- • Industri otomotif China menghadapi tekanan akibat perang harga, melemahnya permintaan domestik, serta berkurangnya insentif kendaraan listrik.
- • Penjualan mobil di China terus menurun sepanjang kuartal I dan kuartal II 2026, sehingga CPCA memangkas proyeksi penjualan tahunan dari turun 1 persen menjadi minus 11 persen.
- • Di tengah lesunya pasar dalam negeri, ekspor diperkirakan menjadi mesin pertumbuhan utama bagi BYD dan produsen otomotif China lainnya.
INFORMASI.COM, Jakarta - Pasar otomotif China masih berada dalam fase yang penuh tekanan pada 2026. Setelah bertahun-tahun menjadi motor pertumbuhan industri kendaraan listrik dunia, pasar domestik kini menghadapi perlambatan permintaan yang memaksa produsen mengandalkan ekspor untuk menjaga penjualan.
Tekanan tersebut tidak hanya dirasakan BYD. Sejumlah produsen kendaraan listrik lain seperti Leapmotor, Li Auto, hingga Xiaomi juga mengalami tekanan terhadap kinerja saham di tengah persaingan harga yang semakin agresif dan melemahnya daya beli konsumen.
Kondisi tersebut diperparah oleh berkurangnya berbagai insentif pembelian kendaraan listrik yang sebelumnya menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar. Di saat bersamaan, krisis sektor properti yang belum pulih turut menekan nilai aset rumah tangga dan mengurangi kepercayaan konsumen untuk membeli barang bernilai besar seperti mobil.
Tingginya stok kendaraan di jaringan dealer juga menjadi tantangan baru bagi industri. Persediaan yang belum terserap membuat produsen harus menawarkan potongan harga lebih besar untuk mempercepat penjualan, sehingga perang harga di pasar kendaraan listrik semakin sulit dihindari.
Data terbaru menunjukkan tekanan itu berlangsung hampir sepanjang semester pertama 2026. Menurut China Passenger Car Association (CPCA), penjualan mobil penumpang di pasar domestik turun 21,6 persen secara tahunan pada April menjadi sekitar 1,4 juta unit, kemudian kembali merosot 22,3 persen pada Mei menjadi 1,53 juta unit. Memasuki Juni, penurunan bahkan mencapai 23,4 persen menjadi sekitar 1,62 juta unit, sekaligus menandai sembilan bulan berturut-turut penjualan kendaraan di China mengalami kontraksi.
Secara kumulatif, pelemahan tersebut juga tercermin sepanjang kuartal I hingga kuartal II 2026. Hingga akhir Mei, penjualan domestik tercatat turun 19,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Setelah data Juni dihimpun, penurunan sepanjang semester pertama 2026 mencapai sekitar 20,4 persen dengan total penjualan domestik sekitar 8,8 juta unit.
Melihat kondisi tersebut, CPCA merevisi proyeksi pasar otomotif China untuk 2026. Jika sebelumnya asosiasi memperkirakan penjualan hanya turun sekitar 1 persen, kini estimasinya berubah menjadi penurunan hingga 11 persen sepanjang tahun. Revisi tajam itu mencerminkan besarnya tekanan terhadap permintaan kendaraan di pasar domestik.
Sejumlah analis menilai pelemahan tersebut dipicu oleh kombinasi beberapa faktor, mulai dari berkurangnya stimulus pemerintah, perang harga yang menggerus margin produsen, hingga sikap konsumen yang cenderung menunda pembelian kendaraan karena ketidakpastian ekonomi. Persaingan yang semakin ketat juga membuat banyak produsen harus terus meluncurkan model baru dengan harga lebih rendah untuk mempertahankan pangsa pasar.
Di tengah perlambatan pasar dalam negeri, ekspor justru menjadi titik terang bagi industri otomotif China. Pengiriman kendaraan ke luar negeri terus meningkat sepanjang semester pertama 2026 karena produsen semakin agresif memperluas pasar ke Eropa, Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Timur Tengah.
Bagi BYD maupun produsen otomotif China lainnya, tren tersebut diperkirakan akan menjadi penopang utama pertumbuhan bisnis dalam beberapa tahun ke depan. Dengan pasar domestik yang masih dibayangi lemahnya konsumsi, ekspansi internasional dipandang sebagai strategi paling realistis untuk menjaga volume penjualan sekaligus memperkuat posisi mereka di industri otomotif global.