- • Empat Musim Pertiwi menjadi sorotan setelah disebut sebagai film Indonesia yang dipersiapkan untuk bersaing di ajang Academy Awards ke-99 atau Oscar 2027.
- • Perjalanan film menuju Oscar tidak hanya bergantung pada cerita dan kualitas sinematik, tetapi juga proses seleksi resmi, strategi distribusi internasional, serta penerimaan dari komunitas perfilman dunia.
- • Keikutsertaan film Indonesia di ajang internasional membuka peluang untuk memperkenalkan cerita, budaya, dan persoalan sosial Indonesia kepada penonton global.
INFORMASI.COM, Jakarta — Film Indonesia kembali menjadi perhatian dalam pembicaraan mengenai Oscar 2027. Kali ini, judul Empat Musim Pertiwi mencuri perhatian karena disebut sebagai salah satu film yang dipersiapkan untuk membawa nama Indonesia ke ajang Academy Awards ke-99.
Oscar merupakan salah satu penghargaan paling bergengsi di industri perfilman dunia. Bagi sineas Indonesia, kesempatan untuk bersaing di ajang tersebut bukan hanya berkaitan dengan pengakuan internasional, tetapi juga peluang memperkenalkan cerita lokal kepada penonton dari berbagai negara.
Namun, perjalanan menuju Oscar tidak sederhana. Sebuah film harus memenuhi ketentuan kategori yang dituju, melalui proses seleksi yang berlaku, serta membangun perhatian di antara anggota Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS).
Karena itu, pembahasan mengenai Empat Musim Pertiwi tidak berhenti pada statusnya sebagai film yang dikaitkan dengan Oscar. Hal yang juga perlu diperhatikan adalah kekuatan cerita, pendekatan sinematik, dan bagaimana film tersebut merepresentasikan pengalaman masyarakat Indonesia.
Kisah Pertiwi, Perempuan yang Kembali Setelah 20 Tahun Dipenjara
Salah satu hal yang membuat Empat Musim Pertiwi layak diperhatikan adalah cerita yang diangkat. Film karya Kamila Andini ini mengikuti perjalanan Pertiwi, yang diperankan Putri Marino, ketika kembali ke kampung halamannya di kawasan Pegunungan Tengger, Jawa Timur, setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun.
Kepulangan Pertiwi tidak serta-merta membawanya kembali ke kehidupan yang dulu ia kenal. Ia justru menghadapi penolakan dari keluarga dan masyarakat sekitar. Masa lalu yang kelam membuatnya harus berhadapan dengan stigma sosial, trauma, dan pertanyaan tentang tempatnya di tengah masyarakat.
Kisah tersebut berkaitan dengan ketidakadilan yang dialami perempuan penyintas kekerasan seksual. Pertiwi menjalani hukuman setelah melawan percobaan pemerkosaan, sementara persoalan yang melatarbelakangi tindakannya tidak serta-merta menghapus stigma yang melekat pada dirinya.
Melalui karakter Pertiwi, film ini menyoroti bagaimana korban dapat menghadapi konsekuensi sosial yang panjang, bahkan setelah menjalani hukuman. Cerita tersebut juga mengajak penonton melihat persoalan keadilan dari sudut pandang seseorang yang berusaha mendapatkan kembali kehidupannya.
Selain Putri Marino, film ini dibintangi Christine Hakim, Arya Saloka, Hana Malasan, Totos Rasiti, dan sejumlah aktor lainnya. Kehadiran para pemeran tersebut mendukung kisah yang berpusat pada hubungan keluarga, penerimaan sosial, dan upaya seseorang untuk berdamai dengan masa lalunya.
Kamila Andini Mengembangkan Cerita Selama Bertahun-tahun
Empat Musim Pertiwi ditulis dan disutradarai Kamila Andini, sineas Indonesia yang dikenal melalui karya-karya dengan perhatian kuat terhadap pengalaman perempuan dan persoalan sosial.
Proses pengembangan film ini berlangsung cukup panjang. Gagasan ceritanya mulai ditulis pada 2017 sebelum dikembangkan lebih lanjut hingga akhirnya diproduksi.
Dalam konferensi pers di Jakarta pada awal Oktober 2026, Kamila mengungkapkan bahwa proses menggarap film ini memberinya pengalaman personal yang mendalam.
“Film ini merendahkan hati saya dalam berbagai cara. Cerita ini memberikan kesadaran dan pemahaman baru bagi saya,” ujar Kamila.
Pernyataan tersebut menggambarkan proses kreatif yang tidak hanya berpusat pada penyusunan cerita, tetapi juga pada upaya memahami pengalaman tokoh dan konteks sosial yang melingkupinya.
Pendekatan Kamila menjadi salah satu aspek yang menarik untuk diperhatikan dalam perjalanan film menuju Oscar. Cerita yang berangkat dari konteks Indonesia diharapkan tetap dapat dipahami oleh penonton internasional melalui pengalaman manusia yang lebih universal, seperti kehilangan, ketidakadilan, stigma, dan keinginan untuk memulai kembali.
Lanskap Bromo Menjadi Bagian dari Cerita
Selain narasi yang berpusat pada pengalaman Pertiwi, kekuatan Empat Musim Pertiwi juga terletak pada penggunaan lanskap alam sebagai bagian dari penceritaan.
Film ini mengambil latar kawasan Pegunungan Tengger dan Gunung Bromo, Jawa Timur. Bentang alam tersebut tidak hanya menjadi latar visual, tetapi juga membantu membangun suasana yang mengikuti perjalanan emosional tokoh utama.
Kamila memilih kawasan Bromo karena melihat karakter lanskapnya mampu menghadirkan kesan empat musim dalam satu bentang alam. Pilihan ini menarik karena Indonesia tidak mengalami empat musim seperti negara-negara di wilayah subtropis.
