Indonesia Mulai Impor Minyak Mentah dari AS, Dialihkan dari Kawasan Teluk yang Lagi Perang

Indonesia Mulai Impor Minyak Mentah dari AS, Dialihkan dari Kawasan Teluk yang Lagi Perang
Ilustrasi, kapal tanker minyak Rusia. (Foto: Flickr/GRID-Arendal)
Ikhtisar
  • Pemerintah mulai mengimpor minyak mentah dari Amerika Serikat secara bertahap untuk menjaga pasokan energi nasional.
  • Sekitar 25 persen pasokan minyak mentah Indonesia sebelumnya berasal dari kawasan Teluk Persia yang harus melewati Selat Hormuz.
  • Pemerintah juga tenah menyiapkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak untuk meningkatkan cadangan energi nasional hingga 90 hari.

INFORMASI.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia mulai mengimpor minyak mentah dari Amerika Serikat secara bertahap di tengah gangguan jalur distribusi energi global yang melewati Selat Hormuz.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan langkah tersebut diambil karena sebagian pasokan minyak mentah Indonesia selama ini berasal dari kawasan Timur Tengah yang harus melewati jalur tersebut.

Menurut Bahlil, sekitar 25 persen pasokan minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah sehingga kondisi penutupan Selat Hormuz oleh Iran berpotensi memengaruhi rantai pasokan energi.

"Sekarang sudah mulai jalan. Bertahap, itu kan bertahap tidak bisa sekaligus semuanya datang, karena kita punya daya simpanan tidak cukup," ujar Bahlil di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Impor minyak mentah dari Amerika Serikat juga berkaitan dengan dokumen Agreement on Reciprocal Tariff (ART) yang disepakati pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat.

Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia berkomitmen membeli minyak mentah, bahan bakar minyak, serta LPG dari Amerika Serikat dengan nilai sekitar 15 miliar dolar AS.

Namun Bahlil menilai transaksi tersebut tetap harus melalui proses negosiasi harga, terutama di tengah lonjakan harga minyak dan gas dunia yang dipicu ketegangan geopolitik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran.

"Harga itu kan harga pasar. Sudah pasti sebelum dilakukan transaksi adalah negosiasi. Saya yakin teman-teman di Pertamina maupun di kami, di internal kami punya kemampuan lah untuk melakukan negosiasi dengan mencari harga yang lebih baik," tutur Bahlil.

Pemerintah Bangun Fasilitas Penyimpanan Energi

Selain melakukan diversifikasi sumber impor, pemerintah juga menyiapkan pembangunan tambahan fasilitas penyimpanan minyak mentah guna memperkuat cadangan energi nasional.

Bahlil menjelaskan bahwa kapasitas penyimpanan minyak Indonesia saat ini masih terbatas sehingga cadangan energi nasional hanya berada di kisaran 21 hingga 25 hari.

Pemerintah menargetkan pembangunan fasilitas penyimpanan baru dapat meningkatkan cadangan energi nasional hingga sekitar 90 hari atau setara tiga bulan.

"Jadi masalah kita itu sekarang adalah di storage. Makanya kami membuat sekarang storage. Kalau tidak begini, kita tidak pernah berpikir," tegas Bahlil.

Pasokan BBM dari Singapura Dinilai Tetap Aman

Selain minyak mentah, Indonesia juga masih mengimpor produk BBM dari Singapura. Menurut Bahlil, sebagian minyak mentah yang diolah Singapura juga berasal dari Timur Tengah.

Meski demikian, ia menilai negara tersebut memiliki berbagai alternatif sumber pasokan minyak mentah dari produsen lain di dunia.

"Mereka (Singapura) pasti punya beberapa alternatif, dan itu kan domain mereka. Tapi saya punya keyakinan tidak akan jauh beda dengan Indonesia, karena sumber crude itu tidak satu-satunya dari Middle East. Afrika, Angola, Brazil, sebagian juga mereka ambil dari Malaysia. Sebagian bisa ambil dari Amerika. Dan melakukan trading seperti ini biasanya itu mencari mana yang lebih ekonomis. Dan mana lebih cepat," jelas Bahlil.

Jalur Hormuz Hanya Sebagian dari Pasokan Global

Bahlil juga menilai gangguan distribusi di Selat Hormuz tidak akan sepenuhnya menghentikan pasokan energi dunia karena masih banyak produsen minyak di luar Timur Tengah.

Ia mencatat volume minyak mentah global yang melewati Selat Hormuz mencapai sekitar 20,1 juta barel per hari, sementara konsumsi minyak dunia jauh lebih besar dari angka tersebut.

"Selat hormuz itu kan 20,1 juta barrel per day yang melewati Selat hormuz. Konsumsi global kita kan bukan 20 juta, ratusan juta barrel per day. Jadi saya pikir itu tinggal bagaimana menyelesaikannya," tutur Bahlil.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.