Rupiah Melemah Lagi Hari Ini, di Sejumlah Bank Dijual 17.800 per Dolar AS

Rupiah Melemah Lagi Hari Ini, di Sejumlah Bank Dijual 17.800 per Dolar AS
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Ikhtisar
  • Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa pagi melemah 60 poin menjadi Rp17.728 per dolar AS.
  • Penguatan indeks dolar AS dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS memicu tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
  • Sejumlah bank nasional mematok kurs jual dolar AS hingga Rp17.815 di pasar spot.

INFORMASI.COM, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Hingga pukul 11.02 WIB, rupiah melemah 60 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp17.728 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.668 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang Garuda juga tercermin di pasar spot. Sejumlah bank nasional menaikkan kurs jual dolar AS, bahkan mencapai level tertinggi Rp17.815 per dolar AS.

Berdasarkan kurs tengah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), posisi rupiah pada Senin (18/5/2026) berada di level Rp17.666 per dolar AS. Posisi tersebut masih lebih kuat dibandingkan Rabu (14/5/2026) yang tercatat sebesar Rp17.496 per dolar AS.

Di tengah pelemahan rupiah, bank-bank besar nasional menetapkan kurs jual dan beli dolar AS dengan variasi yang cukup lebar. Bank Rakyat Indonesia atau Bank Rakyat Indonesia menetapkan kurs jual Rp17.730 dan kurs beli Rp17.703 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Mandiri mematok kurs jual Rp17.800 dan kurs beli Rp17.500 per dolar AS. Bank Negara Indonesia menetapkan kurs jual Rp17.733 dan kurs beli Rp17.703 per dolar AS.

Adapun Bank Tabungan Negara mencatat kurs jual tertinggi di antara bank nasional, yakni Rp17.815 per dolar AS dengan kurs beli Rp17.565. Kemudian Bank Central Asia menetapkan kurs jual Rp17.790 dan kurs beli Rp17.590 per dolar AS.

Di sisi lain, CIMB Niaga mematok kurs jual Rp17.718 dan kurs beli Rp17.703 per dolar AS, sedangkan Bank Permata menetapkan kurs jual Rp17.725 dan kurs beli Rp17.540 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS atau DXY di pasar global. Indeks tersebut naik 0,09 persen ke level 99,370. Tren penguatan dolar AS bahkan telah berlangsung selama lima hari beruntun hingga akhir pekan lalu dan mengarah pada kenaikan mingguan terbesar dalam dua bulan terakhir.

Pelaku pasar menilai ketidakpastian perundingan antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik menjadi salah satu faktor yang menjaga permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi. Kondisi itu membuat investor cenderung mencari aset aman berbasis dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah semakin besar setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh 4,581 persen, level tertinggi dalam setahun terakhir. Kenaikan yield US Treasury dipicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi akibat perang Iran serta terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Di saat bersamaan, sejumlah pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve kembali menegaskan fokus utama mereka untuk menjaga inflasi tetap terkendali. Bahkan, sebagian pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga kembali apabila tekanan harga terus meningkat.

Perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed juga terlihat dari data CME FedWatch. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember mencapai 48,4 persen. Angka tersebut melonjak dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya 14,3 persen.

Penguatan dolar AS di pasar global pada akhirnya mempersempit ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah. Kondisi tersebut membuat rupiah rentan melanjutkan tekanan sejak awal perdagangan pekan ini.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.