- • Bos Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, meninggal dunia di usia ke-86 pada Kamis (19/3/2026) di Singapura.
- • Lahir di Kudus, 2 Oktober 1939, ia dikenal sebagai pengusaha dengan pencapaian luar biasa dengan kekayaan ditaksir mencapai 20 miliar dolar AS.
- • Bersama adiknya, Michael mengembangkan bisnis ke berbagai bidang dari keuangan (BCA) hingga alat elektronik dan mobil listrik (Polytron).
INFORMASI.COM, Jakarta – Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya di dunia usaha. Michael Bambang Hartono, pengusaha senior pemilik Grup Djarum, menghembuskan napas terakhir pada Kamis (19/3/2026) pukul 13.15 waktu Singapura di usia 86 tahun.
Corporate Communication Senior Manager Grup Djarum, Budi Darmawan, membenarkan kabar tersebut. "Keluarga Besar PT Djarum berduka cita mendalam atas wafatnya Pimpinan Kami, Pak Michael Bambang Hartono, Kamis 19 Maret 2026 pukul 13.15 waktu Singapura," ujarnya dalam pernyataan resmi, Kamis.
Namun, di balik kabar duka ini, tersimpan kisah panjang tentang seorang visioner yang mengubah pabrik rokok lokal menjadi kerajaan bisnis global dan tetap berprestasi sebagai atlet hingga usia senja.
Masa Muda: Pewaris Pabrik yang Terbakar
Michael Bambang Hartono lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 2 Oktober 1939. Ia adalah putra sulung dari Oei Wie Gwan, seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang mendirikan pabrik rokok Djarum Gramophon pada 1950-an. Sang adik, Robert Budi Hartono, lahir di Semarang pada 28 April 1941.
Takdir membawanya ke dunia bisnis secara dramatis. Pada 1963, sang ayah meninggal dunia. Tak lama setelah itu, musibah besar datang: pabrik Djarum ludes terbakar. Di usia yang relatif muda, Michael bersama adiknya, Robert, mengambil alih puing-puing perusahaan dan memutuskan untuk membangunnya kembali dari nol.
Keputusan itu menjadi fondasi dari kerajaan bisnis yang kini dikenal sebagai Djarum Group. Dengan kerja keras dan visi jangka panjang, mereka tidak hanya mengembalikan kejayaan rokok Djarum, tetapi juga memperluasnya jauh melampaui industri kretek.
Baca Juga
Bos Djarum Michael Bambang Hartono Meninggal Dunia di Usia 86 Tahun
Ekonomi
Bangun Imperium: Dari Rokok ke BCA, Properti, dan Teknologi
Hartono bersaudara membuktikan diri sebagai konglomerat sejati dengan portofolio bisnis yang sangat terdiversifikasi. Langkah paling fenomenal mereka adalah akuisisi saham mayoritas PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pasca-krisis moneter 1998. Keputusan ini mengubah BCA menjadi bank swasta terbesar di Indonesia dan menjadi mesin uang utama keluarga.
Di luar perbankan, imperium bisnis mereka meliputi:
- •Elektronik: Kepemilikan penuh atas Polytron, merek elektronik ternama Indonesia.
- •Properti dan Ritel: Pengembangan kawasan premium Grand Indonesia di Jakarta, gedung perkantoran, serta hotel-hotel mewah.
- •Investasi Teknologi: Melalui GDP Venture, mereka berinvestasi di berbagai startup seperti Gojek, Blibli, Tiketcom, dan Kaskus.
- •Perkebunan: Melalui entitas seperti HPI Agro, mereka mengelola perkebunan kelapa sawit dan komoditas lain.
- •Internasionalisasi Olahraga: Pada 2019, mereka mengakuisisi klub sepak bola Italia, Como 1907, yang sukses promosi ke Serie A.
Dengan kerajaan bisnis seluas itu, nama Michael Bambang Hartono konsisten mendominasi daftar orang terkaya versi Forbes. Pada 2025, kekayaannya diperkirakan mencapai US$22,2 miliar atau sekitar Rp365 triliun, sementara adiknya Robert Budi Hartono memiliki kekayaan US$21,6 miliar. Forbes menggambarkan mereka sebagai dinasti bisnis paling abadi di Indonesia yang mendominasi sektor terdiversifikasi.
Jiwa Sosial dan Kecintaan pada Olahraga
Di tengah kesibukan bisnis, Michael tak pernah melupakan tanggung jawab sosial. Melalui Djarum Foundation yang didirikan pada 1986, ia menyalurkan kepedulian di bidang pendidikan, olahraga, lingkungan, dan budaya. Kontribusi terbesarnya di dunia olahraga adalah pembinaan bulu tangkis melalui PB Djarum, yang telah melahirkan puluhan atlet nasional berprestasi.
Namun, yang membuat sosoknya unik adalah kecintaannya pada olahraga bridge. Michael bukan sekadar penggemar, ia adalah atlet nasional yang gila prestasi. Ia meraih medali perunggu pada Kejuaraan Dunia tahun 2008, 2009, dan 2010. Puncaknya, pada Asian Games 2018 Jakarta, ia turun sebagai kontingen Indonesia di usia 78 tahun dan kembali meraih medali perunggu, menjadikannya atlet tertua dalam sejarah kontingen Indonesia.
Atas prestasi ini, pemerintah memberikan bonus Rp250 juta bebas pajak. Pada 2020, Presiden Joko Widodo menganugerahinya Satyalancana Dharma Olahraga sebagai pengakuan atas jasanya mengharumkan nama bangsa melalui cabang olahraga bridge.
Sederhana di Tengah Kemewahan
Meski bergelimang harta, Michael Bambang Hartono dikenal karena gaya hidupnya yang rendah hati. Ia kerap terlihat menyantap hidangan di warung sederhana, seperti Tahu Pong Karangsaru di Semarang yang menjadi langganannya. Potret dirinya di warung pinggir jalan kerap viral dan menjadi bukti bahwa kesederhanaan tetap ia jaga.
Dengan kepergian Michael Bambang Hartono, Indonesia kehilangan seorang pengusaha visioner, filantropis tulus, dan atlet berjiwa muda. Estafet kepemimpinan Grup Djarum kini berada di tangan generasi penerus, namun warisan nilai-nilai yang ia tanamkan; kerja keras, visi jangka panjang, dan cinta tanah air, akan terus hidup.