- • Bulog segera mengajukan tambahan kuota distribusi Minyakita karena stok minyak goreng rakyat itu terbatas di banyak pasar di seluruh Indonesia.
- • Porsi DMO yang diterima Bulog hanya 70% dari 35% kuota nasional, sisanya dibagi ke ID Food dan Agrinas Palma.
- • Penyaluran bantuan pangan ke 3,3 juta penerima manfaat turut mempengaruhi ketersediaan stok minyak goreng di pasaran.
INFORMASI.COM, Jakarta - Keterbatasan stok Minyakita di sejumlah pasar tradisional mendorong Perum Bulog untuk segera mengambil langkah strategis. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan itu berencana mengajukan permintaan tambahan alokasi distribusi minyak goreng rakyat kepada Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam waktu dekat.
Langkah tersebut diungkapkan langsung oleh Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani. Menurutnya, akar persoalan terletak pada skema domestic market obligation (DMO) yang mengatur pembagian kuota Minyakita. Bulog hanya mendapatkan porsi terbatas, sementara cakupan wilayah distribusinya sangat luas.
"Karena untuk Minyakita, Bulog itu dapat DMO-nya 35% dari nasional. Namun, itu dari 35% juga masih dibagi tiga, yang pertama adalah Bulog sendiri 70%, ID Food 20%, kemudian Agrinas Palma 10%," papar Ahmad Rizal, akhir pekan lalu.
Dari porsi yang hanya 70% dari 35% kuota nasional itu, Bulog kemudian harus mendistribusikan Minyakita ke seluruh pasar yang menjadi lokasi pemantauan harga Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) serta pasar rakyat di seluruh Tanah Air. Total volume yang dikelola sekitar 40.000 kiloliter.
"Nah, kondisi ini kami [Bulog] yang dari 70% [pembagian DMO Minyakita] itu, 30% DMO itu harus melayani seluruh pasar-pasar [yang dijadikan lokasi pemantauan] SP2KP dan pasar-pasar rakyat," ucapnya.
Pembagian yang timpang dan cakupan wilayah yang luas itu membuat stok Minyakita cepat menipis. Ahmad Rizal pun mengaku telah mendapatkan arahan langsung dari Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, untuk mengajukan tambahan kuota DMO.
"Nah, ini kami kemarin sesuai arahan dari Bapak Menteri Pertanian selaku Kepala Bapanas untuk mengajukan tambahan [kuota distribusi] DMO [Minyakita]," sebutnya.
Situasi semakin pelik karena Bulog juga mendapat penugasan baru: menyalurkan bantuan pangan kepada sekitar 3,3 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Bantuan itu terdiri dari beras 10 kilogram dan minyak goreng 2 liter per penerima. Program intervensi ini turut menyedot stok minyak goreng yang seharusnya bisa dialirkan ke pasar-pasar rakyat.
"Bantuan tersebut adalah beras 10 kilogram dan minyak goreng 2 liter. Nah, ini agak sedikit berpengaruh khususnya [terhadap stok] minyak goreng," beber Ahmad Rizal.
Setelah mengajukan permintaan penambahan DMO ke Kemendag, Bulog berencana melakukan koordinasi lebih lanjut. Ahmad Rizal mengatakan bahwa pihaknya akan menjalin komunikasi dengan institusi terkait dan para pemasok di tingkat hulu. Tujuannya agar rantai pasok tidak terhambat dan tambahan kuota yang diberikan bisa segera terealisasi.
"Kami akan koordinasikan lagi ke Kemendag, termasuk juga ke para distributor khususnya para produsen-produsennya sehingga nanti support minyak lebih meningkat," pungkasnya.
Dengan langkah ini, masyarakat berharap kelangkaan Minyakita di pasaran segera teratasi. Pemerintah pun diharapkan bisa merespon cepat permintaan Bulog, mengingat minyak goreng rakyat ini menjadi salah satu penyangga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.