“Secara visual, tempat itu sangat menarik bagi saya karena saya melihat seperti ada tekstur empat musim dalam satu bentang alam, meskipun Indonesia tidak memiliki empat musim,” ujar Kamila.
Pendekatan visual tersebut sekaligus memberi konteks pada judul Empat Musim Pertiwi. Perubahan lanskap dan suasana alam menjadi bagian dari cara film membangun pengalaman sinematik, tanpa melepaskan cerita dari lingkungan sosial dan budaya Indonesia.
Bagi penonton internasional, latar Pegunungan Tengger juga menawarkan gambaran tentang wilayah Indonesia yang mungkin belum banyak mereka kenal melalui film layar lebar.
Perjalanan Internasional Dimulai dari Toronto
Sebelum terpilih mewakili Indonesia di Oscar 2027, Empat Musim Pertiwi telah menjalani pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026. Film tersebut ditayangkan dalam program Centrepiece, salah satu program yang menghadirkan pilihan film internasional.
Film ini kemudian masuk dalam rangkaian pemutaran festival internasional lainnya, termasuk Busan International Film Festival di Korea Selatan. Empat Musim Pertiwi juga dijadwalkan tampil di Tokyo International Film Festival di Jepang pada akhir 2026.
Keikutsertaan dalam festival internasional memberi kesempatan bagi film untuk diperkenalkan kepada penonton, kritikus, distributor, dan pelaku industri perfilman dari berbagai negara.
Bagi film yang mengangkat persoalan sosial Indonesia, ruang tersebut penting untuk memperluas percakapan di luar pasar domestik. Penonton internasional dapat mengenal cerita dan konteks budaya Indonesia melalui pengalaman tokoh-tokohnya, sementara tim produksi berkesempatan memperluas jangkauan distribusi film.
Di dalam negeri, Empat Musim Pertiwi mulai tayang di bioskop pada 8 Oktober 2026. Penayangan domestik menjadi bagian penting dari perjalanan film tersebut, baik untuk menjangkau penonton Indonesia maupun membangun perhatian terhadap pencalonannya di Oscar.
Apa Peluang Empat Musim Pertiwi di Oscar 2027?
Terpilihnya Empat Musim Pertiwi sebagai wakil Indonesia merupakan langkah awal dalam persaingan kategori Best International Feature Film pada Academy Awards ke-99.
Kategori tersebut diperuntukkan bagi film panjang yang diproduksi di luar Amerika Serikat dan menggunakan bahasa yang dominan bukan bahasa Inggris, dengan persyaratan kelayakan yang ditetapkan Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS).
Namun, status sebagai wakil Indonesia tidak otomatis membuat film tersebut masuk nominasi Oscar. Setelah diajukan, Empat Musim Pertiwi masih harus bersaing dengan film dari negara-negara lain dalam proses seleksi Academy sebelum daftar pendek dan nominasi diumumkan.
Produser Ifa Isfansyah menyebut film ini penting untuk merepresentasikan Indonesia melalui cerita yang berangkat dari konteks sosial dalam negeri.
“Menurut saya sebagai produser, saya juga merasa film ini sangat penting merepresentasikan Indonesia. Karena kalau buat teman-teman yang nanti nonton, filmnya benar-benar bercerita tentang konteks yang terjadi di Indonesia,” ujar Ifa.
Tim produksi juga menyiapkan strategi kampanye internasional untuk memperluas jangkauan film. Salah satu langkahnya adalah menggandeng perusahaan penjualan film internasional asal Prancis, Goodfellas, untuk mendukung distribusi dan pengenalan film di pasar global.
Strategi tersebut menjadi penting karena persaingan Oscar tidak hanya berkaitan dengan kualitas karya, tetapi juga distribusi, akses penonton, serta perhatian dari komunitas perfilman internasional.
Meski peluangnya belum dapat dipastikan, perjalanan Empat Musim Pertiwi melalui festival internasional dan penayangan di bioskop Indonesia menjadi modal untuk memperkenalkan film tersebut kepada khalayak yang lebih luas.
Film Indonesia dengan Cerita yang Melampaui Batas Negara
Empat Musim Pertiwi menawarkan lebih dari sekadar kesempatan bagi Indonesia untuk bersaing di Oscar 2027. Film ini membawa cerita tentang perempuan, ketidakadilan, stigma sosial, dan perjuangan untuk kembali menjalani kehidupan setelah pengalaman traumatis.
Isu-isu tersebut berangkat dari konteks Indonesia, tetapi memiliki relevansi yang dapat dipahami penonton lintas negara. Pengalaman Pertiwi memperlihatkan bagaimana seseorang dapat menghadapi hukuman sosial yang panjang, bahkan setelah masa hukumannya berakhir.
Kekuatan film ini terletak pada upayanya menggabungkan persoalan tersebut dengan pendekatan sinematik Kamila Andini, penampilan para pemain, serta lanskap alam yang menjadi bagian dari penceritaan.
Perjalanan menuju Oscar masih panjang dan hasil akhirnya belum dapat diprediksi. Namun, terpilihnya Empat Musim Pertiwi sebagai wakil Indonesia membuka kesempatan bagi film ini untuk memperkenalkan perspektif lokal kepada industri perfilman dunia.
Pada akhirnya, perhatian terhadap Empat Musim Pertiwi tidak hanya ditentukan oleh peluangnya meraih nominasi atau penghargaan. Film ini juga layak diperhatikan karena membawa cerita yang berangkat dari realitas sosial Indonesia dan mengajak penonton melihat kembali persoalan keadilan, penerimaan, serta kesempatan untuk memulai hidup baru.