- • Iran dan China mulai mendorong penggunaan yuan dalam transaksi pelayaran dan energi di Selat Hormuz.
- • Bahkan hal itu dilakukan di tengah perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
- • Langkah ini dinilai menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat dalam perdagangan global.
INFORMASI.COM, Jakarta - Iran dan China memanfaatkan gejolak perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran untuk mendorong agenda lama mereka: mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat dalam sistem keuangan global.
Saat konflik yang mengguncang ekonomi dunia itu dihentikan sementara selama dua pekan pada Rabu lewat jalur diplomasi baru, Teheran dan Beijing justru bergerak di bidang lain. Keduanya melihat situasi ini sebagai momentum untuk memperkuat penggunaan yuan, terutama di sektor energi yang selama puluhan tahun menjadi basis kekuatan finansial Amerika Serikat.
Iran dan China Bidik Selat Hormuz
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk dengan pasar global itu menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Dalam posisi itulah Iran dan China disebut menemukan peluang untuk mendorong yuan sebagai alternatif dolar Amerika Serikat.
Sejumlah laporan menyebut kapal-kapal komersial yang melintas di kawasan itu mulai dikenakan biaya transit dalam yuan di bawah skema yang disebut sebagai rezim “gerbang tol de facto” oleh pejabat Iran. Langkah ini menjadi contoh terbaru dari semakin eratnya kerja sama ekonomi Teheran dan Beijing.
Menurut Lloyd’s List, setidaknya dua kapal telah melakukan pembayaran dalam yuan hingga 25 Maret, meski belum diketahui berapa jumlah total kapal yang sudah menggunakan mata uang China itu.
Pekan lalu, Kementerian Perdagangan China juga mengakui laporan tersebut dalam unggahan media sosial yang dinilai mengonfirmasi penggunaan yuan untuk penyelesaian pembayaran.
Pada Sabtu, Kedutaan Besar Iran di Zimbabwe bahkan secara terbuka menyatakan sudah waktunya menambahkan “petroyuan” ke pasar minyak global.
Sementara itu, Iran pada Rabu menyatakan akan menjamin keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz selama dua pekan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat.
Mengapa Dolar Jadi Sasaran?
Bagi Iran dan China, dominasi dolar bukan sekadar urusan teknis perdagangan internasional. Keduanya memandang dolar sebagai alat politik dan ekonomi yang selama ini dipakai Washington untuk memberi tekanan, termasuk lewat sanksi.
Dominasi itu paling terlihat di pasar energi global. Berdasarkan estimasi JP Morgan Chase pada 2023, sekitar 80 persen transaksi minyak dunia masih diselesaikan menggunakan dolar Amerika Serikat.
Karena itu, setiap upaya mengalihkan transaksi minyak atau logistik energi ke mata uang lain langsung memiliki bobot geopolitik yang besar.
Kenneth Rogoff, profesor ekonomi di Harvard University dan mantan kepala ekonom Dana Moneter Internasional (IMF), menilai langkah Iran bukan sekadar simbolik.
“Di satu sisi, Iran ingin menusuk mata Amerika Serikat, menambah penghinaan di atas luka,” kata Rogoff kepada Al Jazeera.
Namun menurut dia, kepentingan Iran juga sangat praktis.
“Di sisi lain, Iran sangat serius lebih memilih yuan untuk menghindari sanksi Amerika Serikat dan mempererat hubungan dengan sekutunya, China, yang terus bergerak secara bertahap untuk mengalihkan denominasi perdagangannya sendiri, dan perdagangan negara-negara BRICS, ke yuan,” ujar Rogoff.
Hubungan Dagang Iran-China Makin Dalam
Dorongan penggunaan yuan tidak lahir di ruang kosong. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan ekonomi Iran dan China terus menguat, terutama setelah kedua negara menandatangani kemitraan strategis 25 tahun pada 2021.
China kini membeli lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran, dengan harga diskon yang secara luas diyakini difasilitasi lewat penggunaan yuan.
Sebaliknya, Iran mengimpor berbagai barang industri dari China dalam jumlah besar, mulai dari mesin, peralatan elektronik, bahan kimia, hingga komponen manufaktur.
Menariknya, perang tidak banyak mengganggu arus perdagangan energi di antara keduanya.
Analisis dari sejumlah firma data dan analitik menunjukkan aliran minyak Iran ke China tetap relatif stabil seperti sebelum konflik. Dalam dua pekan pertama perang, Iran mengekspor sekitar 12 juta hingga 13,7 juta barel minyak mentah, dan sebagian besar dikirim ke China, menurut data Kpler dan TankerTrackers.
Bulent Gokay, profesor hubungan internasional di Keele University, Inggris, mengatakan Iran memahami arti penting pertarungan ini terhadap kekuatan finansial Amerika Serikat.
“Iran jelas memahami pentingnya tantangan ini terhadap dominasi finansial Amerika Serikat, serta peran vital sistem dolar dan petrodolar,” kata Gokay kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa bagi China, langkah ini sejalan dengan target jangka panjang Beijing.
“Dunia keuangan multipolar di mana peran sentral dolar Amerika Serikat diimbangi oleh pengaruh yang tumbuh dari kekuatan-kekuatan baru,” ujarnya.
