- • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan harga Pertalite tidak naik meski harga minyak dunia melonjak ke US$78–80 per barel.
- • Pemerintah mengakui kenaikan harga minyak membebani APBN, namun masih menghitung selisih antara impor dan produksi domestik.
- • Bahlil juga menegaskan stok BBM RI masih aman hingga 20 hari operasi.
INFORMASI.COM, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite tidak mengalami kenaikan, meskipun harga minyak mentah dunia melonjak akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Bahlil menyampaikan kepastian tersebut dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
"Kalau harga BBM yang subsidi, yang bensin Pertalite, itu mau (harga minyak dunia) naik berapa pun, tetap harganya sama sebelum ada perubahan dari pemerintah," ujar Bahlil.
Ia menjelaskan kebijakan tersebut berbeda dengan BBM nonsubsidi seperti Pertamax. Pemerintah akan menyesuaikan harga BBM nonsubsidi mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Harga Minyak Lampaui Asumsi APBN 2026
Bahlil mengungkapkan harga minyak mentah saat ini berada di kisaran 78 hingga 80 dolar Amerika Serikat per barel. Angka tersebut melampaui asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang ditetapkan sebesar 70 dolar Amerika Serikat per barel.
Indonesia mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN. Namun, Indonesia juga memproduksi sekitar 600 ribu barel per hari sehingga negara memperoleh tambahan penerimaan dari kenaikan harga tersebut.
"Karena Indonesia kan berkontribusi kurang lebih sekitar 600 ribu barel per hari. Nah, selisih ini yang sedang kami hitung," ucap Bahlil.
Ia menyatakan pemerintah melakukan perhitungan secara hati-hati karena kebijakan tersebut berkaitan langsung dengan subsidi energi dalam negeri.
Pemerintah Belum Rencanakan Kenaikan BBM Subsidi
Bahlil menyampaikan pemerintah belum memiliki rencana menaikkan harga BBM subsidi setelah rapat Dewan Energi Nasional.
"Sampai dengan kami rapat tadi, belum ada (kenaikan harga BBM subsidi), jadi aman-aman saja. Hari raya yang baik, puasa yang baik, insya Allah belum ada kenaikan harga BBM," kata Bahlil.
Di sisi lain, pemerintah terus memantau eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada pasar energi global.
Pada Sabtu (28/2/2026), Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Ibu Kota Teheran. Serangan tersebut menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pada Minggu (1/3/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat-Israel. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan tersebut.
Media Iran juga melaporkan Selat Hormuz secara efektif ditutup setelah serangan tersebut, meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal. Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan sekitar 20 juta barel konsumsi minyak harian global melintasi jalur itu, termasuk ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.
Stok BBM Nasional 20 Hari Operasi
Di tengah ketidakpastian geopolitik, pemerintah memastikan pasokan dalam negeri masih terkendali.
Bahlil menyebut ketahanan BBM nasional dalam kondisi cukup.
“Masih cukup, 20 hari,” ujar Bahlil di Istana Negara, Senin (2/3/2026).
Ia menambahkan hingga saat ini belum terdapat dampak langsung terhadap distribusi dan ketersediaan BBM nasional.
“Tapi harga minyak dunia pasti akan terkoreksi, ketika kondisi geopolitik terus memanas di Timur Tengah," ujarnya.