- • DSSA dan BREN menjadi pemberat terbesar IHSG dengan kontribusi negatif masing-masing 15,72 dan 12,04 poin.
- • IHSG anjlok 2,59% ke level 5.936,15 pada perdagangan Senin (12/10/2026).
- • IHSG telah melemah 31,35% sepanjang 2026 secara year to date.
INFORMASI.COM, Jakarta - Sejumlah saham menjadi pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (12/10/2026). Saham DSSA dan BREN menempati posisi teratas sebagai saham yang paling besar berkontribusi terhadap tekanan indeks, diikuti BBCA dan TPIA.
Berdasarkan data kontribusi saham yang dihimpun, saham DSSA terkoreksi 14,60% dengan kontribusi negatif sebesar 15,72 poin. Sementara itu, saham BREN turun 11,48% dan memberikan tekanan sebesar 12,04 poin terhadap IHSG.
Saham perbankan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga masuk dalam daftar 10 saham pemberat indeks. BBCA melemah 1,65% dengan kontribusi negatif 9,11 poin.
Berikutnya, saham TPIA merosot 10,15% dengan kontribusi negatif 8,63 poin, sedangkan BYAN turun 4,03% dan memberikan tekanan sebesar 7,78 poin terhadap IHSG.
Tekanan terhadap indeks turut datang dari saham MORA yang melemah 7,62% dengan kontribusi negatif 6,62 poin. Saham BRMS terkoreksi 5,93% dan menyumbang tekanan 5,83 poin.
Sementara itu, saham CUAN mencatat penurunan 14,94%, menjadi koreksi persentase terdalam di antara 10 saham tersebut. Saham ini memberikan kontribusi negatif sebesar 5,55 poin terhadap IHSG.
Dua saham lainnya, BUMI dan GOTO, masing-masing turun 8,33% dan 10%. Keduanya memberikan kontribusi negatif yang sama terhadap indeks, yakni sebesar 5,54 poin.
Besarnya kontribusi negatif menunjukkan bahwa pergerakan saham-saham tersebut memberikan tekanan terhadap IHSG. DSSA dan BREN menjadi dua saham dengan kontribusi negatif terbesar dalam daftar, sementara BBCA berada di posisi ketiga meskipun persentase penurunannya relatif lebih kecil dibandingkan sebagian saham lainnya.
Perlu dicatat, daftar ini menunjukkan kontribusi masing-masing saham terhadap pergerakan indeks, bukan semata-mata besarnya persentase penurunan harga. Karena itu, saham dengan penurunan persentase yang lebih kecil tetap dapat memberikan tekanan besar terhadap IHSG.
Seperti diketahui, IHSG anjlok 2,59% pada perdagangan Senin (12/10/2026). IHSG bertengger di level 5.936,15 dan secara year to date sudah turun 31,35%.