- • Indeks Harga Saham Gabungan terjun bebas 113,71 poin (1,54%) pada perdagangan Jumat (24/4/2026) hingga pukul 09.50 WIB.
- • IHSG menembus level 7.264 dengan 527 saham merah dan kapitalisasi pasar susut menjadi Rp13.013 triliun.
- • Seluruh sektor saham kompak melemah, dengan infrastruktur, konsumer, properti, dan energi sebagai pemberat utama.
INFORMASI.COM, Jakarta - Tekanan berat menghantam bursa saham domestik pada sesi pertama perdagangan Jumat (24/4/2026). IHSG ambrol lebih dari satu persen hanya dalam waktu kurang dari satu jam setelah pembukaan.
Para investor tampak melepas hampir seluruh pilihan saham mereka, terutama emiten-emiten besar, seiring memanasnya kembali situasi geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS.
Perdagangan baru berlangsung sekitar 47 menit ketika IHSG menunjukkan kelemahan yang dalam. Hingga pukul 09.47 WIB, indeks merosot 113,71 poin atau setara 1,54% ke posisi 7.264,89. Kondisi ini memperpanjang tren negatif yang sudah terlihat sejak pembukaan.
Data perdagangan di bursa mencatat suasana yang didominasi pejual. Sebanyak 527 saham tercatat berada di zona merah, sementara hanya 118 saham yang sanggup hijau. Sisanya, 95 saham, tidak bergerak. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp6,25 triliun yang melibatkan 14,67 miliar lembar saham dalam 827.676 kali transaksi. Akibat tekanan ini, kapitalisasi pasar saham Indonesia terkikis menjadi Rp13.013 triliun.
Seluruh sektor perdagangan tanpa kecuali ikut terpukul. Tiga sektor yang mengalami koreksi terdalam adalah infrastruktur, konsumer, properti, dan energi. Para emiten blue chip berkapitalisasi besar tampil sebagai pemberat utama kinerja IHSG. Nama-nama seperti BBCA, BBRI, AMMN, DSSA, dan TLKM menjadi laggard (saham dengan kinerja terburuk) pada sesi ini.
Tekanan di pasar domestik ini tidak terlepas dari kabar buruk dari luar negeri. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat kembali, memicu lonjakan harga komoditas energi. Harga minyak mentah Brent melesat dan ditutup lebih dari 3% ke level US$105,07 per barel.
Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak 7 April 2026. Sementara itu, indeks dolar AS juga melonjak ke 98,77, posisi tertinggi sejak 9 April 2026. Kombinasi ini diperkirakan akan terus membebani IHSG dan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata mereka selama tiga minggu. Kesepakatan ini dicapai setelah pertemuan di Gedung Putih dengan pejabat tinggi AS.
"Pertemuan berjalan sangat baik!" tulis Trump dalam unggahan Truth Social yang mengumumkan perpanjangan gencatan senjata sementara tersebut.
Meskipun gencatan senjata sempat diperpanjang (awalnya hanya 10 hari), para investor di kawasan Asia-Pasifik tetap berhati-hati. Pasar saham regional pun dibuka beragam.
Indeks Nikkei 225 Jepang justru naik 0,71% dan Topix naik 0,30% setelah data inflasi inti Jepang meningkat untuk pertama kalinya dalam lima bulan, dari 1,6% pada Februari menjadi 1,8% pada Maret. Angka itu sesuai perkiraan para ekonom yang disurvei oleh Reuters, meskipun perang Iran memicu kekhawatiran energi.
Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan turun 0,23%, indeks Kosdaq diperdagangkan datar. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di 25.802, lebih rendah dari penutupan terakhir indeks di 25.915,2. Di Australia, S&P/ASX 200 juga melemah 0,29%.
Tekanan juga datang dari Wall Street semalam. Pada perdagangan Kamis (24/4 waktu AS), saham-saham AS mengalami penurunan dipimpin oleh pelemahan saham perangkat lunak dan harga minyak yang lebih tinggi.
Indeks S&P 500 turun 0,41% ke 7.108,40, setelah sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi intraday baru. Nasdaq Composite yang didominasi teknologi merosot 0,89% ke 24.438,50, juga sempat mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada sesi yang sama. Dow Jones Industrial Average kehilangan 179,71 poin (0,36%) menjadi 49.310,32.
Dengan semua tekanan eksternal ini, para pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan geopolitik dan harga energi hingga akhir pekan. IHSG diprediksi masih akan menghadapi volatilitas yang tinggi.