- • PT Nations Petroleum, anak usaha Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo, memenangkan lelang blok migas di Natuna.
- • Blok itu yakni WK Natuna D-Alpha, bagian dari kawasan East Natuna yang ditemukan pada 1973.
- • Perusahaan Hashim disebut merilis komitmen pasti US$103,309 juta atau sekitar Rp1,83 triliun untuk tiga tahun pertama.
INFORMASI.COM, Jakarta - Perjalanan panjang Blok Natuna D-Alpha memasuki babak baru. Setelah lebih dari lima dekade sejak pertama kali ditemukan, wilayah kerja migas di lepas pantai Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau, itu kini dimenangkan PT Nations Petroleum melalui lelang yang digelar Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Nations Petroleum merupakan anak usaha Arsari Group yang didirikan dan dipimpin Hashim Djojohadikusumo, pengusaha yang juga merupakan adik Presiden Prabowo Subianto. Penetapan tersebut tercantum dalam Surat Keputusan Menteri ESDM Nomor 108.K/MG.4/DJM/2026 tertanggal 17 September 2026.
Untuk menggarap Natuna D-Alpha, Nations Petroleum menyatakan komitmen pasti sebesar US$103,309 juta untuk tiga tahun pertama. Dengan asumsi kurs Rp17.730 per dolar AS, nilai itu setara sekitar Rp1,83 triliun.
Perusahaan juga memberikan bonus tanda tangan US$200 ribu atau sekitar Rp3,55 miliar. Komitmen tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan lima WK lain yang ditetapkan pemenangnya dalam lelang tahap pertama 2026.
Komitmen Nations Petroleum Capai US$103,3 juta
Kementerian ESDM menetapkan enam pemenang dalam lelang WK migas Tahap I 2026. Dua wilayah ditawarkan melalui mekanisme penawaran langsung, yakni Sapukala dan Natuna D-Alpha. Empat wilayah lainnya menggunakan lelang reguler Area Studi ABT 2025, yaitu Bengara II, Pesut Mahakam, Puri, dan Rupat.
Dari enam wilayah tersebut, Natuna D-Alpha memiliki nilai komitmen terbesar. Nations Petroleum wajib menjalankan sejumlah pekerjaan pada tiga tahun pertama masa kontrak.
Rencana kerja itu mencakup tiga paket studi geologi dan geofisika, akuisisi serta pemrosesan data seismik 3D seluas 591 kilometer persegi, satu pilot unit design and engineering, tiga paket studi terpadu CO2, serta kegiatan manufacturing, procurement and construction.
Perusahaan juga mencantumkan dua paket biaya desain EPC, satu sumur appraisal, satu sumur eksplorasi, serta kegiatan operasi, pengujian multimode, dan monitoring. Total seluruh komitmen pasti tersebut mencapai US$103,309 juta.
Secara keseluruhan, enam pemenang lelang WK migas tahap pertama 2026 menyatakan komitmen pasti US$141,512 juta. Jika menggunakan asumsi kurs Rp17.730 per dolar AS, nilainya sekitar Rp2,51 triliun.
Selain itu, keenam pemenang memberikan bonus tanda tangan dengan total US$1,6 juta atau sekitar Rp28,37 miliar.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan hasil lelang tersebut menunjukkan masih adanya minat investor terhadap industri hulu migas Indonesia.
“Hal ini membuktikan bahwa industri hulu Migas di Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor,” kata Laode dalam keterangan Kementerian ESDM.
Menurut dia, pemerintah telah memperbaiki sejumlah aspek regulasi, termasuk skema bagi hasil, insentif, dan fasilitas perpajakan untuk mendukung iklim investasi hulu migas.
Natuna D-Alpha Ditemukan sejak 1973
Di balik penetapan pemenang baru tersebut, Natuna D-Alpha memiliki sejarah pengembangan yang panjang.
Kawasan ini pertama kali ditemukan pada 1973 oleh perusahaan migas asal Italia, AGIP. Penemuan tersebut mengungkap potensi gas dalam jumlah sangat besar di kawasan Natuna.
