi Rp49.800 per kilogram. Sementara itu, cabai rawit hijau dibanderol Rp54.250 per kilogram, dan cabai rawit merah melonjak tajam hingga Rp82.100 per kilogram. Rata-rata kenaikan mencapai 5 persen.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa lonjakan harga ini dipengaruhi oleh dua faktor utama. Pertama, peningkatan permintaan seiring masuknya bulan Ramadan. Kedua, gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem.

Kami telah berkoordinasi dengan asosiasi petani. Secara produksi, ketersediaan sebenarnya mencukupi. Namun, curah hujan yang tinggi dan berlangsung terus-menerus menyebabkan distribusi terganggu sehingga berdampak pada pergerakan harga. Koordinasi terus kami lakukan untuk memastikan pasokan kembali lancar.

— Budi Santoso, Mendag RI, di Kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Pernyataan serupa disampaikan Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa. Menurutnya, kenaikan harga lebih disebabkan kendala teknis di lapangan, bukan karena kekurangan produksi.

Produksinya tinggi, tapi problemnya dalam petik. Pada saat hujannya tinggi, tenaga kerja yang memetik tidak ada, tidak berani karena akan cepat busuk.

— Ketut Astawa, dalam keterangan resminya, Rabu (18/2/2026).

Untuk mempercepat stabilisasi harga, Bapanas akan mengoptimalkan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Intervensi difokuskan pada penekanan ongkos angkut dari sentra produksi ke Jakarta yang saat ini berkisar Rp9.000 hingga Rp10.000 per kilogram.

Pasokan tambahan diprioritaskan dari Jawa Barat sebagai sentra terdekat serta dari Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Enrekang. Daerah-daerah tersebut telah menyatakan kesiapan untuk memasok cabai rawit ke Jakarta guna menambah stok di pasar induk.

Secara produksi sangat cukup. Jadi itu bedanya ya, produksinya sangat cukup, metiknya yang takut, karena hujan dan lain sebagainya, mereka tidak berani metik karena akan langsung busuk.

— Ketut menambahkan.

Dengan kombinasi peningkatan pasokan dan intervensi biaya distribusi, diharapkan harga di tingkat pasar induk mulai menunjukkan koreksi.

Pemerintah berharap stabilisasi harga segera diikuti di tingkat pasar turunan sehingga masyarakat dapat memperoleh cabai dengan harga lebih terjangkau selama bulan Ramadan.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.