- • IHSG masih melanjutkan pelemahan
- • IHSG sempat jatuh ke level terendah sejak awal Juli 2026
- • IHSG menguji level pemulihan di atas 5.900
INFORMASI.COM, Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan pada perdagangan sesi I Selasa (13/10/2026). Indeks sempat terperosok ke level 5.832, menandai titik terendah sejak awal Juli 2026, sebelum akhirnya bangkit dan ditutup sementara di level 5.911.
Malihat data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), tekanan jual mewarnai perdagangan sejak awal sesi. IHSG dibuka melemah ke posisi 5.914,98, kemudian bergerak semakin dalam di zona merah hingga menyentuh level terendah intraday 5.831,79. Pada titik tersebut, indeks terkoreksi sekitar 1,74 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan ini memperpanjang tekanan terhadap pasar saham domestik setelah IHSG pada perdagangan Senin (12/10/2026) ditutup turun 2,59 persen ke level 5.936,15. Dengan demikian, pelaku pasar masih menghadapi volatilitas tinggi di tengah berbagai sentimen yang membayangi pergerakan indeks.
Berdasarkan beberapa riset analis, tekanan terhadap IHSG antara lain dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi, serta kekhawatiran investor terkait isu indeks MSCI dan perkembangan regulasi pasar modal Indonesia.
Di tengah tekanan tersebut, IHSG sempat berupaya memulihkan posisinya. Indeks kembali mendekati level 5.911 menjelang penutupan sesi pertama, meski pergerakan tersebut belum cukup untuk menghapus pelemahan yang terjadi sejak pembukaan.
Pergerakan IHSG pada sesi I menunjukkan bahwa tekanan jual masih membayangi pasar saham domestik. Investor diperkirakan akan terus mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, dinamika geopolitik global, serta respons otoritas pasar modal terhadap berbagai persoalan yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Pada sesi II, arah IHSG akan menjadi perhatian untuk melihat apakah indeks mampu mempertahankan pemulihan menuju level 5.900 atau kembali menghadapi tekanan jual lanjutan.