Pemerintah kemudian memberikan hak pengelolaan kepada ExxonMobil pada 1980. Namun, pengembangan menghadapi persoalan teknis karena gas di wilayah tersebut memiliki kandungan karbon dioksida yang sangat tinggi. Kementerian ESDM menyebut kandungan CO2 East Natuna mencapai sekitar 72 persen.
Tingginya kandungan CO2 membuat pengembangan lapangan membutuhkan teknologi khusus. Pemerintah sebelumnya memperkirakan pengembangan Natuna D-Alpha membutuhkan investasi sangat besar, termasuk teknologi untuk memisahkan, menangani, dan menyimpan karbon dioksida.
Kontrak ExxonMobil kemudian berakhir setelah pengembangan tidak mencapai tahap komersial. Pada 2008, pemerintah menyerahkan pengelolaan Natuna D-Alpha kepada Pertamina.
Pertamina kemudian mencari mitra untuk mengembangkan kawasan tersebut. ExxonMobil kembali terlibat bersama Total dan Petronas. Pada 2012, Petronas digantikan PTT Exploration and Production dari Thailand.
Namun, konsorsium tersebut tidak menghasilkan pengembangan komersial. Pada 2017, konsorsium pengembangan East Natuna berakhir.
Pemerintah Pecah East Natuna Jadi 3 Blok
Setelah rangkaian pengembangan sebelumnya tidak menghasilkan produksi komersial, pemerintah mengubah strategi penawaran.
Kementerian ESDM memecah kawasan East Natuna menjadi tiga wilayah kerja, yakni Arwana-Barakuda, Natuna D-Alpha, dan Paus. Pemerintah menyiapkan penawaran ketiga wilayah tersebut untuk mencari investor baru.
Saat itu, Direktur Jenderal Migas Tutuka Ariadji menjelaskan pemerintah akan menawarkan D-Alpha secara terbuka karena wilayah tersebut memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda.
“Di atas ada minyak, yang tengah ini yang D-Alpha yang cadangannya besar 46 TCF, lebih besar dari Masela, tapi mengandung karbon yang tinggi,” kata Tutuka dalam acara Energy Corner CNBC Indonesia pada 26 Desember 2022.
Tutuka juga menjelaskan pemerintah memilih membagi kawasan tersebut karena ukuran blok sebelumnya terlalu besar.
“Kita akan bagi tiga karena terlalu besar blok itu,” ujarnya.
Kementerian ESDM pada 2022 juga menyebut East Natuna memiliki potensi recoverable gas sekitar 46 triliun kaki kubik atau TCF. Kendala utama pengembangannya tetap berada pada kandungan CO2 yang sangat tinggi.
Setelah melalui proses penawaran, pemerintah akhirnya menetapkan Nations Petroleum sebagai pemenang Natuna D-Alpha pada 17 September 2026.
Nations Petroleum Hadapi Tantangan Pengembangan
Kemenangan dalam lelang belum berarti Natuna D-Alpha langsung menghasilkan migas. Nations Petroleum harus terlebih dahulu menjalankan komitmen eksplorasi dan studi yang telah ditawarkan dalam proses lelang.
Salah satu pekerjaan yang tercantum adalah pengeboran satu sumur appraisal dan satu sumur eksplorasi. Perusahaan juga harus menjalankan tiga paket studi terpadu CO2, pekerjaan seismik 3D, serta studi dan desain yang berkaitan dengan pengembangan lapangan.
Tantangan utama yang sejak lama melekat pada Natuna D-Alpha juga belum berubah, yakni tingginya kandungan karbon dioksida. Pemerintah sebelumnya menyebut persoalan tersebut menjadi salah satu alasan pengembangan blok ini membutuhkan teknologi dan investasi besar.
Kini, setelah beberapa perusahaan dan konsorsium sebelumnya gagal membawa East Natuna menuju tahap komersial, PT Nations Petroleum mendapat mandat baru untuk memulai kembali rangkaian pengembangan Natuna D-Alpha.
Babak baru itu dimulai dengan komitmen pasti US$103,309 juta untuk tiga tahun pertama.