INFORMASI.COM, Jakarta - Masyarakat pelaku usaha mikro, khususnya pengrajin dan pedagang snack seperti keripik, kerupuk, dan pelaku usaha gorengan sedang terimpit kenaikan ganda.
Setelah harga minyak goreng goreng curah melambung menjadi 21 ribu hingga 22 ribu per kilogram dan migor kemasan menjadi 22 hingga 24 ribu per liter, kini giliran plastik kemasan yang meroket hingga menyentuh angka Rp50.000 per kilogram.
Di media sosial, keluhan demi keluhan bermunculan, disertai sindiran tajam terhadap keadaan negeri.
Lonjakan harga bahan baku plastik yang terjadi sejak Maret 2026 mulai terasa langsung di tingkat penjual eceran. Jika sebelumnya para pedagang kerupuk masih bisa mendapatkan plastik dengan harga sekitar Rp30.000–Rp35.000 per kilogram, kini angka itu melesat.
Sejumlah unggahan di media sosial pada 2 April 2026 memperlihatkan keprihatinan seorang warganet bernama Nariyatu Azuma. Ia hanya menuliskan kalimat pendek: “Harga plastik ga main mainn”. Unggahan itu mendapat 22 tanda suka dan 44 tanda tidak suka, dan memperoleh komentar hingga puluhan juga.
‘Minyak 21.000, Plastik 50.000’
Dalam tangkapan layar lain yang beredar, seorang pedagang kerupuk mencurahkan isi hatinya dengan hitungan sederhana namun menyakitkan. Ia menulis:
“Nasib tukang kurupuk bagaiman ini, minyak (goreng curah) 21.000 (per kg), plastik 50.000.”
Dua angka itu menjadi simbol pukulan beruntun bagi perajin makanan ringan. Minyak goreng yang masih tinggi belum surut, kini plastik pembungkus justru melambung lebih jauh. Di bagian bawah unggahan tersebut juga tercantum angka “104 253” yang diduga merujuk pada omzet atau jumlah produksi yang terus menurun.
Keluhan lebih panjang datang dari seorang pedagang lainnya dengan bahasa daerah. Ia menulis:
“leu teh kumaha pelastik meli sorangan jaba nahal di tambah setoran naek deui...ari babawaan ngan 15timbang na mana piburuhen dewek.”
Kurang lebih artinya begini: Ini bagaimana, plastik beli sendiri, apalagi mahal, ditambah setoran naik lagi... kalau bawaannya hanya 15 timbangan, mana bisa cari untung sendiri.
Kutipan itu memperlihatkan beban ganda bagi pedagang kecil. Harga plastik yang naik, setoran (mungkin kepada pemilik modal atau tempat usaha) ikut naik, sementara barang bawaan (modal awal) hanya sedikit.
Tawaran ‘Spesial’ di Tengah Keterbatasan
Di grup pengrajin kerupuk lainnya, seorang penjual plastik mencoba menawarkan solusi. Namun tawarannya justru menunjukkan betapa mahalnya harga saat ini. Ia menulis:
“Selamat siang rekan-rekan pengrajin dan pengusaha kerupuk, Di tengah kondisi harga plastik yang terus meroket, saya mau menawarkan plastik harga spesial per hari ini 42.000/kg minimal pembelian 1 bal (isi 25 kg). Stock terbatas ya.”
Harga Rp42.000 per kilogram itupun disebut ‘spesial’, dengan syarat membeli 25 kilogram sekali jalan. Bagi pedagang kecil yang biasanya membeli eceran 2–5 kilogram, tawaran ini sulit dijangkau.
‘Omongnya Demi Rakyat, Tapi Rakyat Makin Menjerit’
Di kolom komentar unggahan Nariyatu Azuma, seorang warganet bernama Ro Iz melontarkan kritik tajam:
“Koq makin parah ya negeri ini.... Omongnya selalu demi Rakyat, tp rakyat makin menjerit.”
Komentar itu mendapat balasan dari akun Kerupuk Bawang Haji Mukhlis yang hanya menulis: “Parah kak, sekarang.”
Dua balasan singkat itu merangkum suasana hati para pelaku UMKM: lelah, kecewa, dan merasa tidak didengar.
Pemerintah Akui Dampak Perang Global
Secara terpisah, Menteri Perdagangan Budi Santoso angkat suara. Ia mengakui bahwa kenaikan harga plastik nasional dipengaruhi oleh konflik internasional. Dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu (1/4/2026), Mendag Busan menjelaskan:
“Memang beberapa hari ini harga plastik yang beredar di masyarakat mengalami kenaikan. Ini merupakan bagian dari dampak perang, karena salah satu bahan baku plastik yaitu nafta kita impor dari Timur Tengah.”
Menurut penjelasan resmi, nafta, produk sampingan minyak bumi yang diolah menjadi etilena dan propilena, mengalami gangguan pasokan akibat ketegangan di Selat Hormuz. Akibatnya, harga nafta dunia melonjak dari 600 dolar AS menjadi 800 dolar AS per ton, bahkan berpotensi menyentuh 900 dolar AS. Harga plastik global ikut terdongkrak dari 1.100 dolar AS menjadi 1.400 dolar AS per ton.
Gangguan logistik global membuat produsen dalam negeri menahan penjualan dan memprioritaskan pemenuhan kontrak lama. Akibatnya, pasokan plastik untuk pedagang kecil semakin langka. Di tingkat internasional, produsen polyethylene di Amerika Serikat bahkan berlomba membeli bahan baku ethylene untuk memanfaatkan peluang ekspor, yang semakin memperketat pasokan dunia.
Pemerintah saat ini berupaya melakukan diversifikasi impor ke Afrika dan Amerika. Namun bagi pedagang kerupuk yang setiap pagi harus membungkus dagangannya, solusi itu terasa masih terlalu jauh. Sementara di pasar, harga plastik terus merangkak naik dan tak ada tanda-tanda akan segera turun.
Harga Minyak Goreng Jauh di Atas HET
Selain kenaikan harga plastik, Mendag juga sebelumnya mengakui bahwa harga minyak goreng juga sudah di atas Harga Eceran Tertinggi. Pengakuan diucapkan Budi Santoso pada 18 Februari 2026. Saat itu, atau beberapa waktu sebelum Ramadan 1447 Hijiriah, harga rata-rata nasional Minyakita adalah Rp16.020 per liter. Angka itu di atas HET minyak goreng yang ditetapkan sebesar 15.700 per liter.
Kini, harga minyak goreng memang sudah jauh dari HET. Berdasarkan laporan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia, rata-rata harga minyak goreng curah secara nasional berada di angka Rp20.500 per kilogram, sementara harga minyak goreng kemasan bermerk II yakni Rp22.200 per liter dan minyak goreng kemasan bermerk I yakni Rp23.300 per liter.