- • Harga minyak Brent naik ke US$111,24 per barel dan menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
- • Serangan drone terhadap fasilitas nuklir Barakah di Uni Emirat Arab memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global.
- • Pasar juga bereaksi terhadap memanasnya konflik Iran serta berakhirnya kelonggaran sanksi minyak Rusia dari Amerika Serikat.
INFORMASI.COM, Jakarta - Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Senin (18/5/2026) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah. Pasar energi bergerak agresif setelah serangan drone menghantam fasilitas nuklir Barakah di Uni Emirat Arab (UEA), sementara konflik yang melibatkan Iran kembali memanas.
Berdasarkan data Refinitiv pada Senin pukul 10.15 WIB, harga minyak Brent kontrak Juli (LCOc1) tercatat mencapai US$111,24 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI/CLc1) naik ke level US$107,70 per barel.
Kenaikan tersebut memperpanjang reli harga minyak sepanjang Mei 2026. Dalam delapan hari perdagangan terakhir, harga Brent melonjak sekitar 11,2 persen dari posisi US$100,06 per barel pada 7 Mei menjadi di atas US$111 per barel. Adapun WTI naik lebih tajam dari US$94,81 menjadi US$107,70 per barel.
Lonjakan harga terjadi setelah pasar kembali mencermati ancaman terhadap pasokan energi global. Reuters melaporkan upaya menghentikan konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran masih belum menunjukkan perkembangan signifikan. Kondisi itu membuat pelaku pasar semakin sensitif terhadap setiap ancaman di kawasan Teluk yang menjadi pusat distribusi minyak dunia.
Pemerintah UEA sebelumnya melaporkan adanya serangan drone terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah. Pada waktu hampir bersamaan, Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat tiga drone yang memasuki wilayah udaranya dari arah Irak.
Rangkaian insiden tersebut membuat pasar mulai menghitung ulang risiko terhadap keamanan infrastruktur energi di Timur Tengah. Kawasan Teluk, termasuk Selat Hormuz, selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak global sehingga setiap eskalasi konflik berpotensi mengganggu rantai pasok internasional.
Di tengah kekhawatiran tersebut, kontrak Brent sempat menyentuh US$112 per barel pada perdagangan Asia. Level itu menjadi yang tertinggi sejak 5 Mei 2026. Sementara itu, WTI sempat menembus US$108,70 per barel, tertinggi sejak akhir April.
Sebelumnya, pasar sempat berharap munculnya jalur diplomasi baru setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu Presiden China Xi Jinping pada pekan lalu. Namun pertemuan tersebut belum menghasilkan sinyal kuat terkait penyelesaian konflik maupun upaya meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Selain faktor geopolitik, pasar minyak juga mendapat tekanan tambahan dari kebijakan terbaru Washington terhadap Rusia. Pemerintahan Trump membiarkan masa berlaku waiver atau kelonggaran sanksi minyak laut Rusia berakhir.
Kebijakan itu sebelumnya memungkinkan sejumlah negara, termasuk India, tetap membeli minyak Rusia di tengah sanksi internasional. Berakhirnya waiver tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap fleksibilitas perdagangan minyak global.
Pelaku pasar kini menghadapi dua risiko utama secara bersamaan, yakni ancaman gangguan pasokan dari Timur Tengah dan potensi pengetatan distribusi minyak Rusia. Kombinasi kedua faktor tersebut mendorong investor kembali masuk ke aset energi dan mempercepat kenaikan harga minyak dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.