Riset BRIN: Program MBG Tambah PDB Indonesia hingga Rp26 Triliun

Riset BRIN: Program MBG Tambah PDB Indonesia hingga Rp26 Triliun
Foto: Istimewa
Ikhtisar
  • Riset BRIN mencatat adanya potensi peningkatan PDB Indonesia sebesar Rp14,5 triliun hingga Rp26 triliun dari MBG.
  • MBG ini dinilai mendorong konsumsi, investasi, produksi pangan, serta penyerapan tenaga kerja.
  • Setidaknya, sudah terlihat dampak ekonomi program MBG terhadap sektor riil, terutama di bidang pangan.

INFORMASI.COM, Jakarta - Tim peneliti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Badan Riset dan Inovasi Nasional menyimpulkan bahwa program tersebut berpotensi memberikan dampak positif terhadap perekonomian Indonesia, termasuk peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga puluhan triliun rupiah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi MBG dapat menambah PDB nasional dalam kisaran Rp14,5 triliun hingga Rp26 triliun.

Ketua Tim Peneliti Program MBG BRIN, Iwan Hermawan, menyampaikan temuan tersebut dalam Seminar Hasil Riset Program MBG yang digelar di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

"Program MBG memberikan dampak makroekonomi yang positif dan terukur. Jadi, simulasinya menunjukkan peningkatan tambahan PDB itu sebesar Rp14,5 triliun hingga Rp26 triliun," kata Iwan dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Kamis.

Metode Riset dan Cakupan Studi

Penelitian dilakukan sepanjang tahun 2025 dengan menggunakan sejumlah pendekatan analisis ekonomi, antara lain Computable General Equilibrium (CGE), Structural Equation Modelling (SEM), Institutional Analysis and Development (IAD), serta Importance Performance Analysis (IPA).

Studi tersebut dilakukan di Kepulauan Bangka Belitung dan Jawa Barat dengan jumlah responden sebanyak 855 orang.

Menurut Iwan, simulasi penelitian juga menunjukkan peningkatan konsumsi agregat hingga 0,19 persen dan investasi sebesar 0,24 persen, sementara tekanan inflasi tetap berada dalam tingkat yang relatif terkendali.

Ia menjelaskan bahwa dua komponen tersebut memiliki kontribusi besar dalam struktur PDB nasional.

"Kenapa harus konsumsi dan investasi? Karena di komposisi PDB dua itu yang punya proporsi yang besar, jadi kalau mereka meningkat dan nilainya besar dan akan mendorong PDB. Apalagi nanti 2029 (ditargetkan pertumbuhan) mau 8 persen, jadi harusnya sih ini sejalan untuk ke sana, dengan tingkat inflasi yang relatif terkendali," ujar Iwan.

Dampak Ekonomi dari Hulu ke Hilir

Selain meningkatkan konsumsi dan investasi, riset BRIN juga mencatat dampak ekonomi program MBG terhadap sektor riil, terutama di bidang pangan.

Peningkatan aktivitas produksi tercatat pada komoditas seperti beras, produk olahan daging, susu, serta hortikultura. Program ini juga memicu peningkatan penyerapan tenaga kerja.

"Peningkatan produksi terutama itu terjadi di beras, hasil olahan daging, susu, hortikultura, kemudian diikuti juga serapan tenaga kerja hingga 0,19 persen di sektor pangan dan pengolahan," lanjut Iwan.

Dalam evaluasi terhadap penerima manfaat dan pemangku kepentingan, program MBG dinilai telah berjalan mendekati ekspektasi yang diharapkan.

"Secara umum kinerja program telah mendekati dengan ekspektasi mereka, walaupun mungkin ada catatan terkait dengan jumlah makanannya," ungkapnya.

Rekomendasi Penguatan Program

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, BRIN merekomendasikan penguatan sistem pelaksanaan program MBG melalui pengembangan dashboard nasional berbasis output dan outcome.

Sistem tersebut diharapkan mampu mengintegrasikan standar gizi, keamanan pangan, distribusi, serta tata kelola program secara real-time dan transparan.

Selain itu, Iwan menilai sistem jaminan mutu juga perlu diperkuat melalui mekanisme supervisi berbasis risiko dan fungsi quality assurance yang independen.

"Keberlanjutan program ditentukan oleh kapasitas SDM dan komunikasi publik yang efektif, melalui pelatihan berkala, pelibatan komunitas, serta strategi komunikasi yang jelas dan membuka ruang umpan balik masyarakat." tutur Iwan Hermawan.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.