- • Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu serangan balasan Teheran ke berbagai aset di Timur Tengah.
- • Otoritas Iran memberi sinyal kemungkinan menutup Selat Hormuz, jalur vital 20 juta barel minyak per hari.
- • Analis memperingatkan lonjakan harga minyak dan tekanan inflasi global jika jalur tersebut terganggu.
INFORMASI.COM, Jakarta - Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu respons militer dari Teheran. Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar aset kedua negara tersebut di sejumlah wilayah, termasuk Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Yordania, Arab Saudi, Irak, dan Oman.
Di tengah eskalasi itu, perhatian pasar global tertuju pada Selat Hormuz. Pejabat Iran memberi isyarat kemungkinan penutupan jalur laut strategis tersebut, yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Sinyal Pengetatan Lalu Lintas Selat Hormuz
Pada Sabtu, seorang pejabat Uni Eropa mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa kapal-kapal yang melintasi selat menerima transmisi frekuensi sangat tinggi (VHF) dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Pesan itu menyatakan, “tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz”.
Meski demikian, pejabat Uni Eropa tersebut menegaskan Iran belum secara resmi menutup selat. Sejumlah pemilik kapal tanker justru menghentikan sementara pengiriman minyak dan gas melalui jalur tersebut akibat konflik yang berlangsung.
Seorang eksekutif senior di meja perdagangan besar mengatakan kepada Reuters bahwa “kapal-kapal kami akan tetap berada di tempat selama beberapa hari.”
Pemerintah Yunani juga mengimbau kapal-kapalnya untuk menghindari jalur itu.
Data pelayaran menunjukkan sedikitnya 150 kapal tanker, termasuk pengangkut minyak mentah dan gas alam cair (LNG), telah berlabuh di perairan Teluk di luar Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut berkumpul di dekat pantai Irak, Arab Saudi, dan Qatar.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyatakan pihaknya mengetahui adanya “aktivitas militer signifikan” di kawasan selat. UKMTO juga menerima laporan insiden dua mil laut di utara Kumzar, Oman, yang berada di wilayah Selat Hormuz.
Mengapa Selat Hormuz Sangat Vital?
Selat Hormuz terletak di antara Oman dan Uni Emirat Arab di satu sisi serta Iran di sisi lain. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Lebarnya hanya 33 kilometer pada titik tersempit, dengan jalur pelayaran selebar sekitar 3 kilometer di masing-masing arah. Kondisi ini membuatnya rentan terhadap gangguan keamanan.
“Selat Hormuz sangat penting bagi pasar energi global, karena sekitar 30 persen minyak mentah dunia yang diangkut melalui laut melintasi jalur ini. Selain itu, hampir 20 persen bahan bakar jet global dan sekitar 16 persen bensin serta nafta juga melewati Selat tersebut,” ucap Muyu Xu, analis senior minyak mentah di Kpler, mengatakan kepada Al Jazeera.
Menurut Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), sekitar 20 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz setiap hari pada 2024. Nilai perdagangan energi yang melewati jalur ini mencapai sekitar 500 miliar dolar AS per tahun.
Minyak tersebut berasal dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Selain minyak, sekitar seperlima pengiriman LNG global pada 2024 juga melewati selat tersebut, dengan Qatar menyumbang sebagian besar volumenya.
EIA memperkirakan 84 persen pengiriman minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz pada 2024 menuju pasar Asia. Sebanyak 83 persen volume LNG juga dikirim ke kawasan yang sama. China, India, Jepang, dan Korea Selatan menyerap 69 persen dari total arus minyak mentah dan kondensat yang melewati selat tahun lalu.
Dampak Langsung ke Harga Minyak
Media pemerintah Iran menyebut Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran harus mengambil keputusan akhir terkait penutupan selat, dan keputusan tersebut harus mendapat ratifikasi pemerintah.
Sejak konflik pecah pada Sabtu, lalu lintas kapal di selat dilaporkan menurun tajam.
“Pada saat yang sama, jumlah kapal yang berhenti di kedua sisi, di Teluk Oman dan Teluk, melonjak, karena pemilik kapal semakin khawatir terhadap risiko keamanan maritim setelah peringatan Teheran tentang potensi penutupan navigasi,” ujar Muyu Xu.
Ia memperkirakan ancaman terhadap infrastruktur energi akan semakin luas.
“Pada Minggu, sebuah kapal tanker minyak diserang di lepas pantai Oman beberapa jam lalu, yang menandakan eskalasi konflik yang jelas dan pergeseran target dari fasilitas militer semata menjadi aset energi,” kata Xu.
“Hal ini diperkirakan akan secara tajam mempercepat reli harga minyak dan dapat mempertahankan harga tetap tinggi dalam periode yang berkelanjutan, berpotensi lebih lama dibanding konflik Juni lalu,” tambahnya.
Sebagai perbandingan, ketika Amerika Serikat dan Israel membombardir Iran pada Juni tahun lalu, tidak terjadi gangguan langsung terhadap aktivitas maritim di kawasan tersebut.
Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa penutupan Selat Hormuz akan mengganggu sekitar seperlima minyak yang diperdagangkan secara global dalam semalam.
"Harga tidak hanya melonjak, tetapi akan melompat tajam hanya karena ketakutan semata. Guncangan tersebut akan bergema jauh melampaui pasar energi, memperketat kondisi keuangan, memicu inflasi, dan mendorong ekonomi yang rapuh semakin dekat ke resesi dalam hitungan minggu,” kata Ali Vaez.
Implikasi bagi Ekonomi Global
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar dan produksi industri di banyak negara. Hamad Hussain, ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics yang berbasis di Inggris, mengatakan kenaikan harga minyak berkelanjutan akan menambah tekanan inflasi global.
Dalam analisisnya, jika harga minyak mentah naik menjadi 100 dolar AS per barel dan bertahan di level tersebut untuk beberapa waktu, hal itu dapat menambah 0,6-0,7 persen terhadap inflasi global.
"Hal ini dapat memperlambat laju pelonggaran moneter oleh bank sentral utama, terutama di negara berkembang, di mana para pembuat kebijakan cenderung lebih sensitif terhadap gejolak harga komoditas,” kata Hamad Hussain kepada Aljazeera.
Dengan ketergantungan Asia terhadap energi Teluk, setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu tekanan luas terhadap stabilitas ekonomi global dalam waktu singkat.