Mengenal Layar Tancap, Hiburan Masyarakat yang Pernah Berjaya Era 80-90an

INFORMASI.COM, Jakarta – Pernahkah kamu mendengar layar tancap? Layar tancap merupakan bioskop keliling yang memutar film di tempat terbuka.
Dikutip dari Acub Zainal, I Love The Army, (1998), Minggu (12/1/2025), Hendriwonoto menyebut layar tancap dijalankan dalam bentuk “ngamen”.
Layar tancap mudah bergerak dari kampung ke kampung, tulis Hendrowinoto, karena peralatannya sederhana. Hiburan ini cuma perlu lapangan terbuka yang cukup menampung warga yang mau menonton film.
5 Film yang Bakal Tayang Tahun 2025, Ada yang Jadi Incaranmu?Film diputar dengan alat seadanya. Layar film berupa bentangan kain putih di atas tiang bambu yang ditancapkan di tengah lapangan. Masyarakat, jelas Hendrowinoto, bisa menonton film itu dari depan maupun dari belakang.
Layar tancap adalah bisnis dan salah satu penggerak bisnis itu pada tahun 1980-1990-an ialah Tito Film di Jawa Barat.
“Silat, horor, komedi, percintaan, silat lagi. Susunan jenis film ini menjadi strategi umum Tito Film saat menggelar layar tancap di acara-acara hajatan”, tulis Nunu N. Azhar dalam Hiburan Rakyat di Tasikmalaya Kemarin Doeloe, (2023).
Menurut Nunu Azhar, sajian awal biasanya adalah yang dibintangi Barry Prima, dilanjutkan oleh film hantu Suzanna, lalu komedi ala Warkop DKI, kemudian tampil Rhoma Irama, dan terakhir film Saur Sepuh.

Hiburan jenis ini, menurut Hendrowinoto, biasanya diselenggarakan dalam berbagai peristiwa. Di antaranya adalah peringatan Hari Kemerdekaan, sunatan, perkawinan hingga perayaan panen desa. Pada umumnya film mulai diputar setelah waktu shalat Isya’ menjelang malam, dan selesai menjelang subuh.
Pada masa kejayaannya, pada masa akhir Orde Baru, tulis Mohamad Sobary dalam Kesalehan Sosial, (2007), layar tancap di suatu daerah bisa beroperasi sebanyak 25 kali dalam sebulan. Jauh mengalahkan pertunjukan lenong yang hanya digelar satu atau dua kali setahun.
Sepanjang acara layar tancap ini, tulis Hendrowinoto, tidak hanya dikerumuni oleh penonton melainkan juga berbagai pedagang dari tukang nasi goreng hingga ketoprak. Tidak salah bahwa Sobary menyebut layar tancap sebagai alat penggerak ekonomi desa dan lebih dari sekadar hiburan.
Gejolak Semangat Pemuda Pertahankan Kemerdekaan dalam Film Kadet 1947Masyarakat dapat untung kalau ada tetangga yang sedang menggelar hajatan karena mereka dapat menikmati bioskop keliling itu secara cuma-cuma.
Film yang diputar, tulis Hendrowinoto, itu beragam; umumnya film-film berbahasa Indonesia, Mandarin atau India. Suaranya terdengar keras, bahkan terdengar jauh sampai rumah warga yang tidak menonton.
Dia juga menyebut layar tancap menjadi salah satu pesta rakyat yang khas, terbuka, dan meriah. Bahkan, bisa menjadi media untuk mendekatkan masyarakat desa terhadap dunia film dan media pertukaran budaya urban dan pedesaan.
(Penulis: Dhia Oktoriza Sativa)
Komentar (0)
Login to comment on this news