INFORMASI.COM, Jakarta — Dua ekor badak putih utara (Ceratotherium simum cottoni) kini menjadi satu-satunya individu yang tersisa dari subspesies yang pernah tersebar luas di Afrika Tengah dan Timur. Najin dan Fatu, ibu dan anak, hidup di bawah pengawasan ketat di Ol Pejeta Conservancy, Kenya.
Keduanya bukan sekadar menjadi simbol perjuangan konservasi. Keberadaan Najin dan Fatu juga menjadi titik awal bagi eksperimen ilmiah untuk mencegah badak putih utara benar-benar punah.
Masalahnya, kedua badak tersebut sama-sama betina. Karena itu, kelangsungan subspesies ini tidak lagi dapat mengandalkan perkawinan alami. Para peneliti harus mencari cara agar materi genetik yang masih tersimpan dapat menghasilkan generasi baru.
Dari Puluhan Badak Menjadi Dua
Badak putih utara dahulu hidup di sejumlah wilayah Afrika. Namun, perburuan liar, terutama untuk mendapatkan cula, serta hilangnya habitat membuat populasinya terus menyusut.
Situasi mencapai titik kritis ketika pejantan terakhir, Sudan, mati pada Maret 2018 di Ol Pejeta. Kematian Sudan membuat Najin dan Fatu menjadi dua individu terakhir yang diketahui masih hidup.
Sejak saat itu, keduanya tidak mungkin lagi menghasilkan keturunan secara alami.
Najin merupakan induk Fatu. Namun, kondisi reproduksi Najin membuat para ilmuwan menghentikan prosedur pengambilan sel telur dari tubuhnya pada 2021 setelah dilakukan penilaian medis dan etis. Sementara itu, Fatu menjadi donor utama dalam program reproduksi berbantuan.
Dengan demikian, masa depan badak putih utara kini bergantung pada kemampuan ilmuwan menggunakan materi genetik yang tersisa untuk menciptakan embrio.
Ilmuwan Mengandalkan IVF
Upaya tersebut dijalankan melalui BioRescue, konsorsium internasional yang dipimpin Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research (Leibniz-IZW), dengan melibatkan Ol Pejeta Conservancy, Kenya Wildlife Service, Safari Park Dvůr Králové, Avantea, dan University of Padua.
Metodenya tidak sederhana.
Tim terlebih dahulu mengambil sel telur dari Fatu melalui prosedur ovum pick-up atau OPU. Sel telur kemudian dibawa ke laboratorium di Italia untuk dimatangkan dan dibuahi menggunakan sperma beku yang berasal dari pejantan badak putih utara yang telah mati. Embrio yang berhasil terbentuk kemudian disimpan dalam nitrogen cair untuk digunakan pada tahap berikutnya.
Pada awal 2026, prosedur pengambilan sel telur kembali dilakukan terhadap Fatu. Dari prosedur tersebut, ilmuwan berhasil menghasilkan satu embrio baru.
Tambahan itu membuat jumlah embrio badak putih utara murni yang telah berhasil dibuat mencapai 39 embrio.
Masih Ada Satu Masalah Besar
Memiliki embrio saja belum cukup untuk menghidupkan kembali populasi badak putih utara.
Embrio tersebut tetap membutuhkan rahim untuk berkembang hingga lahir. Karena Najin dan Fatu tidak dapat menjalani kehamilan, tim BioRescue menggunakan badak putih selatan sebagai induk pengganti.
Badak putih selatan dipilih karena memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan badak putih utara dan dapat menjadi induk pengganti untuk membawa kehamilan.
Pada paruh kedua 2025, tim BioRescue melakukan tiga transfer embrio badak putih utara ke induk pengganti badak putih selatan. Namun, tidak satu pun percobaan tersebut menghasilkan kehamilan jangka panjang.
Tim kemudian menambah dua betina badak putih selatan yang telah terbukti mampu bereproduksi ke dalam program tersebut untuk memperbesar peluang keberhasilan.
Hingga April 2026, BioRescue telah melakukan enam transfer embrio dalam program badak putih utara. Hasilnya menunjukkan bahwa teknologi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan membutuhkan percobaan lanjutan.
