Harga BBM di 85 Negara Naik Gara-gara Perang AS vs Iran, Kamboja dan Vietnam Paling Tinggi

Harga BBM di 85 Negara Naik Gara-gara Perang AS vs Iran, Kamboja dan Vietnam Paling Tinggi
Seorang warga AS tengah mengisi BBM di SPBU Synergy. Foto: Istimewa
Ikhtisar
  • Harga bahan bakar di berbagai negara melonjak setelah perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari.
  • Data platform pemantau energi global menunjukkan sedikitnya 85 negara menaikkan harga bensin di tingkat ritel.
  • Dampak ekonomi meluas hingga kebijakan darurat di sejumlah negara, mulai dari pembatasan harga BBM hingga penghematan energi nasional.

INFORMASI.COM, Jakarta - Lonjakan harga bahan bakar mulai dirasakan pengendara di berbagai negara setelah pecahnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Sejak perang dimulai, harga bensin di sejumlah wilayah dunia dilaporkan meningkat tajam.

Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin reguler yang pada Februari berada di kisaran 2,94 dolar AS per galon kini naik menjadi 3,58 dolar AS per galon. Data tersebut berasal dari pelacak harga ritel bahan bakar milik American Automobile Association melalui sistem pemantauan AAA Fuel Prices. Kenaikan tersebut mencerminkan lonjakan sekitar 20 persen sejak konflik dimulai.

Setiap negara bagian di Amerika Serikat menetapkan harga bensin secara mandiri. Namun sejumlah wilayah telah melampaui angka 4 dolar AS per galon, sementara di negara bagian California harga bahkan menembus lebih dari 5 dolar AS per galon. Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir.

85 Negara Naikkan Harga BBM

Lonjakan harga tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Analisis data dari platform pemantau energi global Global Petrol Prices menunjukkan setidaknya 85 negara melaporkan kenaikan harga bensin setelah serangan awal terhadap Iran pada 28 Februari.

Platform tersebut melacak harga energi ritel di sekitar 150 negara. Beberapa negara biasanya mengumumkan perubahan harga pada akhir bulan, sehingga kenaikan tambahan diperkirakan akan terlihat pada April.

Sejumlah negara mencatat kenaikan paling tajam. Kamboja menjadi yang tertinggi dengan lonjakan hampir 68 persen. Harga bensin beroktan 95 naik dari 1,11 dolar AS per liter pada 23 Februari menjadi 1,32 dolar AS pada 11 Maret.

Setelah itu, kenaikan besar juga terjadi di Vietnam dengan peningkatan sekitar 50 persen, disusul Nigeria sebesar 35 persen, Laos sebesar 33 persen, serta Kanada yang mencatat kenaikan sekitar 28 persen.

Asia Paling Terdampak

Di kawasan Asia, ketergantungan terhadap jalur energi melalui Selat Hormuz membuat dampak konflik terasa lebih besar. Jalur laut tersebut menghubungkan kawasan Teluk, yang juga dikenal sebagai Teluk Persia atau Teluk Arab, dengan Teluk Oman dan menjadi satu-satunya rute utama ekspor minyak bagi produsen di wilayah tersebut menuju samudra terbuka.

Sejak konflik pecah, jalur tersebut secara efektif tertutup, sehingga memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Negara-negara Asia Timur termasuk yang paling rentan. Jepang mengimpor sekitar 95 persen minyaknya dari kawasan Teluk, sedangkan Korea Selatan bergantung sekitar 70 persen pada sumber yang sama.

Untuk menstabilkan pasar energi, Jepang pada 8 Maret memerintahkan fasilitas cadangan minyaknya bersiap menghadapi kemungkinan pelepasan cadangan strategis. Sehari kemudian, Korea Selatan memperkenalkan batas harga maksimum untuk bensin dan diesel, kebijakan yang baru pertama kali diterapkan dalam 30 tahun terakhir.

Dampak konflik bahkan lebih berat dirasakan negara-negara Asia Selatan karena keterbatasan cadangan energi dan kapasitas fiskal.

Pemerintah Bangladesh memerintahkan seluruh universitas negeri maupun swasta ditutup sementara sebagai langkah penghematan energi nasional.

Sementara itu di Pakistan, pemerintah menerapkan pekan kerja empat hari bagi kantor pemerintahan. Sekolah-sekolah juga ditutup, dan kebijakan kerja dari rumah sebesar 50 persen diberlakukan guna menekan konsumsi bahan bakar.

Dampak Meluas ke Industri dan Pangan

Kenaikan harga energi tidak hanya memengaruhi sektor transportasi. Minyak dan gas juga menjadi bahan baku bagi berbagai produk sehari-hari.

Produk plastik seperti botol air, kemasan makanan, casing ponsel, hingga jarum suntik medis berasal dari turunan minyak mentah. Selain itu, bahan baku tekstil sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik juga bergantung pada minyak bumi.

Industri kosmetik juga menggunakan turunan minyak untuk memproduksi berbagai barang, termasuk petroleum jelly, lipstik, dan concealer.

Di sektor rumah tangga, deterjen, cairan pencuci piring, serta cat juga berasal dari bahan dasar petroleum. Bahkan sistem pangan global sangat bergantung pada gas alam yang digunakan dalam produksi pupuk untuk meningkatkan hasil panen dan menjaga pasokan makanan.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.