Waduh, Harga Minyak Dunia Naik ke Level 106 Dolar AS per Barel

Waduh, Harga Minyak Dunia Naik ke Level 106 Dolar AS per Barel
Ilustrasi kenaikan harga minyak mentah
Ikhtisar
  • Harga minyak mentah dunia melonjak di atas US$100 per barel per Minggu (8/3/2026).
  • Harga minyak terbaru ini merupakan yang tertinggi setelah medio 2022, saat terjadi perang Rusia melawan Ukraina.
  • Para produsen besar minyak di Negara Teluk memangkas produksi akibat penutupan Selat Hormuz.

INFORMASI.COM, Jakarta - Harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga menembus US$100 per barel pada perdagangan Minggu (waktu setempat). Kenaikan ini terjadi setelah sejumlah produsen besar di Timur Tengah memangkas produksi karena jalur pengiriman utama energi dunia, Selat Hormuz, masih ditutup akibat konflik dengan Iran.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 17% atau US$15,32 menjadi US$106,22 per barel. Sementara itu, patokan global Brent menguat 15% atau US$14,28 menjadi US$106,92 per barel.

Lonjakan ini memperpanjang kenaikan tajam harga minyak yang sudah terjadi sepanjang pekan lalu. Minyak mentah Amerika Serikat bahkan tercatat melonjak sekitar 35% dalam sepekan, menjadi kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan kontrak berjangka sejak 1983.

Kenaikan harga tersebut juga menandai kembalinya minyak dunia ke level tiga digit. Terakhir kali harga minyak menembus US$100 per barel terjadi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Melejitnya harga minyak mentah ditengarai terjadi akibat perang AS-Israel versus Iran yang terus berkecamuk.

Di tengah ketegangan tersebut, sejumlah negara produsen minyak di kawasan Teluk mulai menurunkan produksi mereka.

Kuwait, produsen minyak terbesar kelima dalam organisasi OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries), Sabtu (7/3/2026), mengumumkan bahwa pihaknya melakukan pengurangan produksi minyak dan output kilang sebagai langkah pencegahan.

Perusahaan minyak milik Kuwait tidak menjelaskan besaran pengurangan produksi yang dilakukan. Mereka hanya menyatakan keputusan tersebut diambil karena adanya ancaman Iran terhadap keamanan jalur pelayaran kapal di Selat Hormuz. 

Sementara itu, produksi minyak di Iraq, produsen terbesar kedua di OPEC, dilaporkan turun drastis.

Tiga pejabat ESDM Iran menyebut produksi dari tiga ladang minyak utama di wilayah selatan Irak turun sekitar 70% menjadi hanya 1,3 juta barel per hari. Sebelum konflik dengan Iran, ladang-ladang tersebut memproduksi sekitar 4,3 juta barel per hari.

Uni Emirat Arab pun telah menurunkan produksi kilang minyak di lepas pantai meskipun produksi di darat masih berjalan normal.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.