Teknologi Menjadi Harapan Terakhir
Kondisi tersebut membuat penyelamatan badak putih utara berbeda dari program konservasi biasa.
Tidak ada lagi populasi alami yang dapat dijadikan sumber pasangan. Tidak ada pejantan hidup yang dapat digunakan. Bahkan dua betina yang tersisa tidak dapat menghasilkan keturunan secara alami.
Karena itu, ilmuwan berusaha menggabungkan teknologi IVF, transfer embrio, dan penelitian sel punca untuk membangun kembali populasi dari materi genetik yang masih tersedia.
Penelitian ilmiah mengenai program tersebut menyebut dua badak putih utara yang tersisa sebagai betina yang tidak dapat bereproduksi, sehingga teknologi reproduksi berbantuan menjadi salah satu jalan utama untuk mencegah kepunahan subspesies tersebut.
Upaya itu juga tidak hanya menyangkut keberhasilan melahirkan seekor anak badak.
Jika kehamilan berhasil, anak yang lahir nantinya harus tumbuh dan kemudian berkembang biak dengan individu lain yang memiliki materi genetik badak putih utara. Artinya, membangun kembali populasi yang sehat membutuhkan proses panjang dan kemungkinan melibatkan teknologi reproduksi selama beberapa generasi.
Mengapa Najin dan Fatu Tetap Penting?
Meski keduanya tidak lagi dapat berkembang biak secara alami, Najin dan Fatu tetap menjadi bagian penting dari penelitian tersebut.
Fatu menyediakan sel telur yang menjadi sumber utama embrio. Materi genetik dari pejantan yang telah mati menyediakan unsur paternal, sementara teknologi laboratorium memungkinkan keduanya dipertemukan di luar tubuh.
Program ini juga memberikan kesempatan kepada ilmuwan untuk mengembangkan teknik reproduksi yang sebelumnya belum pernah diterapkan secara luas pada badak.
BioRescue mengakui perjalanan tersebut penuh percobaan dan kegagalan. IVF pada badak merupakan prosedur yang kompleks dan belum memiliki sejarah panjang seperti IVF pada manusia. Karena itu, setiap pengambilan sel telur, pembentukan embrio, hingga transfer ke induk pengganti menjadi bagian dari proses belajar ilmiah.
Perburuan Membawa Spesies ke Titik Kritis
Ancaman terhadap badak putih utara tidak muncul secara tiba-tiba.
Perburuan liar untuk mendapatkan cula menjadi salah satu penyebab utama merosotnya populasi badak. Hilangnya habitat juga mempersempit ruang hidup satwa tersebut.
Kondisi itu menunjukkan bahwa teknologi reproduksi hanya menangani satu bagian dari persoalan. Jika populasi baru berhasil dilahirkan, perlindungan habitat dan pencegahan perburuan tetap diperlukan agar generasi berikutnya dapat bertahan.
Di Ol Pejeta, perlindungan terhadap Najin dan Fatu dilakukan secara ketat. Para penjaga konservasi terus mengawasi keduanya sebagai bagian dari upaya mempertahankan dua individu terakhir tersebut.
Harapan Belum Padam
Saat ini, Najin dan Fatu masih menjadi dua badak putih utara terakhir di dunia. Namun, masa depan subspesies tersebut tidak sepenuhnya bergantung pada kemampuan keduanya untuk melahirkan.
Sebanyak 39 embrio yang telah dihasilkan memberikan cadangan materi genetik yang dapat digunakan dalam eksperimen berikutnya. Tantangan terbesar kini adalah membuat salah satu embrio berkembang menjadi kehamilan yang sehat hingga kelahiran.
Jalan menuju keberhasilan masih panjang. Enam transfer embrio sebelumnya belum menghasilkan kehamilan jangka panjang, tetapi penelitian terus berlanjut.
Pada akhirnya, nasib badak putih utara mungkin ditentukan oleh pertemuan antara dua betina terakhir, sperma dari pejantan yang telah mati, embrio yang disimpan di laboratorium, dan seekor induk pengganti dari spesies yang berkerabat dekat.
Di tengah ancaman kepunahan, itulah harapan terakhir yang masih dimiliki dunia.