- • Andi Amran Sulaiman menolak anggapan bahwa program biodiesel B50 menjadi penyebab lonjakan harga minyak goreng.
- • Produksi CPO nasional disebut meningkat dari 44 juta ton menjadi mendekati 50 juta ton, kebutuhan minyak goreng hanya sekitar 20 juta ton.
- • Menteri Pertanian menuding adanya kemungkinan praktik mafia di balik kenaikan harga minyak goreng di tengah pasokan melimpah.
INFORMASI.COM, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman secara tegas membantah keterkaitan antara program biodiesel B50 dengan kenaikan harga minyak goreng di pasar domestik. Menurutnya, pasokan bahan baku crude palm oil (CPO) nasional justru berada dalam kondisi berlebih.
Ia memaparkan data peningkatan signifikan produksi CPO dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya produksi nasional tercatat sekitar 44 juta ton, kini angka itu mendekati 50 juta ton seiring perbaikan produktivitas dan peningkatan ekspor.
“Nggak, kita kan ekspor ke luar negeri. Ini ekspor kita dari 26 juta ton menjadi 32 juta ton. Berarti bahan baku melimpah. Jadi janganlah naik,” kata Mentan di Jakarta, pekan lalu.
Amran menjelaskan bahwa program B50 tidak mengambil porsi dari kebutuhan minyak goreng dalam negeri. Kebijakan energi tersebut, menurut dia, memanfaatkan alokasi ekspor sehingga tidak mengganggu pasokan domestik. Dalam perhitungannya, tambahan produksi bahkan lebih besar dibanding kebutuhan untuk program energi tersebut.
“Lebih. Sekarang kita punya produksi sekitar 45 juta ton, bahkan mendekati 50 juta ton. Dulu 44 juta ton. Artinya lebih,” ujarnya.
Mentan menilai tidak ada hubungan langsung antara implementasi B50 dan kenaikan harga minyak goreng. Ia menyebut anggapan yang menghubungkan keduanya tidak tepat karena ketersediaan bahan baku dalam jumlah besar. Kebutuhan minyak goreng nasional, lanjutnya, hanya berada di kisaran 20 juta ton. Sementara total produksi nasional jauh melampaui angka tersebut, termasuk setelah program biodiesel berjalan.
“Kita ini berlebih. Masa bahan bakunya mau dinaikkan, lalu harga minyak goreng dihubungkan dengan B50? Apa hubungannya?” kata Amran tegas.
Meski pasokan melimpah, Mentan mengakui terdapat faktor lain di luar produksi yang memengaruhi harga di pasar. Komponen biaya seperti kemasan dan distribusi turut berkontribusi terhadap kenaikan harga. Ia pun meminta pelaku usaha tidak menaikkan harga secara berlebihan dan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat.
“Janganlah naik-naiklah, boleh sedikit, tapi jangan banyak sekali,” tuturnya.
Amran menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng. Pemerintah juga membuka opsi penguatan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam distribusi agar pengendalian harga lebih efektif.
Lebih jauh, ia menilai kenaikan harga di tengah kondisi pasokan melimpah sebagai anomali yang perlu ditelusuri. Ia mengindikasikan kemungkinan adanya praktik yang mengganggu stabilitas pasar.
“Sekarang beras melimpah, minyak goreng melimpah, tapi harga naik. Berarti apa? Ada mafia di tengahnya,” kata Amran.
Pemerintah memastikan akan terus memantau distribusi dan harga pangan di lapangan. Langkah ini ditempuh demi menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.