- • Kaos bertuliskan “Solidarność” yang dikenakan Dilan bukan sekadar atribut mode, melainkan simbol politik dan perlawanan buruh yang sangat kuat dari Polandia.
- • Solidarność memang dikenal sebagai gerakan serikat buruh independen yang menantang rezim komunis Polandia pada 1980-an.
- • Gerakan itu ikut membuka jalan runtuhnya dominasi komunis di Polandia.
INFORMASI.COM, Jakarta - Satu detail visual dalam semesta Dilan ITB 1997 diam-diam membuka pintu tafsir yang jauh lebih besar daripada sekadar kisah cinta kampus. Pada salah satu adegan, Dilan tampak mengenakan kaos putih dengan tulisan merah “Solidarność”, logo yang bagi sebagian penonton mungkin terlihat seperti desain retro biasa. Padahal, kaos itu membawa jejak salah satu gerakan politik-buruh paling penting di Eropa Timur pada abad ke-20.
Di titik ini, Dilan tidak lagi tampil hanya sebagai tokoh romantik yang identik dengan rayuan atau nostalgia remaja. Pilihan kaos itu justru membuat penonton bertanya: apa arti Solidarność, gerakan apa yang diwakilinya, apakah ia anti-komunis, dan kalau iya, mengapa Dilan juga bisa dekat dengan Kuba yang identik dengan komunisme?
Pertanyaan-pertanyaan itu wajar muncul, karena simbol politik di film hampir tidak pernah hadir secara kebetulan. Terlebih, Dilan ITB 1997 memang diposisikan bukan lagi sebagai cerita remaja sekolah, melainkan kisah mahasiswa yang hidup di tengah pergolakan sosial dan politik Indonesia menjelang akhir Orde Baru.
Apa Arti “Solidarność” di Kaos Dilan?
Secara harfiah, “Solidarność” adalah kata dalam bahasa Polandia yang berarti “solidaritas.” Namun dalam sejarah modern, kata ini jauh melampaui arti kamus. Solidarność adalah nama serikat buruh independen Polandia yang lahir pada 1980 dan berkembang menjadi gerakan sosial-politik besar yang menantang negara komunis Polandia.
Logo merah khas yang muncul di kaos Dilan juga bukan tipografi biasa. Menurut situs resmi serikat NSZZ Solidarność, desain itu lahir dari suasana mogok buruh di Galangan Kapal Gdańsk pada 1980 dan sengaja dibuat menyerupai sekumpulan orang yang berjalan rapat dan saling menopang. Dengan kata lain, logonya sendiri sudah memvisualkan gagasan “massa rakyat yang bergerak bersama.”
Jadi, bila kaos itu dipakai Dilan, maknanya bukan hanya “keren” atau “vintage.” Kaos itu membawa asosiasi dengan perlawanan kolektif, gerakan akar rumput, dan keberpihakan pada rakyat biasa.
Gerakan Apa Itu Solidarność?
Solidarność lahir dari pemogokan buruh di Polandia pada Agustus 1980. Saat itu, para pekerja di Galangan Kapal Lenin di Gdańsk menuntut kondisi kerja yang lebih baik, hak mogok, dan kebebasan membentuk serikat buruh independen. Dari sana, gerakan ini meluas dan akhirnya menjadi organisasi buruh terbesar di Polandia.
Gerakan ini dipimpin oleh Lech Wałęsa, seorang aktivis buruh yang kemudian menjadi figur sentral dalam perjuangan demokrasi Polandia. Dalam waktu singkat, Solidarność tidak lagi hanya bicara soal upah atau kondisi pabrik. Gerakan ini berubah menjadi simbol perlawanan masyarakat sipil terhadap sistem politik yang mengekang kebebasan.
Pada puncaknya, Solidarność memiliki sekitar 10 juta anggota, angka yang sangat besar untuk ukuran Polandia saat itu. Artinya, ini bukan gerakan kecil mahasiswa atau elite intelektual, melainkan gerakan rakyat yang benar-benar masif.
Apakah Solidarność Gerakan Anti-Komunis?
Secara historis, Solidarność memang tumbuh sebagai oposisi terhadap rezim komunis Polandia, khususnya terhadap monopoli kekuasaan partai dan kontrol negara atas serikat buruh. Gerakan ini menuntut serikat bebas, ruang sipil, hak-hak pekerja, dan pada akhirnya reformasi politik.
Karena itu, dalam praktiknya, Solidarność menjadi salah satu gerakan paling penting yang melemahkan sistem komunis di Eropa Timur.
Pengakuan internasional terhadap karakter politik gerakan ini juga terlihat ketika Nobel Peace Prize diberikan kepada Wałęsa pada 1983. Nobel menyebut penghargaan itu diberikan untuk “perjuangan tanpa kekerasan demi serikat buruh bebas dan hak asasi manusia di Polandia.”
Solidarność pada awalnya bukan gerakan “anti-komunis” dalam pengertian poster propaganda Perang Dingin yang sederhana.
Ia berangkat dari keluhan konkret rakyat pekerja seperti upah, martabat kerja, kebebasan berorganisasi, dan hak sipil. Baru setelah negara komunis Polandia dianggap menindasnya, gerakan ini makin jelas terbaca sebagai perlawanan sistemik terhadap komunisme negara.
Pakai Kaos Gerakan Anti-Komunisme, tapi Pengagum Che Guevara dan Kunjungi Kuba?
Dilan dikenal sebagai pengagum Che Guevara, dokter revolusioner asal Argentina yang melakukan perjuangan kiri dan mendirikan negara komunisme bernama Kuba bersama Fidel Castro maupun Raul Castro.
Sepanjang perjuangan revolusionernya, Che Guevara mendapuk dirinya sebagai komunis, bahkan meminta para komunis muda untuk mempraktikkan internasionalisme proletarian.
“Jika Anda menganggap bahwa hal-hal yang kami lakukan demi kepentingan rakyat merupakan manifestasi komunisme, maka sebutlah kami komunis,” kutipan Che Guevara dalam satu kesempatan.
“Setiap Komunis Muda harus mempraktikkan internasionalisme proletar dan merasakannya sebagai miliknya sendiri,” kutipan Che Guevara di kesempatan lain.
Kuba, secara historis dan konstitusional dari sejak berdiri hingga saat ini dikenal sebagai negara yang dipimpin oleh Partai Komunis Kuba, satu-satunya partai yang diizinkan.
Itu fakta politik yang cukup jelas. Sehingga, penggambaran Dilan sebagai tokoh imajiner yang menggunakan kaos Solidarność, gerakan anti-negara komunis Polandia, menyematkan bendera Amerika Serikat dan kagum Ronald Reagan, sekaligus juga pengagum Che Guevara dan kunjungi Kuba dengan rasa kagum juga, menjadi aneh.
Meskipun, jika dipandang dari kacamata moderat, Dilan dalam seri ITB 1997 hanya mahasiswa yang mengagumi pemberontakan meskipun secara ideologis belum diketahui ketertarikannya ke arah mana. Toh, Dilan cuma tokoh imajiner bukan? Namanya juga novel dan film!