Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bisa 6 Persen meski Kondisi Global Karut-Marut

Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bisa 6 Persen meski Kondisi Global Karut-Marut
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan dalam taklimat media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (26/9/2025). (ANTARA/Imamatul Silfia)

INFORMASI.COM, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam fase ekspansi dengan fundamental yang kuat. Pemerintah menilai posisi tersebut membuat perekonomian nasional tetap mampu menghadapi tekanan dari gejolak global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2026). Ia menegaskan masyarakat tidak perlu terlalu khawatir terhadap dampak kondisi ekonomi global.

"Ekonomi sedang mengalami masa ekspansi dalam posisi yang kuat kalau kita harus menghadapi dampak negatif dari gejolak perekonomian global. Jadi teman-teman nggak usah takut, kita bisa mengendalikan dampak negatif dengan baik ke depan karena posisi kita dari posisi yang kuat," kata Purbaya.

Menurut dia, stabilitas makroekonomi domestik masih terjaga meskipun ketegangan geopolitik meningkat. Pemerintah bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 dapat melampaui capaian kuartal sebelumnya.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi pada triwulan sebelumnya mencapai 5,39 persen dan memperkirakan angka tersebut dapat meningkat pada triwulan pertama tahun ini.

"Pertumbuhan (ekonomi) triwulan lalu 5,39% dan harusnya triwulan ini akan tumbuh lebih cepat. Saya selalu bilang antara 5,5% sampai 6% mungkin masih bisa tercapai," ucapnya.

Kinerja ekonomi tersebut juga tercermin dari sejumlah indikator yang menunjukkan tren positif. Salah satunya adalah Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang mencapai 53,8 pada Februari 2026, level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Dari sisi eksternal, ketahanan ekonomi juga terlihat dari surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut serta cadangan devisa yang mencapai sekitar US$152 miliar. Purbaya mengatakan aktivitas ekonomi mulai kembali menguat sejak awal triwulan IV-2025 dan tren tersebut berlanjut hingga tahun ini.

"Aktivitas ekonomi berbalik menguat sejak awal triwulan IV-2025 dan berlanjut pada 2026. Ini memperkuat optimisme masyarakat serta menopang pertumbuhan ekonomi," tutur Purbaya.

Selain itu, pemerintah menilai daya beli masyarakat mulai membaik menjelang Idul Fitri. Hal tersebut tercermin dari Mandiri Spending Index yang mencapai 360,7 pada Februari 2026. Peningkatan konsumsi terutama berasal dari sektor barang konsumsi, pendidikan, dan mobilitas masyarakat.

Purbaya menjelaskan indikator konsumsi rumah tangga masih cukup kuat. Ia mencontohkan penjualan ritel yang tumbuh positif serta indeks keyakinan konsumen yang tetap tinggi. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan ekspektasi masyarakat terhadap perekonomian masih optimistis.

"Penjualan ritel tumbuh positif dan index keyakinan konsumen bertahan tinggi. Ini menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap solid dan ekspektasi masyarakat tetap optimis. Anda lihat lagi indikator daya beli yang baik antara lain dari industri otomotif yang melanjutkan tren positif dengan penjualan mobil tumbuh dua digit 12,2% pada Februari 2026. Sementara penjualan sepeda motor tetap stabil positif di 1%," beber Purbaya.

Ia menambahkan perbaikan daya beli masyarakat mulai terlihat secara nyata dan pemerintah memperkirakan tren tersebut akan terus berlanjut.




BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.