- • Defisit perdagangan barang Amerika Serikat mencapai rekor tertinggi pada 2025.
- • Defisit justru terjadi pada tahun pertama penerapan tarif Trump ke berbagai negara dan kawasan.
- • Defisit perdagangan AS pada 2025 mencapai 1,24 triliun dolar AS atau naik 2,1 persen dari tahun sebelumnya.
INFORMASI.COM, Jakarta – Kebijakan tarif tinggi yang digembar-gemborkan pemerintahan Donald Trump sebagai jurus jitu memangkas defisit perdagangan justru berbicara sebaliknya.
Data resmi yang dirilis Departemen Perdagangan Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026) waktu setempat, menunjukkan defisit perdagangan barang mencapai rekor tertinggi pada 2025.
Angka tersebut menjadi ironi di tengah kampanye proteksionisme yang gencar dilakukan Trump sejak menjabat untuk periode kedua. Defisit melebar meski berbagai produk impor sudah dibebani tarif tambahan yang signifikan.
Impor Tetap Tinggi, Ekspor Tak Beranjak
Berdasarkan data yang dirilis Kamis, defisit perdagangan barang AS tercatat sebesar 1,24 triliun dolar AS pada 2025. Jika dikonversi dengan kurs Rp 15.500 per dolar AS, angka ini setara dengan sekitar Rp 19.221 triliun. Pencapaian ini meningkat 2,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Total ekspor barang AS sepanjang 2025 mencapai 2,2 triliun dolar AS. Sementara itu, impor justru membengkak hingga 3,44 triliun dolar AS. Data ini membantah narasi bahwa tarif akan secara otomatis mengurangi ketergantungan AS pada barang asing.
“ Angka defisit 2025 menunjukkan seberapa kecil efek tarif, untuk saat ini, terhadap tingkat defisit secara keseluruhan. ”
— Eugenio Aleman, ekonom utama di Raymond James, seperti dikutip MarketWatch.
Ia menambahkan bahwa tarif justru mendistorsi arus perdagangan bulanan karena pelaku bisnis AS berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan kebijakan tarif yang dinamis.
Mitra Dagang: Meksiko dan Vietnam Melebar, Uni Eropa Menyempit
Data menunjukkan pola yang menarik dalam defisit AS dengan mitra dagang utamanya. Defisit dengan Uni Eropa justru menyempit menjadi 218,8 miliar dolar AS. Hal ini mengindikasikan bahwa barang-barang Eropa mungkin terkena dampak tarif yang lebih besar atau tergantikan oleh sumber lain.
Sebaliknya, defisit dengan Meksiko melebar menjadi 196,9 miliar dolar AS. Fenomena ini kemungkinan terkait dengan relokasi rantai pasok dari China ke Meksiko (nearshoring) yang terus berlanjut. Barang-barang yang dirakit di Meksiko tetap mengalir deras ke AS meskipun ada ancaman tarif.
Defisit dengan Vietnam juga melebar tajam menjadi 178,2 miliar dolar AS. Vietnam menjadi salah satu tujuan relokasi manufaktur dari China, dan ekspor dari negara Asia Tenggara ini ke AS terus meningkat.
Lonjakan di Akhir Tahun
Secara terpisah, Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa defisit perdagangan barang dan jasa secara keseluruhan melebar menjadi 70,3 miliar dolar AS pada Desember 2025. Angka ini melonjak 32,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan menandai kenaikan tajam dua bulan berturut-turut.
Lonjakan di akhir tahun ini mengindikasikan bahwa bisnis AS masih bergulat dengan ketidakpastian kebijakan. Banyak perusahaan yang mempercepat impor di akhir tahun untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan tarif lebih lanjut di tahun 2026.
Data ini menjadi bahan perdebatan sengit di kalangan ekonom dan pembuat kebijakan. Di satu sisi, pendukung tarif berargumen bahwa kebijakan ini diperlukan untuk melindungi industri dalam negeri dalam jangka panjang. Di sisi lain, para kritikus menunjuk data defisit 2025 sebagai bukti bahwa tarif justru memberatkan konsumen AS tanpa menyelesaikan akar masalah defisit struktural.