- • World Cup 2026 memicu taruhan legal global hingga USD60 miliar.
- • Pasar saham Indonesia masih mencatat net sell investor asing dengan nilai hampir Rp80 triliun.
- • IHSG telah rebound lebih dari 12% dari low tahun ini di 5.317 dan kembali ke level 6.000.
INFORMASI.COM, Jakarta - Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata punya analisis menarik terkait perhelatan World Cup 2026 dan transaksi asing di pasar saham Indonesia. Menurut Liza, World Cup 2026 menjadi salah satu additional reasons to wait, terutama terhadap likuiditas investasi. Apa maksudnya?
Dalam riset yang dirilis Jumat (12/6/2026), Liza menjelaskan, World Cup 2026 yang bertempat di North America diperkirakan memicu taruhan legal global hingga USD60 miliar. Angka itu lebih tinggi 71 persen dibandingkan World Cup 2022 di Qatar. Bahkan, angka tersebut belum termasuk pasar ilegal.
Dengan Indonesia mencatat transaksi judol Rp286,8 triliun pada 2025, Liza menilai potensi dana yang berputar ke judi bola selama turnamen dapat mencapai Rp30 triliun-Rp60 triliun. Jika dibandingkan, nilai tersebut setara 40%-70% dari total foreign net sell Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara year to date.
"Risiko terbesar bukan pada pasar saham secara langsung, melainkan berkurangnya likuiditas yang seharusnya dapat mengalir ke konsumsi dan investasi produktif domestik," tutur Liza.
Baca Juga
Daftar Grup Piala Dunia 2026: Ada 2 Grup Neraka, Apa Saja?
Olahraga
Dari situ, Liza menjelaskan, foreign outflow memang masih berlanjut, namun secara historis hal tersebut tidak otomatis membatalkan peluang terbentuknya market bottom.
Fakta menariknya, kata Liza, pada tiga dari empat krisis besar terakhir (2008, 2013, 2015, dan 2020), IHSG sudah lebih dulu naik 15%-56% sebelum foreign flow berbalik menjadi net buy, bahkan pada kasus Covid-19 asing masih mencatatkan net sell kumulatif sekitar Rp27 triliun selama tahun pertama pemulihan.
Dengan kata lain, absennya foreign inflow bukanlah alasan yang cukup untuk menolak kemungkinan bahwa pasar sedang berada dalam fase awal pembentukan recovery. "Although it'll still be a bumpy ride," ujar Liza.
Baca Juga
IHSG Jeblok ke 7.658 di Awal Sesi, Aksi Jual Asing Tembus Rp292 Miliar
Ekonomi
Seperti diketahui, IHSG telah rebound lebih dari 12% dari low tahun ini di 5.317 dan kembali ke level 6.000. Namun foreign investors masih mencatatkan net sell hampir Rp80 triliun year to date.
"Artinya, pemulihan pasar sejauh ini masih lebih banyak ditopang investor domestik dibanding kembalinya dana asing," kata Liza mengungkapkan.
Liza pun berpendapat, valuasi pasar Indonesia justru telah kembali ke area yang secara historis menarik. Dengan IHSG yang sempat terkoreksi ke level terendah sejak pandemi dan valuasi kembali ke kisaran 13–14x PE, pasar kini mulai menawarkan diskon terhadap ketidakpastian yang ada.