Di Balik Megahnya Konser BTS, Tersingkap Masalah Besar Industri Konser Korea

Di Balik Megahnya Konser BTS, Tersingkap Masalah Besar Industri Konser Korea
Fans at concert. | MK. Foto : koreaboo.com

INFORMASI.COM, Seoul - Konser terbaru BTS menyoroti masalah besar dalam industri hiburan live di Korea Selatan, yaitu kurangnya venue konser berskala besar yang memadai.

Meskipun menjadi salah satu grup terbesar di dunia, BTS terpaksa memulai tur dunia mereka di Goyang Sports Complex, sebuah stadion tua tanpa atap yang terletak di pinggiran Seoul dan telah lama mengalami kesulitan finansial.

Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap K-Pop, agensi-agensi hiburan dikabarkan mengatakan bahwa mereka “tidak punya pilihan lain” selain menggunakan venue terbatas seperti ini karena kekurangan tempat yang sesuai.

Pada akhir pekan yang diguyur hujan, para penggemar BTS dari seluruh dunia memadati Kota Goyang. Stadion yang menjadi pembuka tur dunia pada 9 April tersebut jauh dari kesan mewah seperti venue global lainnya yang akan mereka gunakan tahun depan.

Stadion ini merupakan stadion sepak bola tua tanpa atap yang berada di pinggiran Seoul dan selama sebagian besar masa operasionalnya mengalami kerugian finansial.

Namun, Park Ji Hye, pejabat yang bertanggung jawab atas penyewaan Goyang Sports Complex berkapasitas 40.000 kursi, mengatakan bahwa agensi K-Pop “menyebut ini satu-satunya pilihan,” dan menambahkan bahwa “mereka mengeluh tidak punya tempat lain.”

The New York Times (NYT) melaporkan bahwa Korea Selatan, meskipun industri K-Pop-nya berkembang pesat, masih kekurangan venue untuk pertunjukan budaya populer.

Goyang Sports Complex menjadi gambaran nyata dari paradoks yang dihadapi Korea Selatan. Negara ini belum mampu membangun cukup venue untuk menampung para bintang yang telah mengembangkan industri musiknya menjadi bisnis bernilai miliaran dolar.

Beberapa alasan yang disebutkan antara lain tingginya permintaan tiket, biaya pembangunan yang sangat besar, keterbatasan lahan, serta berbagai hambatan hukum dan birokrasi.

Kekurangan venue konser sebenarnya juga terjadi di kota-kota besar dunia lainnya. Namun, di wilayah metropolitan Seoul yang berpenduduk sekitar 26 juta jiwa, popularitas musik live yang terus meningkat membuat masalah ini semakin terasa. Berdasarkan data pemerintah, penjualan tiket konser nasional tahun lalu mencapai rekor $1,2 miliar (sekitar 1,6 triliun KRW), meningkat 19% dibandingkan tahun sebelumnya.

Penutupan beberapa venue besar juga memperparah situasi. Stadion Utama Olimpiade Jamsil (70.000 kursi) saat ini sedang direnovasi hingga setidaknya Desember tahun ini.

Sementara itu, Stadion Piala Dunia Seoul (66.000 kursi) mengurangi jadwal konser akibat keluhan bahwa instalasi panggung merusak rumput yang digunakan tim sepak bola profesional.

Sebuah venue baru berkapasitas 28.000 kursi sedang dibangun di Seoul dan ditargetkan selesai tahun depan. Namun, hingga saat itu, venue yang lebih kecil digunakan sebagai alternatif, meskipun jauh dari cukup karena industri konser umumnya membutuhkan tempat dengan kapasitas lebih dari 30.000 kursi agar tetap menguntungkan.

Kekurangan venue ini juga berdampak pada meningkatnya beban finansial bagi penggemar. Dalam sebuah fan meeting boy group NCT Wish di Seoul, seorang penjual tiket menjelaskan bahwa gedung olahraga indoor berkapasitas 11.000 kursi terlalu kecil untuk memenuhi permintaan, sehingga harga tiket melonjak.

Salah satu pembeli mengaku membayar sekitar ₩400.000 KRW (sekitar $271 USD), hampir empat kali lipat dari harga asli.

Menurut para ahli industri, penggemar di Korea bahkan kerap kehilangan kesempatan menonton konser mega dari bintang pop dunia. Promotor Yoon mengatakan bahwa Madonna dan Adele melewatkan Korea dalam tur Asia mereka pada tahun 2010-an karena kurangnya venue besar yang sesuai.

Untuk alasan yang sama, Taylor Swift juga tampil di Tokyo namun tidak di Seoul dalam tur Asia 2024-nya, ujarnya seperti dikutip koreaboo.com.

Di tengah situasi ini, stadion sepak bola yang sebelumnya kurang diminati seperti Goyang Sports Complex justru berubah menjadi venue konser yang sangat dicari. Setelah hampir tidak digunakan selama 20 tahun pertama, stadion ini dalam dua tahun terakhir telah menjadi lokasi konser bagi artis global seperti BLACKPINK, Coldplay, Oasis, dan Travis Scott.

Meski telah mengalami renovasi untuk meningkatkan manajemen penonton seperti pembangunan jembatan penyeberangan dan rute bus shuttle, stadion ini masih memiliki banyak kekurangan. Pengunjung mengeluhkan waktu tempuh yang bisa mencapai lebih dari satu jam dari beberapa wilayah di Seoul.

Selain itu, terdapat sekolah menengah pertama tepat di sebelah stadion. Saat latihan BTS pada 9 April yang bertepatan dengan jam sekolah, sistem suara penuh tidak dapat digunakan. BTS bahkan harus berlatih hanya menggunakan suara dari in-ear monitor yang hanya terdengar oleh mereka dan staf. Pada malam harinya, karena stadion tanpa atap, BTS harus tampil di tengah hujan deras.

Masalah ini semakin memburuk seiring renovasi dan pembatasan penggunaan stadion besar, sehingga pilihan venue semakin terbatas. Akibatnya, persaingan untuk mendapatkan jadwal konser semakin ketat, harga tiket melonjak, dan bahkan bintang global melewatkan Korea karena kurangnya infrastruktur.

Penundaan pembangunan arena baru akibat sengketa hukum, masalah pendanaan, dan hambatan birokrasi juga memperparah kondisi, dengan beberapa proyek bahkan mundur hingga tahun 2030.

Sementara itu, venue lama seperti Goyang Sports Complex tetap menjadi pilihan utama, meskipun memiliki banyak keterbatasan seperti akses yang jauh, pembatasan sistem suara, dan ketergantungan pada kondisi cuaca. (IST)

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.