- • IHSG ditutup turun 157,61 poin atau 2,59 persen ke 5.936,14 pada Senin (12/10/2026), level terendah dalam tiga bulan terakhir.
- • Seluruh sektor saham melemah; sektor energi menjadi yang terparah dengan penurunan 5,88 persen.
- • Saham-saham afiliasi Prajogo Pangestu dan DSSA milik grup Sinarmas terkoreksi tajam.
INFORMASI.COM, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 2,59 persen ke 5.936,14 pada perdagangan Senin (12/10/2026), meninggalkan level psikologis 6.000 setelah tekanan jual melanda hampir seluruh sektor dan saham-saham konglomerat besar.
Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) awalnya berjalan di zona hijau. IHSG dibuka pada 6.109,32 dan sempat menyentuh level tertinggi intraday 6.128,72 sebelum tekanan jual mulai menekan indeks menjelang pukul 10.00 WIB.
Pada penutupan sesi pertama, IHSG sudah turun 117,98 poin atau 1,94 persen ke 5.975,78. Indeks kemudian terus melemah hingga ditutup di 5.936,14, atau terkoreksi 157,61 poin dari penutupan sebelumnya.
Kondisi itu menjadikan IHSG berada pada level terendah dalam tiga bulan terakhir. Sebanyak 602 saham ditutup melemah, jauh melebihi 114 saham yang menguat dan 77 saham stagnan.
Energi Jadi Sektor Terparah
Seluruh indeks sektoral ditutup merah. Sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 5,88 persen, disusul perindustrian 5,20 persen, infrastruktur 4,72 persen, transportasi 3,44 persen, dan barang baku 2,96 persen.
Tekanan juga terasa pada sektor teknologi, barang konsumer nonprimer, properti, keuangan, barang konsumer primer, hingga kesehatan. Volume perdagangan mencapai 61,92 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp13,49 triliun.
Saham-saham afiliasi Prajogo Pangestu terlihat kompak melemah. CUAN menjadi saham penurunan terdalam di LQ45 dengan koreksi 14,94 persen ke Rp655, sementara PTRO dan DSSA masing-masing ditekan hingga 15 persen.
Saham BREN juga ambles 12,59 persen ke Rp2.360, sedangkan TPIA turun 9,25 persen ke Rp1.520 pada sesi pertama. BREN dan TPIA tercatat masuk jajaran saham penekan utama IHSG bersama DSSA, BBCA, dan GOTO.
Di LQ45, GOTO turun 10 persen ke Rp27 dan EXCL melemah 9,83 persen ke Rp2.110. Sementara itu, INKP menjadi salah satu dari sedikit saham LQ45 yang menguat dengan kenaikan 4,83 persen ke Rp8.675.
Asing Lepas Saham, Risiko MSCI Menggantung
Arus dana asing turut memperberat tekanan pasar. Data Stockbit Sekuritas mencatat investor asing membukukan jual bersih Rp166,22 miliar di seluruh pasar pada sesi pertama, dari total transaksi Rp3,33 triliun.
Isu MSCI masih menjadi perhatian utama pelaku pasar, termasuk risiko penurunan klasifikasi Indonesia menjadi pasar frontier.
MSCI telah membekukan kenaikan foreign inclusion factor (FIF), number of shares (NOS), penambahan saham baru, serta kenaikan status saham dalam indeks. Kebijakan itu akan dievaluasi menjelang peninjauan indeks November 2026, dengan pengumuman diperkirakan keluar pada akhir Oktober.
Tekanan Global Masih Mengintai
Selain isu domestik, pasar juga memperhatikan eskalasi geopolitik Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan membantu Arab Saudi menyerang kelompok Houthi di Yaman usai serangan di Bandara Riyadh, langkah yang berpotensi memperluas konflik terkait Iran.
Pelaku pasar juga menunggu data inflasi AS dan China serta neraca perdagangan China pada Rabu (14/10/2026). Agenda tersebut berlangsung bersamaan dengan pertemuan IMF dan Bank Dunia pada 12-18 Oktober serta pidato sejumlah pejabat The Fed pada 14-16 Oktober.
BRI Danareksa Sekuritas menilai prospek IHSG jangka pendek cenderung negatif di tengah tekanan jual dan ketidakpastian geopolitik. Inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat dolar AS, menekan rupiah, dan memicu arus keluar dana asing dari pasar saham domestik.