Bursa Asia Rebound 5 Maret usai Rontoh Sebelumnya: Nikkei Melonjak 4%, Kospi Terbang 11%

Bursa Asia Rebound 5 Maret usai Rontoh Sebelumnya: Nikkei Melonjak 4%, Kospi Terbang 11%
Ilustasi. Foto: Antara
Ikhtisar
  • Bursa Asia bangkit pada Kamis pagi (5/3/2026) setelah terpuruk pada perdagangan sebelumnya.
  • Indeks utama seperti Nikkei 225 dan Kospi mencatat lonjakan signifikan, dengan Kospi melesat lebih dari 11%.
  • Rebound terjadi setelah reli di Wall Street, sementara pasar tetap mencermati lonjakan harga minyak akibat perang Iran.

INFORMASI.COM, Jakarta - Bursa Asia mencatat penguatan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi, setelah mengalami tekanan tajam sehari sebelumnya. Kenaikan ini terjadi seiring dengan sentimen positif dari Wall Street yang lebih dulu rebound didorong optimisme terhadap data ekonomi dan reli saham teknologi.

Mengutip Bloomberg, pada pukul 08.20 WIB, mayoritas indeks saham utama di kawasan bergerak di zona hijau dengan penguatan yang cukup solid.

Indeks Nikkei 225 melonjak 2.224,81 poin atau 4,13% ke level 56.477,43. Indeks Hang Seng naik 335,17 poin atau 1,32% ke posisi 25.583,65. Indeks Taiex menguat 1.198,91 poin atau 3,65% menjadi 34.032,03.

Kenaikan paling mencolok terjadi pada indeks Kospi yang terbang 577,22 poin atau 11,28% ke level 5.668,28. Lonjakan tersebut menandai pemulihan tajam setelah sebelumnya indeks ini menyentuh titik terendah sepanjang sejarahnya.

Sementara itu, indeks ASX 200 naik 24,99 poin atau 0,28% ke 8.926,10. Indeks Straits Times bertambah 37,61 poin atau 0,79% menjadi 4.850,96, dan FTSE Malaysia naik 8,46 poin atau 0,50% ke 1.706,68.

Secara regional, indeks MSCI Asia Pasifik yang lebih luas juga menguat 2,8%, mencerminkan sentimen positif yang merata di kawasan.

Pergerakan ini mengikuti rebound di Wall Street yang ditopang reli saham-saham perusahaan teknologi berkapitalisasi besar. Optimisme terhadap prospek ekonomi menjadi pendorong utama pembalikan arah tersebut.

Kepala Eksekutif Goldman Sachs, David Solomon, menyampaikan pandangannya dalam wawancara dengan Bloomberg TV.

"Saya pikir para pelaku pasar sedang mengamati dan mencoba untuk mengatakan bagaimana ini akan berjalan? Apa tujuan akhirnya?" kata David Solomon.

"Seiring dengan bertambahnya informasi yang dimiliki dalam beberapa hari mendatang, satu atau dua minggu mendatang, saya pikir ini akan berdampak pada premi risiko," tambahnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan sikap pasar yang masih berhati-hati meskipun terjadi pemulihan signifikan. Pelaku pasar dinilai masih menimbang arah kebijakan dan perkembangan ekonomi dalam jangka pendek.

Di sisi lain, investor tetap mencermati pergerakan harga minyak global. Lonjakan harga energi yang terjadi setelah perang Iran menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kebijakan moneter dan stabilitas pasar keuangan global.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.