- • Harga minyak mentah AS dan Brent melonjak lebih dari 8% setelah serangan AS dan Israel ke Iran.
- • Lalu lintas tanker di Selat Hormuz terhenti, lebih dari 150 kapal berlabuh, dan risiko gangguan pasokan global meningkat.
- • Analis memperingatkan harga Brent bisa menembus US$100 hingga US$120 per barel jika konflik berkepanjangan.
INFORMASI.COM, Jakarta - Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Minggu (1/3/2026) malam waktu AS setelah pasar merespons eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar khawatir konflik tersebut berkembang menjadi perang terbuka yang mengganggu pasokan minyak global.
Minyak mentah AS naik lebih dari 8% atau US$5,55 ke level US$72,57 per barel pada pukul 18.41 waktu New York. Sementara itu, minyak acuan global Brent melonjak sekitar 9% atau US$6,54 menjadi US$79,41 per barel.
Pada perdagangan di Asia, Senin (2/3/2026) pagi, harga Brent tercatat masih menguat lebih dari 7% di posisi US$78,25 per barel. Adapun minyak mentah AS yang diperdagangkan di bursa AS naik 7,3% ke level US$71,93.
Lonjakan harga terjadi setelah gelombang serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi Republik Islam Iran. Serangan tersebut memicu ketidakpastian terkait kepemimpinan di negara produsen minyak terbesar keempat di OPEC tersebut.
Pasar kini menyoroti dampak konflik terhadap Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi titik paling krusial bagi perdagangan minyak dunia. Rata-rata 14,5 juta barel minyak melintasi selat tersebut setiap hari. Sekitar 90% pasokan itu mengalir ke Asia, 4% ke Eropa, 4% ke Benua Amerika, dan 2% ke Afrika.
Data Kpler menunjukkan lebih dari 14 juta barel per hari melewati Selat Hormuz sepanjang 2025, setara sekitar sepertiga ekspor minyak mentah laut global. Sekitar tiga perempat dari volume tersebut dikirim ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Perusahaan konsultan Rystad Energy melaporkan lalu lintas tanker melalui selat itu praktis terhenti karena perusahaan pelayaran mengambil langkah pencegahan. Setidaknya 150 kapal tanker menjatuhkan jangkar di perairan Teluk di luar Selat Hormuz. Meski demikian, beberapa kapal Iran dan China dilaporkan tetap melintas.
"Kapal-kapal tanker mulai menumpuk di dekat Selat Hormuz, tetapi saat ini tampaknya tidak ada yang melintas – kapal tanker jelas ketakutan. Karena ancaman Iran, selat tersebut secara efektif ditutup. Kapal-kapal mengambil langkah pencegahan untuk tidak masuk karena risikonya terlalu tinggi dan biaya asuransi mereka melonjak tajam,” pernyataan Kpler terkait melonjaknya harga minyak.
Kpler juga menilai Amerika Serikat kemungkinan akan berupaya melindungi jalur pelayaran. Namun, jika selat tetap tertutup dalam waktu lama, harga minyak bisa naik jauh lebih tinggi.
Bisa Naik Lebih dari US$100 per Barel
Saul Kavonic, Kepala Riset Energi MST Research, mengatakan kepada BBC, bahwa pasar tidak panik. Saat ini, kata Saul, pasar masih terus memantau tanda kemungkian lalu lintas melalui Selat Hormuz kembali normal.
"Yang akan membuat harga minyak kembali mereda,” Saul Kavonic meyakinkan.
Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan risiko lonjakan harga lebih lanjut. Analis Barclays menyebut harga Brent berpotensi menembus US$100 per barel jika situasi keamanan di Timur Tengah memburuk. Bahkan, analis UBS menilai gangguan material dapat mendorong harga spot Brent melampaui US$120 per barel.
“Bagaimana ini akan berakhir sangat tidak pasti pada saat ini tetapi sementara itu pasar minyak harus menghadapi ketakutan terburuk mereka. Dampak potensial terhadap pasar minyak sulit untuk dilebih-lebihkan," ujar Amarpreet Singh, analis Barclays.
Organisasi OPEC+ yang mencakup Arab Saudi dan Rusia pada Minggu sepakat meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk meredam kenaikan harga. Namun, sejumlah pengamat meragukan tambahan pasokan tersebut cukup untuk menstabilkan pasar jika konflik berkepanjangan.
Edmund King, Presiden AA, memperingatkan dampak lanjutan terhadap harga bahan bakar global.
“Gejolak dan pemboman di seluruh Timur Tengah pasti akan menjadi katalis untuk mengganggu distribusi minyak secara global, yang pada akhirnya akan menyebabkan kenaikan harga. Besarnya dan lamanya kenaikan harga di pompa bensin bergantung pada berapa lama konflik berlangsung,” ujar Edmund King.
Di tengah ketidakpastian kepemimpinan di Teheran, ekspor minyak Iran berisiko anjlok. Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai ketidakjelasan otoritas, potensi kerusuhan domestik, serta aksi mogok di wilayah produksi dan pelabuhan dapat memperparah gangguan. Saat ini, Iran memproduksi sekitar 3,3 juta barel minyak per hari.