- • IHSG melemah 343,19 poin atau 4,32 persen pada sesi I, sejalan dengan kejatuhan bursa Asia.
- • Bursa saham Asia lainnya juga rontok ke level rendah. Terlebih, KOSPI Korsel yang anjlok hingga 9 persen di sesi I.
- • BEI menyebut eskalasi konflik Iran-AS-Israel dan penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran krisis energi.
INFORMASI.COM, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan sesi I, Rabu. Data perdagangan pukul 12.00 WIB menunjukkan IHSG turun 343,19 poin atau 4,32 persen ke posisi 7.596,58.
Pelemahan tersebut berlangsung seiring koreksi mayoritas bursa saham di kawasan Asia. Indeks Nikkei tercatat turun 2.178,10 poin atau 3,87 persen ke 54.101,00. Indeks Shanghai melemah 58,33 poin atau 1,41 persen ke 4.064,35. Indeks KOSPI terkoreksi paling dalam, yakni 542,93 poin atau 9,37 persen ke 5.248,98.
Selain itu, indeks Hang Seng turun 692,58 poin atau 2,69 persen ke 25.075,49. Indeks Kuala Lumpur melemah 9,56 poin atau 0,56 persen ke 1.702,39. Indeks Strait Times terkoreksi 120,50 poin atau 2,44 persen ke 4.796,14.
BEI: Dampak Penutupan Selat Hormuz
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy, memastikan bahwa tekanan terhadap IHSG dipicu eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ia menjelaskan, pasar merespons kekhawatiran gangguan rantai pasok global, terutama sektor energi, setelah Iran menutup Selat Hormuz.
“Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas, dan Iran menutup selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi. Hal ini sudah tercermin di harga minyak dunia yang meningkat,” ujar Irvan di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Irvan menambahkan bahwa koreksi IHSG bergerak sejalan dengan indeks regional lain. Bahkan, bursa Korea Selatan sempat menghentikan sementara perdagangan (trading halt) setelah indeks turun lebih dari 8 persen.
“Pergerakan IHSG sejalan dengan pergerakan indeks regional lain yang juga turun tajam, seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAEIX, ASX, dan Korea Selatan sempat mengalami trading halt setelah turun lebih dari 8 persen,” ujar Irvan.
Investor Global Beralih ke Aset Aman
Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menyatakan bahwa investor global cenderung memindahkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman.
"Saat bursa Asia melemah, investor global biasanya mengalihkan sebagian dana ke aset safe haven seperti emas, obligasi pemerintah AS, dan dolar AS, sambil menunggu kepastian arah sentimen global, juga meredanya tensi geopolitik," ujar Reydi seperti dikutip dari Antara.
Reydi menjelaskan bahwa pelemahan IHSG dipicu kombinasi sentimen eksternal dan aksi ambil untung setelah pasar sempat mengalami penguatan dalam beberapa hari sebelumnya.
Menurut dia, pelaku pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik dan kekhawatiran arah suku bunga global. Kondisi tersebut mendorong sikap risk-off di berbagai bursa Asia.
Ia juga mengungkapkan bahwa investor asing cenderung melakukan net sell, terutama pada saham berkapitalisasi besar.
"Pendorong utamanya adalah rotasi dana ke aset yang lebih aman serta rebalancing portofolio global di tengah volatilitas pasar," ujar Reydi.
Untuk perdagangan sepanjang hari ini, Reydi memproyeksikan IHSG bergerak volatil dengan peluang bertahan di area support 7.600-7.500.
"Jika tekanan jual asing tidak terlalu agresif, pelemahan cenderung bersifat teknikal dan bisa terbatas," ujar Reydi.
OJK Diminta Perkuat Mitigasi Risiko
Di tengah tekanan pasar, konsultan dan perencana keuangan, Elvi Diana, meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat mitigasi risiko terhadap potensi pelemahan lanjutan IHSG.
"Elastisitas pasar modal Indonesia terhadap dinamika global cukup tinggi. Jika eskalasi konflik terus berlanjut, volatilitas berpotensi meningkat dan memicu aksi jual lanjutan. Ini harus menjadi alarm bagi OJK untuk memperkuat langkah mitigasi risiko," kata Elvi dalam keterangan tertulis, Rabu.
Dengan tekanan eksternal yang masih dominan, pelaku pasar kini menantikan perkembangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel serta dampaknya terhadap stabilitas energi global.