Ambisi Besar China, Tapi Jalan Yuan Masih Panjang
China sudah lama ingin memperluas peran yuan di panggung global. Dalam pidatonya kepada para pejabat pada 2024, Presiden China Xi Jinping menyampaikan harapannya agar yuan menjadi mata uang umum dalam perdagangan internasional dan mencapai “status mata uang cadangan global”.
Dalam beberapa tahun terakhir, yuan memang terus memperluas pengaruhnya, terutama di negara-negara Global South yang hubungannya dengan Washington kerap tegang.
Namun, jalan menuju posisi setara dolar masih sangat berat.
Salah satu hambatan terbesarnya adalah yuan belum sepenuhnya bebas dikonversi. Berbeda dengan dolar, yuan masih dibatasi oleh kontrol modal ketat dari pemerintah China. Akibatnya, pelaku usaha dan institusi keuangan tidak bisa secara bebas menukar yuan ke mata uang lain atau memindahkannya lintas negara tanpa hambatan.
Selain itu, kontrol kuat negara terhadap lembaga keuangan China, termasuk bank sentral, juga menimbulkan kekhawatiran soal transparansi dan kepastian regulasi.
Data IMF menunjukkan dolar masih menyumbang 57 persen dari cadangan devisa global tahun lalu. Sebagai perbandingan, euro mencakup sekitar 20 persen, sedangkan yuan baru sekitar 2 persen.
Dalam perdagangan lintas negara, posisi yuan juga masih kecil. Menurut S&P Global, hanya 3,7 persen perdagangan lintas batas yang diselesaikan dalam yuan pada 2024, naik dari kurang dari 1 persen pada 2012.
Apakah Ini Awal Dedolarisasi?
Sejumlah ekonom menilai langkah Iran dan China di Selat Hormuz belum cukup untuk mengguncang sistem dolar secara global. Namun, mereka melihatnya sebagai bagian dari tekanan bertahap yang bisa menjadi penting dalam jangka panjang.
Alicia Garcia-Herrero, kepala ekonom Asia Pasifik di Natixis Hong Kong, mengatakan langkah tersebut belum bisa disebut sebagai titik balik dedolarisasi dunia.
“Ini sebenarnya bukan hal yang akan benar-benar ‘mendedolarisasi’ dunia,” kata Garcia-Herrero kepada Al Jazeera.
Meski begitu, ia menilai efek normalisasinya tetap penting.
“Langkah itu hanya menambah tekanan secara bertahap dan menormalkan alternatif dalam arus energi,” ujarnya.
Menurut Garcia-Herrero, dedolarisasi yang lebih luas baru akan punya dampak besar jika negara-negara Teluk ikut terlibat. Hingga kini, negara-negara produsen minyak di kawasan itu masih menetapkan harga minyak mereka dalam dolar sejak 1970-an, ketika Arab Saudi menyepakati penggunaan eksklusif dolar sebagai imbalan atas jaminan keamanan dari Amerika Serikat.
Mengapa China Lebih Berpeluang daripada Eropa atau Jepang?
Bagi sebagian analis, kekuatan utama China bukan hanya pada mata uangnya, melainkan pada kemampuan industrinya.
Hosuk Lee-Makiyama, direktur European Centre for International Political Economy di Brussels, menilai hubungan dagang Iran-China sudah cukup saling mengisi.
“China membeli hampir seluruh minyak Iran, dan perdagangan mereka sebenarnya seimbang karena Iran bisa mendapatkan semua mesin dan barang industri yang tidak bisa diperolehnya dari tempat lain,” kata Lee-Makiyama kepada Al Jazeera.
Ia menjelaskan bahwa euro maupun yen Jepang gagal menggantikan dolar di masa lalu karena Eropa dan Jepang tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan impor negara-negara penghasil minyak.
China, kata dia, punya posisi yang berbeda.
“Mungkin merupakan yang paling mendekati toko serba ada manufaktur yang pernah dilihat dunia,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Dan Steinbock, pendiri firma konsultan Difference Group. Ia menilai dominasi dolar tidak akan runtuh dalam waktu dekat, tetapi penggunaan yuan yang makin luas dapat mengikis pengaruh Amerika Serikat di sektor-sektor tertentu.
“Secara keseluruhan, ini adalah soal pengikisan bertahap, bukan penggantian mendadak,” kata Steinbock kepada Al Jazeera.
Nasib Dolar Akan Ditentukan Hasil Akhir Perang
Pada akhirnya, masa depan yuan sebagai penantang dolar tetap sangat bergantung pada hasil akhir perang dan dampak politik-ekonominya dalam beberapa tahun ke depan.
Rogoff menilai, jika Iran dan China keluar dari konflik ini dalam posisi lebih kuat, negara-negara lain bisa semakin terdorong untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan berbasis dolar demi melindungi diri dari sanksi Amerika Serikat.
“Jika Iran dan China menang, dalam sebagian besar skenario, itu akan mendorong negara-negara untuk melakukan diversifikasi menjauh dari sistem keuangan dolar agar melindungi diri dari kemungkinan disandera oleh sanksi finansial Amerika Serikat,” ujar Rogoff.
Namun, ia juga mengingatkan hasil sebaliknya akan memperpanjang umur dominasi dolar.
“Tetapi jika Amerika Serikat berhasil mencapai tujuan resminya untuk melumpuhkan dan menormalkan rezim radikal di Iran, yang saat ini tampak mungkin, tetapi sangat mahal dan menantang itu akan mendukung Amerika Serikat dan hegemoni dolar untuk sementara waktu lebih lama,” katanya.